Jaga Kedaulatan Negara di Daerah Perbatasan lewat Senyuman Tegak
NUNUKAN, iNews.id – Suasana Garis Batas Negara (GBN) di kawasan Patok 3, RT 02/01, Dusun Abadi, Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara ini tampak sibuk. Beberapa orang warga tampak mengantre menunggu antrean dari pos penjagaan.
Aktivitas ini bukanlah hal yang tabu. Sekalipun sederhana, namun empat tentara dari Yonif Raider 613 Raja Alam, Tarakan tampak berjaga. Satu per satu barang bawaan diperiksa, mulai dari isi kantong, tas, hingga karung-karungan.
Seorang tentara tampak bersiaga dengan sepucuk senjata yang digenggamnya, jari telunjuk tangan kanannya tepat di pelatuk, sementara tangan kirinya memegang selonsong.
Beberapa tentara lainnya, tampak melakukan pengecekan, mulai dari kartu identitas, tujuan, hingga waktu kunjungan. Ada pula yang melakukan pencatatan di lembar buku besar, sedangkan satu tentara lain melakukan pengecekan barang.
“Ada keperluan apa macik ke Indonesia,” ucap Pratu Sonny yang bertanya ke seorang pelintas, Rabu 17 Oktober 2018.
Meskipun tampak bertanya sporadis, namun senyuman selalu terumbar dari wajah-wajah tentara ini. Sesekali keramahan melalui canda tawa terlihat, para pelintas pun tak merasa canggung dan tertekan.
DanPos Aji Kuning (Patok 3), Sertu Imansyah Ramadhani mengatakan meskipun ramah, namun pihaknya tetap waspada. Berlokasi tak jauh dari wilayah negara lain, ancaman kedaulatan dan penyelundupan barang bisa terjadi setiap waktu. Karena itu, penjagaan ketat dilakukan pihaknya di wilayah ini.
“Kita akan cek dokumennya. Seperti KTP maupun passport. Kalau kendala tak punya passport atau KTP mati, kita arahkan terlebih dahulu untuk mengurus perbaikan passport tersebut. Dan untuk warga Malaysia yang mau menuju ke sini, otomatis kita laporan ke sini juga dan kita cek juga berkas-berkasnya seperti dokumen. Jadi, apabila mereka tidak punya passport atau KTP, kita minta mereka buat passport dahulu untuk dikembalikan ke negaranya masing masing,” kata Sertu Irmansyah di lokasi.
Sudah hampir dua bulan lamanya Irmansyah berjaga di kawasan Pulau Sebatik. Rasa rindu mendalam kepada ibu di Balikpapan sering kali datang. Sesekali dirinya memanfaatkan waktu senggang untuk melakukan video call saat lepas dinas. Sekadar ‘say hello’ dan menanyakan kabar orangtua dilakukan pria berumur 25 tahun ini.
“Untungnya sih belum menikah,” katanya diiringi tawa kecil.
Sebagai tentara penjaga perbatasan, Sertu Irmansyah dituntut untuk bersiaga penuh 24 jam. Setiap hari dia pun melakukan penjagaan, pengecekan keluar masuk orang dan barang dilakukan. Salah sedikit, ancaman kedaulatan bisa terjadi.
Karena itu untuk memaksimalkan peran anggota, dia sering kali berkomunikasi dengan sejumlah warga, termasuk para pemuda dan tukang ojeg. Arahan untuk warga Malaysia maupun warga Indonesia yang melintas dilakukan agar terlebih dahulu melewati pos ini.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri, perlu peran serta warga,” ucapnya sembari mengatakan 60 orang bisa melintas setiap harinya.
Di Pulau Sebatik sendiri, ada 1 SSK berjumlah 72 orang. Mereka tersebar di empat pos, mulai dari Tanjung Aru, Aji Kuning, Bukit Kramat, dan Pos Bambangan. Tak hanya Yonif Raider saja yang berjaga, ada pula dari Satuan Marinir, dan Polri yang ikut melakukan penjagaan. Kondisi pos di Sebatik cukup memprihatinkan, hanya satu pos berukuran 2x3 meter berwarna hijau yang terlihat di kawasan ini.
Tak ada mesin x ray, anjing penjagaan, maupun petugas imigrasi yang melakukan pengecekan. Sistem perlintasan masih dilakukan secara manual yang mengandalkan buku besar yang ada di meja pos.
Kondisi terik menyengat terlihat, tak ada pendingin ruangan (AC) di kawasan ini. Kesejukan hanya berasal dari Kipas Angin kecil berwarna biru yang dinyalakan setiap pagi.
Meskipun dengan kondisi terbatas, namun para tentara garda depan bangsa bersiaga. Mereka tetap menjalani tugas dengan senyuman, sapa dan keramahan terlihat dari wajahnya. Senjata hitam laras panjang di tentang sebagai bentuk kesiapsiagaan.
Patroli Rutin
Untuk menjaga kedaulatan dan memaksimalkan peran anggota, patroli rutin dilakukan sejumlah anggota. Penyisiran terhadap patok-patok dilakukan bergantian. Para tentara menyisir dan berjalan kaki selama seharian penuh ke setiap patoknya.
Kondisi berbukit rawa, jalan terjal, hingga hutan sering mereka lintasi. “Kami cek melalui koordinat setiap patoknya,” ucap Iramansyah yang mengakui beberapa patok mengalami rusak.
Patok di kawasan Indonesia dan Malaysia sendiri terdiri dari empat jenis, mulai beton panjang, beton kerucut, hingga tiang segitiga. Kemungkinan bergeser tak mungkin terjadi lantaran sudah diukur melalui titik koordinat tipe A, B, C dan D.
Asisten Deputi Pengelolaan Batas Negara Wilayah Darat, Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara (BNPP), Indra Purnama mengakui kalau kondisi di Sebatik jauh berbeda dengan kondisi di tujuh Pos Lintas Batas yang kini megah.
Meski demikian, terhadap pos garis batas di Pulau Sebatik, pihaknya bersama dengan Kementerian PUPR tengah merancang pembangunan pos megah di kawasan Sai Pancang atau Sungai Nyamuk yang berlokasi tak jauh dari patok tiga.
Master plan pembangunan telah jadi dan siap di groundbreaking pada 2019 atau 2020 mendatang. Di pos ini nantinya memiliki teknologi modern dengan dilengkapi mesin X ray, petugas imigrasi, anjing pelacak, dan petugas yang lengkap.
“Sementara ini kita hanya mengandalkan pos pantas yang tugasnya kita gandakan untuk pemeriksaan dokumen pelintas. Ke depan, kita akan fungsikan kembali seperti semula, tugas-tugas pengamanan pos bagi yang melintas secara tradisional,” kata Indra.
Indra mengakui, tanpa adanya pos pantau akan mengancam kedaulatan negara dan penyelundupan barang, mulai dari narkoba, senpi ilegal maupun lainnya. Karena itu, pembangunan pos lintas harus dilakukan, seiring dengan misi Presiden Joko Widodo yang meminta pembangunan dimulai dari perbatasan negara.
Di perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia, Indra mencatat sedikitnya ada 20.318 patok yang tersebar dari ujung barat pulau Kalimantan hingga kawasan Pulau Sebatik di timur Pulau Kalimantan. Kondisi patok dalam kondisi memprihatinkan, mulai banyak yang rusak, miring, hingga tenggelam oleh lumpur dan air karena berlokasi di rawa.
Terhadap hal itu, BNPP maupun Penjaga Perbatasan tak bisa berbuat banyak. Pembenahan patok termasuk pengecetan baru bisa dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dua negara.
“Jadi sangat rawan hukumnya kalau antar patok jika tidak dilakukan pemeliharaan secara berkala,” katanya.
Meski demikian, dia yakin sekalipun rusak tidak akan membuat wilayah Indonesia bergeser. Sebab, pengecekan melalui titik koordinat terus dilakukan pihaknya, termasuk dengan patroli dan rekonstruksi ulang.
Terlebih dalam penempatan patok. Baik Indonesia dan Malaysia menganut sistem Uti Possidetis Juris yang artinya penempatan patok ditentukan berdasarkan hasil kesepakatan Inggris dan Belanda yang terjadi di masa kolonial.
“Sampai saat ini pegangan bagi kedua negara itu disepakati. Tinggal pengamanannya dari dua belah pihak. Selama ini kerja sama dan koordinasi bagus,” kata Indra.
Indra kemudian merujuk dari satu wilayah di kawasan Simanggaris di Kalimantara Utara sisi timur Pulau Kalimantan. Di sana keberagamaan Indonesia dan Malaysia terlihat jelas dengan adanya pos gabungan antar dua tentara. Pos ini menunjukan antara Indonesia dan Malaysia tidak masalah.
Warga Aman
Sikap sama juga diungkapkan Hasmianah (61) yang sudah hampir 40 tahun tinggal di kawasan Aji Kuning. Rumahnya yang sekitar 20 meter dari pos pantau ini cukup unik. Ruang tamu dan dua kamarnya berada di wilayah Indonesia. Sementara dapur dan kamar belakang berada di Malaysia dan tepat di sungai Limau yang menjadi batas kedua negara.
Selama berpuluh tahun tinggal di perbatasan, Hasmianah mengakui hidup rukun bertetangga sangat terasa. Orang Malaysia yang saling menjaga sopan santun, begitu dirinya yang kerapa kali menawarkan makanan terhadap tetangganya di seberang sungai.
Termasuk saat perayaan Hari Kemerdekaan, Hasmianah tak sungkan untuk mengibarkan bendera Indonesia sebagai wujud dirinya cinta Tanah Air.
“Jadi biar sebagian rumah saya ada di Malaysia, tapi hati saya dan raga saya untuk Indonesia,” kata Hasmianah yang mengaku cinta Tanah Air.
Rawan Penyelundupan
Terpisah, Sekretaris Daerah Pemkab Nunukan Serfianus menjelaskan, dari 19 kecamatan di wilayahnya, 15 kecamatan berbatasan langsung dengan Malaysia. Kondisi ini membuat daerahnya cukup rawan.
“Pelintasan Nunukan pintu keluar masuk untuk TKI yang sementara ini sudah turun-temurun pelintasan di sini,” ucap Serfianus saat ditemui di ruang kerjanya.
Serfianus melanjutkan, kondisi wilayahnya yang berbatasan langsung membuat persoalan TKI bukan menjadi hal yang baru. Dia tak menampik banyak pekerja Indonesia yang masuk ke Malaysia melalui jalur tikus dan tak memiliki dokumen resmi.
Karena itu, untuk mengawasi hal ini dibutuhkan aparatur di Kabuten Nunukan dan Instansi Vertikal untuk melakukan pengawasan. Pelintas wajib disertai dokumen yang lengkap. Sebab, kalau dokumenya tidak lengkap akan menjadi masalah ketika memasuki wilayah Malaysia.
Head Of Marketing MNC Travel, Diana Ring melihat kondisi garis batas Indonesia merupakan potensi unik untuk dijadikan lokasi wisata. Dengan menjadikan kawasan perbatasan menjadi lokasi wisata, maka akan menumbuhkan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Dan kita mau membantu untuk mengeksplor lore apa saja yang dikerjakan atau pengelolaan BNPP sendiri. Potensi garis batas maupun pelintas,” ucap Diana.
Terhadap kondisi itu, Diana mengakui dirinya telah bekerja sama dengan BNPP yang merupakan corporate klien MNC Travel. Dalam hal ini, MNC berkomitmen untuk menjelajah kawasan perbatasan, termasuk mengelola apa yang dilakukan BNPP seperti mengecek koordinat patok dan menyisir garis batas.
Editor: Tuty Ocktaviany