Bukan Cuma Melihat Candi, Prambanan Tawarkan Festival Budaya dan Spiritual di 2027
JAKARTA, iNews.id – Berkunjung ke Candi Prambanan tak harus selalu tentang menikmati kemegahan arsitektur kuno atau berburu foto dengan latar bangunan bersejarah. Pada awal 2027, wisatawan berkesempatan mengenal sisi lain kompleks candi ini melalui festival budaya dan spiritual yang mengangkat tradisi Hindu.
Prambanan Shiva Festival 2027 akan berlangsung pada 6 Januari hingga 7 Maret 2027. Mengusung tema 'The Holy Month of Shiva for Spiritual, Peace and Harmony', festival ini merangkum dua agenda keagamaan, yakni Shivaratri pada Januari dan Mahashivaratri pada Maret 2027.
Kehadiran festival tersebut menjadi kesempatan untuk melihat Candi Prambanan bukan hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan nilai budaya dan spiritual yang masih hidup. Bagi wisatawan, pengalaman ini dapat menambah perspektif saat menjelajahi salah satu destinasi ikonik di Indonesia.
Candi Prambanan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1991. Kompleks candi bercorak Hindu ini menyimpan nilai sejarah dan arsitektur yang menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan, pemerintah ingin mengembangkan Prambanan agar tidak hanya dikenal sebagai monumen bersejarah, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan spiritual yang dapat diakses masyarakat secara lebih luas.
"Prambanan adalah salah satu situs warisan dunia UNESCO yang sudah ditetapkan oleh UNESCO sejak 1991. Dan Prambanan ini menyimpan kekayaan sejarah, keagungan arsitektur, serta nilai spiritual yang terus hidup dan dirawat hingga hari ini," ujar Ni Luh Puspa saat peluncuran Prambanan Shiva Festival 2027 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Menurut dia, upaya menghidupkan nilai spiritual Prambanan dilakukan dengan memperluas pengenalan tradisi yang berlangsung di kawasan tersebut, tanpa menghilangkan penghormatan terhadap kesakralan tempat ibadah.
"Kami tidak ingin Prambanan ini menjadi hanya sekadar sebagai monumen, tetapi dia harus menjadi monumen yang hidup, yang bisa menjadi ruang edukasi dan juga ruang spiritual. Prambanan tentu sudah melewati perjalanan yang panjang. Ia pernah runtuh, kemudian terlupakan berabad-abad, lalu dipugar batu demi batu dengan kesabaran yang luar biasa. Dan kini, kita bersama-sama bisa menyaksikan Prambanan kembali hidup sebagai tempat suci," paparnya.
Salah satu sisi yang ingin diperkenalkan melalui festival ini adalah tradisi keagamaan Hindu yang telah menjadi bagian dari kehidupan spiritual di kawasan Prambanan.
Selama beberapa tahun terakhir, kegiatan seperti Tawur Agung dan Siwaratri telah berlangsung di kawasan tersebut. Tawur Agung menjadi salah satu ritual keagamaan Hindu, sedangkan Siwaratri merupakan momentum untuk mendekatkan diri kepada Dewa Siwa melalui refleksi dan kegiatan spiritual.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa Prambanan memiliki makna yang melampaui nilai arsitektur dan sejarah. Kawasan ini juga menjadi tempat umat Hindu menjalankan tradisi keagamaan.
Ni Luh Puspa menjelaskan, kegiatan semacam ini perlu terus diperkenalkan agar masyarakat dari berbagai latar belakang dapat memahami nilai budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya.
"Dalam rangka menghidupkan nilai spiritual di Prambanan ini, ada banyak sekali rangkaian keumatan Hindu yang dilakukan di sana. Mulai dari Tawur Agung, yang ini juga sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir dan menjadi ruang berkumpul bagi umat Hindu di wilayah Prambanan. Kemudian juga perayaan Siwaratri, ini juga sudah kita lakukan dalam beberapa tahun terakhir," tuturnya.
Pemerintah berharap festival tersebut dapat memperluas kesempatan masyarakat untuk mengenal tradisi Hindu sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian situs bersejarah.
"Dan sekarang kami ingin memperluasnya, karena tentu saja kami tidak ingin ini terlalu eksklusif. Kami ingin ini menjadi ruang yang lebih inklusif, bukan karena kami ingin mengobral, tetapi karena kami ingin semua orang tahu, semua orang mengerti, semua orang memahami, sehingga semua orang mencintai dan semua orang akhirnya turut merawat ruang atau tempat yang begitu indah, begitu agung, Candi Prambanan,” jelas dia.
Festival ini juga sejalan dengan perkembangan tren perjalanan yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan ke destinasi populer. Wisatawan semakin memiliki beragam pilihan pengalaman, mulai dari mengenal budaya lokal hingga mengikuti perjalanan yang berkaitan dengan refleksi diri dan spiritualitas.
Mengutip Global Wellness Economy Monitor 2025, minat wisatawan terhadap pengalaman yang menghubungkan mereka dengan budaya lokal, alam, serta perjalanan ziarah dan retret spiritual terus meningkat. Sementara itu, Indonesia Tourism Outlook 2026–2027 menempatkan *event tourism* atau pariwisata berbasis acara sebagai salah satu tren utama perjalanan di Indonesia.
Melalui festival ini, Prambanan berpotensi menawarkan pengalaman yang lebih beragam bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Kunjungan tidak hanya berpusat pada keindahan bangunan candi, tetapi juga pada pemahaman mengenai tradisi yang menyertainya.
Peluang tersebut hadir di tengah pertumbuhan perjalanan wisata di Indonesia. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842,15 juta perjalanan, tumbuh 4,29 persen. Adapun kunjungan wisatawan mancanegara tercatat 10,58 juta, meningkat 5,38 persen.
India menjadi salah satu pasar yang turut dibidik dalam pengembangan festival ini. Jumlah kunjungan wisatawan dari negara tersebut meningkat dari 606.439 pada 2023 menjadi 734.490 pada 2025.
Untuk memperluas jangkauan pasar internasional, Kementerian Pariwisata berkolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar India di Indonesia dalam mempromosikan Prambanan Shiva Festival 2027.
"Promosi melalui pemasaran ke India sudah dilakukan, kemudian ke Paris, dan bulan depan akan kami bawa ke WTM London. Selain itu, kami juga berkolaborasi dengan Kedutaan Besar India agar jangkauan promosi terkait Prambanan Shiva Festival ini bisa jauh lebih luas," pungkas Ni Luh Puspa.
Prambanan Shiva Festival 2027 dijadwalkan berlangsung selama sekitar dua bulan, mulai 6 Januari hingga 7 Maret 2027. Rangkaian festival mencakup Shivaratri pada Januari dan Mahashivaratri pada Maret.
Wisatawan yang berencana berkunjung pada periode tersebut dapat memantau informasi resmi mengenai jadwal kegiatan, akses kawasan, dan ketentuan kunjungan menjelang pelaksanaan festival.
Dengan menggabungkan pengenalan tradisi, edukasi budaya, dan nilai spiritual, festival ini menjadi salah satu agenda yang dapat memperkaya pengalaman wisata di Prambanan pada awal 2027.
Lebih dari sekadar destinasi untuk menikmati peninggalan masa lalu, Prambanan menyimpan kisah dan tradisi yang masih memiliki arti bagi masyarakat hingga kini. Melalui pengalaman wisata yang tetap menghormati kesakralan kawasan, warisan tersebut diharapkan semakin dikenal sekaligus terjaga keberlangsungannya.
Editor: Muhammad Sukardi