Dari Singapura hingga Semarang, Pengalaman Lokal Jadi Daya Tarik Baru Wisatawan
JAKARTA, iNews.id - Pengalaman lokal semakin menjadi bagian penting dalam perjalanan wisata. Wisatawan tidak hanya mencari tempat untuk menginap, tetapi juga aktivitas, kuliner, budaya, hingga suasana yang membuat perjalanan terasa lebih berkesan.
Perubahan tersebut terlihat dari perkembangan industri hospitality di sejumlah destinasi, mulai dari Singapura hingga kota-kota di Indonesia. Hotel dan kawasan wisata kini tidak hanya menawarkan fasilitas menginap, tetapi berupaya menghadirkan pengalaman yang terhubung dengan karakter destinasi.
Di Singapura, misalnya, Resorts World Sentosa (RWS) tengah memasuki fase transformasi melalui pengembangan RWS 2.0. Kawasan wisata terpadu di Pulau Sentosa itu menghadirkan berbagai atraksi, hotel, kuliner, hiburan, dan pengalaman gaya hidup.
Sejumlah pengalaman baru seperti Minion Land di Universal Studios Singapore, perluasan Singapore Oceanarium, serta hadirnya destinasi gaya hidup WEAVE dan The Laurus, a Luxury Collection Resort, menjadi bagian dari pengembangan tersebut.
Bagi wisatawan Indonesia yang sudah cukup familiar dengan Singapura, kehadiran pengalaman baru menjadi salah satu cara untuk menawarkan alasan berbeda dalam mengunjungi destinasi yang sama.
Pola serupa juga terlihat di Indonesia. Perkembangan kawasan dan konektivitas membuat sejumlah wilayah mulai menawarkan pengalaman wisata yang tidak hanya berpusat pada kota-kota utama.
Di Jawa Barat, Padalarang misalnya, berkembang seiring dengan hadirnya akses kereta cepat Whoosh. Kawasan Kota Baru Parahyangan menjadi salah satu titik perkembangan baru di Bandung Barat yang mempertemukan kebutuhan perjalanan wisata dan bisnis.
Kehadiran Hilton Padalarang Bandung dengan 218 kamar turut menjadi bagian dari perkembangan kawasan tersebut. Lokasinya sekitar 10 menit dari Stasiun Kereta Cepat Whoosh Padalarang dan sekitar 30 menit dari pusat Kota Bandung.
Sementara itu, pengalaman yang lebih dekat dengan alam ditawarkan di kawasan Gunung Geulis, Bogor. Berada di dataran tinggi yang relatif mudah dijangkau dari Jakarta, kawasan tersebut menjadi pilihan untuk wisatawan yang mencari suasana berbeda tanpa harus melakukan perjalanan terlalu jauh.
Salah satu properti di kawasan itu, Angsana Bogor Gunung Geulis, mengembangkan pengalaman yang berkaitan dengan alam dan wellness. Aktivitas seperti yoga di ruang terbuka, spa, kebun tanaman herbal dan rempah organik, hingga fasilitas untuk keluarga menjadi bagian dari pengalaman menginap.
Di Semarang, pendekatan berbeda muncul melalui pengalaman yang mengangkat unsur sejarah dan budaya lokal.
KoenoKoeni Hotel Semarang mengembangkan konsep hospitality yang terhubung dengan koleksi barang antik, craftsmanship, serta cerita mengenai warisan lintas generasi. Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pengalaman menginap, kuliner, hingga ruang yang membawa nuansa sejarah Semarang.
Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa pengalaman lokal tidak selalu berarti aktivitas wisata tradisional. Karakter sebuah destinasi juga dapat hadir melalui makanan, desain, sejarah, alam, maupun cara sebuah hotel berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Direktur SCOP3 Group Ronald Liem mengatakan setiap merek hospitality memiliki karakter dan cerita yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan komunikasi yang sesuai dengan audiens.
"Setiap merek hospitality memiliki cerita unik yang ingin disampaikan, baik itu transformasi sebuah destinasi, karakter lingkungan sekitarnya, warisan di balik sebuah konsep, maupun cara baru untuk menikmati tempat yang sudah dikenal," ujar Ronald dalam keterangannya, Selasa (22/9/2026).
Menurut dia, tantangan industri hospitality saat ini bukan hanya mendapatkan perhatian, tetapi memahami hal yang membuat sebuah destinasi atau merek tetap relevan bagi audiens.
Perubahan tersebut sejalan dengan semakin banyaknya pilihan perjalanan yang tersedia bagi wisatawan. Destinasi, hotel, restoran, dan berbagai pengalaman wisata harus memiliki alasan yang membuat wisatawan tertarik untuk datang sekaligus memiliki pengalaman yang berbeda.
Dengan demikian, perjalanan wisata perlahan tidak lagi hanya soal ke mana wisatawan pergi, tetapi juga apa yang mereka rasakan dan lakukan selama berada di sana.
Dari atraksi baru di Singapura, perkembangan kawasan Bandung Barat, pengalaman alam di Bogor, hingga narasi budaya di Semarang, karakter lokal menjadi salah satu cara bagi destinasi dan pelaku hospitality untuk menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih beragam.
Editor: Muhammad Sukardi