3 Kuil Ikonik di Chiang Rai Thailand, White Temple hingga Blue Temple yang Menakjubkan!
CHIANG RAI, iNews.id – Menyusuri Chiang Rai, Thailand Utara, tidak lengkap rasanya tanpa mengunjungi kuil-kuil yang menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat. Di wilayah ini, bangunan keagamaan tidak hanya menawarkan suasana spiritual, tetapi juga menyimpan keindahan arsitektur, karya seni, dan cerita sejarah yang menarik untuk dikenali.
Dalam perjalanan menjelajahi Chiang Rai, iNews.id berkesempatan mengunjungi tiga kuil yang memiliki karakter berbeda. Mulai dari Wat Rong Khun atau yang lebih dikenal sebagai The White Temple, Wat Huay Pla Kang dengan patung Dewi Kwan Im yang menjulang tinggi, hingga Wat Rong Suea Ten atau The Blue Temple yang tampil mencolok dengan dominasi warna biru.
Perjalanan ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan ke Chiang Rai bersama Scoot, dengan menginap di Kahavadi Chiang Rai, Curio Collection by Hilton. Lokasi resor yang cukup strategis membuat perjalanan menuju ketiga kuil tersebut terasa praktis. Bersama pemandu wisata bernama Pikul Dee, penulis diajak mengenal lebih dekat setiap destinasi, termasuk cerita di balik bangunan dan karya seni yang menghiasinya.
Bukan sekadar berpindah dari satu kuil ke kuil lain, perjalanan ini justru terasa seperti membuka lembaran berbeda tentang budaya Thailand. Setiap tempat memiliki warna, karakter, dan kisahnya sendiri.
Perhentian pertama adalah Wat Rong Khun, kuil yang begitu mudah dikenali melalui bangunannya yang didominasi warna putih. Dari Kahavadi Chiang Rai, perjalanan menuju tempat ini memakan waktu sekitar 24 menit menggunakan mobil.

Dari kejauhan, bangunan utama kuil sudah terlihat mencolok. Warna putih yang menyelimuti hampir seluruh bagian bangunan berpadu dengan pantulan kaca-kaca kecil yang membuat permukaannya berkilau ketika terkena cahaya matahari.
Tidak mengherankan jika Wat Rong Khun mendapat julukan The White Temple. Namun, keistimewaannya bukan hanya terletak pada warna bangunannya. Setiap detail arsitektur di tempat ini menyimpan simbol dan pesan yang berkaitan dengan ajaran Buddha.
Wat Rong Khun merupakan karya seniman Thailand, Chalermchai Kositpipat. Pembangunan kembali kuil ini dimulai pada 1997 dengan pendekatan seni kontemporer yang memadukan arsitektur tradisional Thailand, seni dekoratif, dan simbol-simbol keagamaan.
Sebelumnya, kuil tersebut merupakan bangunan keagamaan lokal yang kondisinya telah mengalami kerusakan. Chalermchai kemudian mendedikasikan kemampuan artistiknya untuk membangun kembali kompleks tersebut menjadi karya seni sekaligus tempat ibadah.
Salah satu bagian paling menarik terlihat ketika pengunjung berjalan menuju bangunan utama. Sebuah jembatan putih membentang di atas kolam, dengan deretan patung tangan yang seolah-olah menjulur dari bawahnya.

Pemandangan tersebut mungkin terlihat sedikit menyeramkan bagi sebagian orang. Namun, di balik tampilannya, terdapat pesan filosofis tentang penderitaan, keinginan duniawi, dan perjalanan manusia untuk mencapai pembebasan dari siklus kelahiran kembali.
Dalam interpretasi simbolis yang dikenal di Wat Rong Khun, jembatan tersebut menggambarkan perjalanan menuju kebahagiaan dan pencerahan. Sementara itu, tangan-tangan yang menjulur ke atas menjadi gambaran keinginan dan penderitaan manusia yang harus dilepaskan.
Setelah melewati jembatan, perhatian pengunjung akan tertuju pada bangunan utama atau ubosot. Detail ornamen putih yang dipenuhi potongan kaca cermin membuat bangunan ini tampak berkilau dari berbagai sudut.
Bagian atapnya juga dihiasi ornamen khas arsitektur Thailand, termasuk bentuk naga atau Naga yang menjadi salah satu elemen penting dalam seni bangunan tradisional.
Menariknya, Wat Rong Khun tidak hanya menghadirkan simbol-simbol klasik dalam seni Buddha. Di sejumlah bagian kompleks, pengunjung juga dapat menemukan sentuhan seni modern yang menjadi ciri khas karya Chalermchai.

Perpaduan inilah yang membuat kuil ini terasa berbeda. Ada keagungan arsitektur tradisional, tetapi juga keberanian menghadirkan interpretasi seni yang lebih kontemporer.
Hal menarik yang sayang untuk dilewatkan adalah mengunjungi 'golden toilet'. Menurut Pikul, area itu juga bahkan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Bagi penulis, berjalan di antara bangunan serba putih ini menghadirkan pengalaman visual yang sulit dilupakan. Setiap sudut seperti memiliki cerita sendiri, membuat pengunjung ingin berhenti sejenak untuk memperhatikan detail yang mungkin terlewat jika hanya melintas.
Dari The White Temple, perjalanan berlanjut menuju Wat Huay Pla Kang. Jaraknya sekitar 10 menit berkendara dari Kahavadi Chiang Rai.

Jika Wat Rong Khun memikat melalui warna putih yang menyelimuti bangunan dengan detail artistik, Wat Huay Pla Kang menghadirkan daya tarik berbeda melalui kompleks keagamaan yang berdiri di kawasan perbukitan.
Begitu memasuki area kuil, perhatian langsung tertuju pada patung putih berukuran sangat besar yang menjulang di antara bangunan lainnya. Itulah patung Dewi Kwan Im atau Guan Yin, sosok yang dalam tradisi Buddha Mahayana dikenal sebagai Bodhisattva Avalokitesvara, lambang welas asih dan belas kasih.
Patung tersebut memiliki tinggi sekitar 69 meter. Ukurannya yang menjulang membuatnya terlihat begitu dominan, bahkan dari kejauhan.
Warna putih yang mendominasi patung memberikan kesan anggun sekaligus menenangkan. Detail wajah, mahkota, dan ornamen yang menghiasi bagian tubuhnya memperlihatkan pengerjaan artistik yang sangat teliti.

Bagi pengunjung, patung ini bukan hanya menjadi objek yang menarik untuk dilihat, tetapi juga memiliki makna spiritual bagi umat yang datang untuk berdoa dan memberikan penghormatan.
Salah satu keistimewaan Wat Huay Pla Kang adalah pengunjung dapat naik ke bagian dalam patung menggunakan lift untuk melihat pemandangan dari ketinggian. Dari area tersebut, bentang kawasan Chiang Rai bisa dinikmati dari sudut pandang yang berbeda.
Selain patung Kwan Im, kompleks ini juga memiliki bangunan pagoda sembilan lantai bernama Phop Chok Dhamma Chedi. Arsitekturnya memadukan unsur seni Lanna dan Tiongkok. Di bagian tangga, ornamen naga tampak menghiasi sisi kanan dan kiri, memberikan kesan megah sejak pengunjung mendekati bangunan.
Di dalam pagoda terdapat sejumlah patung Buddha dan arhat yang menjadi bagian dari koleksi keagamaan kuil tersebut.
Menariknya, Wat Huay Pla Kang memiliki perjalanan sejarah yang relatif lebih muda dibandingkan sejumlah kuil tradisional di Thailand. Kompleks ini mulai dikembangkan pada 2001 sebagai tempat praktik keagamaan. Kemudian, Phra Achan Phopchok Tissawangso berperan dalam pengembangan fasilitas keagamaan sejak 2005, sebelum tempat ini secara resmi ditetapkan sebagai kuil pada 2009.

Saat berada di sini, penulis merasakan suasana yang berbeda dari perhentian sebelumnya. Area yang luas, bangunan-bangunan megah, serta patung Kwan Im yang menjulang menghadirkan pengalaman tersendiri.
Kunjungan ini juga memberi kesempatan untuk memahami bahwa setiap simbol keagamaan memiliki cerita dan nilai yang dihormati oleh masyarakat setempat. Tidak hanya indah untuk dipandang, tetapi juga menyimpan makna spiritual yang mendalam.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Wat Rong Suea Ten atau The Blue Temple. Dari Kahavadi Chiang Rai, lokasi ini dapat ditempuh hanya sekitar enam menit menggunakan mobil.
Sesuai julukannya, kuil ini tampil dengan dominasi warna biru yang begitu kuat. Berbeda dari The White Temple yang berkilau dengan warna putih dan kaca cermin, The Blue Temple menghadirkan perpaduan biru, emas, serta ornamen khas Thailand yang menciptakan kesan megah.

Warna biru menghiasi hampir seluruh bagian bangunan utama, mulai dari dinding, pilar, hingga detail ornamen di bagian atap. Sentuhan warna emas kemudian memberikan kontras yang membuat setiap ukiran terlihat semakin menonjol.
Keindahan tersebut semakin terasa ketika memasuki area dalam bangunan utama. Sebuah patung Buddha berwarna putih berukuran besar menjadi pusat perhatian. Sosoknya tampak kontras dengan latar interior biru yang dipenuhi lukisan dan ornamen artistik.
Di sinilah penulis sempat mengabadikan momen dengan berfoto bersama patung Buddha besar tersebut. Pengalaman itu terasa istimewa, bukan hanya karena kemegahan bangunannya, tetapi juga karena kesempatan untuk menyaksikan karya seni keagamaan dari jarak dekat.

The Blue Temple memiliki sejarah yang menarik. Nama Wat Rong Suea Ten berasal dari nama kawasan yang dahulu dikenal sebagai Ban Rong Suea Ten atau desa harimau yang menari. Konon, wilayah tersebut pernah dikenal dengan keberadaan harimau yang melompat-lompat di sekitar aliran sungai.
Kuil ini kemudian dibangun atas inisiatif masyarakat setempat yang membutuhkan tempat untuk melaksanakan kegiatan keagamaan. Pembangunannya dirancang oleh seniman lokal Chiang Rai bernama Phuttha Kabkaew, yang juga dikenal sebagai Salan K dan merupakan murid Chalermchai Kositpipat, seniman di balik The White Temple.
Dengan demikian, meski memiliki karakter visual yang berbeda, kedua kuil ikonik ini memiliki keterkaitan melalui dunia seni Chiang Rai.
Salah satu daya tarik lain di dalam The Blue Temple adalah patung Buddha putih yang dikenal sebagai Phra Phuttha Chinnarat Tri Loke Na Thai. Patung tersebut menjadi pusat perhatian ruang utama dan dikelilingi karya seni yang menggambarkan kehidupan Buddha.
Di bagian dinding, lukisan-lukisan berwarna cerah memperlihatkan kisah dan ajaran Buddha. Detailnya begitu kaya sehingga pengunjung tidak hanya menikmati keindahan warna, tetapi juga dapat melihat bagaimana seni digunakan untuk menyampaikan pesan spiritual.

Bagi penulis, The Blue Temple menjadi salah satu perhentian yang paling berkesan. Ada sesuatu yang berbeda ketika berdiri di hadapan patung Buddha besar dengan latar interior biru yang begitu artistik. Suasananya terasa megah, tetapi tetap menghadirkan ketenangan.
Di tempat ini, pengalaman berfoto pun terasa lebih bermakna. Bukan semata-mata membawa pulang gambar yang menarik, melainkan juga mengabadikan momen ketika berhadapan langsung dengan salah satu karya seni keagamaan yang menjadi kebanggaan Chiang Rai.
Di sela perjalanan dari satu kuil ke kuil lainnya, Pikul Dee juga mengajak penulis mampir ke pasar oleh-oleh khas Thailand. Perhentian ini menjadi kesempatan untuk melihat sisi lain Chiang Rai, terutama kehidupan masyarakat dan kerajinan lokal yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan.
Salah satu benda yang langsung menarik perhatian penulis adalah celana gajah atau elephant pants. Pakaian dengan motif gajah dan bahan yang ringan ini memang sempat viral di Indonesia. Modelnya longgar, nyaman dikenakan, dan memiliki motif khas Thailand yang mudah dikenali.
Selain celana gajah, ada pula beragam pernak-pernik yang bisa ditemukan. Mulai dari kerajinan sulam dengan detail pengerjaan yang menarik, aksesori, hingga perhiasan berbahan batu alam.
Beberapa barang bahkan memperlihatkan sentuhan kerajinan tangan yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Thailand. Bagi pencinta suvenir, pasar seperti ini menawarkan pengalaman tersendiri karena pengunjung bisa menemukan benda-benda kecil yang memiliki karakter lokal.
Berjalan di antara kios-kios tersebut juga memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana tradisi dan kreativitas masyarakat setempat hadir dalam berbagai produk sehari-hari.
Mengunjungi tiga kuil di Chiang Rai memberikan pengalaman yang jauh lebih luas daripada sekadar menikmati keindahan bangunan. Wat Rong Khun memperlihatkan bagaimana seni kontemporer dapat berpadu dengan ajaran Buddha. Wat Huay Pla Kang menghadirkan kemegahan patung Kwan Im yang sarat makna welas asih. Sementara Wat Rong Suea Ten memperlihatkan kekayaan seni keagamaan melalui permainan warna biru dan emas.
Di setiap perhentian, penjelasan Pikul Dee membantu penulis memahami cerita yang mungkin tidak langsung terlihat dari bangunan atau ornamen yang dipajang.
Ada satu hal yang terasa menarik dari perjalanan ini. Meski ketiga kuil sama-sama menjadi tempat ibadah umat Buddha, masing-masing memiliki karakter arsitektur, sejarah, dan ekspresi seni yang berbeda. Perbedaan tersebut justru memperlihatkan betapa kayanya warisan budaya Chiang Rai.
Bagi wisatawan, pengalaman ini juga menjadi pengingat bahwa mengunjungi tempat ibadah di negara lain membutuhkan sikap saling menghormati. Ada aturan berpakaian, tata krama, dan kebiasaan setempat yang perlu diperhatikan. Sebab, di balik keindahan yang dapat dinikmati wisatawan, kuil tetap memiliki fungsi utama sebagai ruang sakral bagi umat yang beribadah.
Pada akhirnya, perjalanan menyusuri tiga kuil ikonik ini menjadi salah satu pengalaman yang sulit dilupakan selama berada di Chiang Rai. Ada keindahan yang tertangkap kamera, tetapi ada pula cerita dan nilai kehidupan yang tidak cukup hanya diabadikan dalam sebuah foto.
Dari The White Temple yang memesona, patung Kwan Im yang menjulang di Wat Huay Pla Kang, hingga The Blue Temple yang memikat dengan warna birunya, Chiang Rai memperlihatkan bahwa sebuah perjalanan bisa menjadi ruang untuk mengenal budaya, memahami perbedaan, dan belajar menghargai keyakinan orang lain.
Dan mungkin, itulah salah satu hal paling berharga dari perjalanan: pulang bukan hanya membawa foto dan suvenir, tetapi juga cerita serta pemahaman baru tentang tempat yang pernah dikunjungi.
Editor: Muhammad Sukardi