Keindahan Chiang Rai, Harta Karun dari Thailand Utara yang Wajib Dikunjungi
JAKARTA, iNews.id - Ada banyak cara untuk mengenal sebuah kota. Di Chiang Rai, Thailand utara, perjalanan bisa dimulai dari kuil berarsitektur tak biasa, berlanjut ke studio keramik milik seniman lokal, mencicipi makanan khas yang kaya rasa, hingga mencoba Muay Thai di tengah taman yang rimbun.
Kota yang berada di bagian paling utara Thailand ini menyimpan kejutan di setiap persinggahan. Apa harta karun yang ada di wilayah ini?
Chiang Rai memang tidak seramai Bangkok atau sepopuler Chiang Mai, tetapi justru di situlah daya tariknya. Suasananya relatif tenang, lanskapnya menghadirkan udara pegunungan, sementara warisan budaya dan kesenian lokal terasa kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Selama beberapa hari menjelajahi Chiang Rai bersama Scoot, penulis berkesempatan melihat kota ini dari berbagai sisi. Kahavadi Chiang Rai, Curio Collection by Hilton, menjadi tempat menginap sekaligus titik awal untuk menikmati pengalaman yang lebih dekat dengan karakter Thailand utara.
Perjalanan ini bukan sekadar mengumpulkan destinasi untuk dikunjungi. Ada cerita tentang tradisi, kepercayaan, kreativitas, hingga cara masyarakat setempat merawat warisan budaya mereka.
Salah satu cara terbaik untuk mengenal Chiang Rai adalah dengan mengunjungi kuil-kuilnya. Namun, jangan membayangkan semua tempat ibadah di sini memiliki tampilan serupa. Tiga kuil yang dikunjungi penulis justru memperlihatkan bagaimana tradisi, seni, dan ekspresi spiritual dapat hadir dalam bentuk arsitektur yang sangat berbeda.
Bersama pemandu wisata Pikul Dee, perjalanan dimulai menuju Wat Rong Khun atau yang lebih dikenal sebagai The White Temple. Dari Kahavadi Chiang Rai, perjalanan menggunakan mobil memakan waktu sekitar 24 menit.

Begitu tiba, bangunan serba putih dengan detail kaca berkilau langsung mencuri perhatian. Kompleks kuil ini merupakan karya seniman Thailand Chalermchai Kositpipat, yang mulai membangun kembali kuil tersebut pada 1997. Arsitekturnya memadukan unsur tradisional Thailand dengan pendekatan seni kontemporer.
Warna putih mendominasi hampir seluruh bangunan. Pantulan kepingan kaca yang tertanam pada permukaannya membuat kuil terlihat berkilau ketika terkena cahaya matahari. Sebuah jembatan menuju bangunan utama juga menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian pengunjung.
Wat Rong Khun terasa berbeda dari kuil yang biasanya dijumpai wisatawan. Tempat ini memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi medium untuk menyampaikan gagasan spiritual. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat bangunan indah, tetapi juga menikmati karya seni yang memiliki makna simbolis.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Wat Huay Pla Kang. Jaraknya sekitar 10 menit berkendara dari Kahavadi Chiang Rai. Dari kejauhan, kompleks kuil ini sudah terlihat mencolok berkat patung Dewi Kwan Im atau Guan Yin berukuran sangat besar.
Patung Avalokitesvara tersebut memiliki tinggi sekitar 69 meter. Sosoknya berdiri megah dan menjadi salah satu penanda visual paling mudah dikenali dari kompleks Wat Huay Pla Kang.
Di kawasan yang sama, terdapat pagoda sembilan lantai dengan perpaduan gaya arsitektur Lanna dan Tiongkok. Detail ornamen serta patung naga di bagian tangga menambah kesan megah. Kompleks ini memberikan pengalaman berbeda dari The White Temple, terutama melalui perpaduan unsur budaya dan simbol keagamaan yang terlihat pada bangunannya.

Setelah itu, perjalanan menuju Wat Rong Suea Ten atau The Blue Temple hanya membutuhkan sekitar enam menit berkendara dari Kahavadi. Warna biru dan emas menjadi ciri paling menonjol dari kuil ini.
Bagian dalamnya dihiasi ornamen serta mural dengan detail yang menarik untuk diamati. Patung Buddha berwarna putih menjadi pusat perhatian, menciptakan kontras yang kuat dengan dominasi biru pada interior bangunan.
Nama Wat Rong Suea Ten sendiri berkaitan dengan kisah lokal tentang harimau yang melompati aliran air di kawasan tersebut. Kuil ini dirancang oleh seniman lokal Chiang Rai, Phuttha Kabkaew, yang juga dikenal sebagai Salan K.
Di tempat ini, penulis sempat mengabadikan foto bersama patung Buddha berukuran besar. Di antara tiga kuil yang dikunjungi, masing-masing menawarkan pengalaman visual yang berbeda, tetapi semuanya memperlihatkan hubungan erat antara seni dan kehidupan spiritual masyarakat Thailand.
Mengunjungi kuil-kuil tersebut membuat perjalanan terasa lebih dari sekadar wisata arsitektur. Tempat ibadah juga menjadi ruang untuk mengenal kebudayaan, memahami tradisi, serta belajar menghormati perbedaan keyakinan dan cara masyarakat mengekspresikan spiritualitasnya.
Chiang Rai juga menyimpan daya tarik di luar kuil-kuil megahnya. Salah satunya adalah Doy Din Dang Pottery, studio keramik yang memperlihatkan sisi kreatif kota ini.
Tempat tersebut terasa seperti ruang pertemuan antara seni, alam, dan kehidupan sehari-hari. Pengunjung dapat melihat berbagai karya keramik yang dibuat dengan sentuhan tangan perajin. Suasananya pun berbeda dari tempat wisata yang dipenuhi bangunan besar atau atraksi komersial.

Salah satu sudut yang menarik perhatian adalah dinding yang dihiasi pecahan keramik. Susunannya menghadirkan tekstur dan komposisi visual yang unik. Tak heran jika sejumlah pengunjung, terutama anak muda, terlihat memanfaatkan area tersebut sebagai latar berfoto.
Di beberapa sudut, berbagai produk keramik dipajang, mulai dari cangkir hingga benda-benda dekoratif. Penulis juga melihat cangkir keramik yang ditawarkan sekitar 250 baht, sementara produk berukuran lebih kecil tersedia dengan harga lebih rendah.
Ada pula kafe yang tersembunyi di dalam kawasan studio. Setelah melihat-lihat karya keramik, pengunjung bisa beristirahat sejenak sambil menikmati suasana yang tenang.
Menariknya, untuk masuk ke kawasan Doy Din Dang Pottery, pengunjung tidak dikenakan biaya tiket. Tempat ini menjadi persinggahan yang menyenangkan bagi pencinta seni, fotografi, maupun wisatawan yang ingin melihat sisi lain Chiang Rai.
Perjalanan menjelajahi Chiang Rai juga membawa penulis singgah di pasar suvenir Thailand. Di antara berbagai barang yang dijajakan, ada satu produk yang langsung terasa akrab bagi wisatawan Indonesia, celana gajah.
Celana bermotif gajah dengan bahan ringan dan potongan longgar ini memang populer sebagai pakaian santai. Di pasar tersebut, modelnya hadir dalam beragam warna dan motif.
Selain celana gajah, pengunjung dapat menemukan kerajinan bordir, aksesori, pernak-pernik, hingga produk yang menggunakan batu alam. Beberapa di antaranya cocok dijadikan buah tangan karena memiliki sentuhan khas kerajinan lokal.
Berjalan menyusuri lapak-lapak pasar seperti ini memberi pengalaman yang berbeda. Wisatawan bisa melihat barang yang digunakan masyarakat setempat, berbincang dengan penjual, sekaligus menemukan suvenir yang tidak selalu dijumpai di pusat perbelanjaan besar.

Chiang Rai juga menawarkan pengalaman yang membuat penulis mencoba keluar dari kebiasaan wisata pada umumnya. Kali ini, bukan berjalan-jalan atau berbelanja, melainkan berlatih Muay Thai.
Kesempatan tersebut hadir di Kahavadi Chiang Rai. Sesi latihan berlangsung selama sekitar satu jam bersama Kru Chai, pelatih yang mendampingi peserta pemula mengenal dasar-dasar bela diri khas Thailand tersebut.
Latihan dilakukan di area luar ruangan dengan suasana taman resor yang rimbun. Pagi itu, udara terasa sejuk. Suara burung terdengar dari pepohonan, sementara embun masih membasahi rumput. Suasana yang tenang terasa kontras dengan gerakan-gerakan Muay Thai yang membutuhkan tenaga dan konsentrasi.
Sebagai olahraga bela diri asal Thailand, Muay Thai dikenal menggunakan kombinasi pukulan, tendangan, siku, dan lutut. Dalam sesi pemula ini, penulis diajak mengenal gerakan dasar dan mengikuti arahan pelatih secara bertahap.
Latihan tersebut menjadi pengalaman yang cukup menantang, terutama bagi mereka yang belum terbiasa dengan gerakan bela diri. Namun, pendampingan pelatih membuat sesi ini terasa lebih mudah diikuti.
Setelah latihan, pengalaman berlanjut dengan ice bathing. Berendam dalam air dingin menjadi penutup yang memberi sensasi berbeda setelah tubuh bergerak aktif selama satu jam.
Bagi wisatawan yang ingin menyelipkan aktivitas fisik dalam agenda perjalanan, mencoba Muay Thai bisa menjadi cara menarik untuk mengenal salah satu tradisi olahraga Thailand secara langsung.
Perjalanan ke suatu tempat rasanya belum lengkap tanpa mencicipi makanan lokal. Di Kahavadi Chiang Rai, pengalaman kuliner menjadi bagian tersendiri yang menyenangkan.
Setibanya di resor, penulis disambut dengan Dragon Blood Tea, minuman herbal berwarna merah pekat yang disajikan dingin. Seduhan ini dibuat dari kulit batang Dracaena cambodiana, tanaman lokal yang dikenal dalam tradisi herbal masyarakat Thailand utara. Minuman tersebut hadir bersama Homemade Nang Lae Pineapple Cookie, kue nanas buatan sendiri yang menjadi teman menikmati welcome drink.

Perpaduan minuman herbal dan kudapan nanas ini menjadi sambutan pertama yang menarik. Setelah perjalanan panjang, Dragon Blood Tea terasa menyegarkan, sementara kue nanas memberikan sentuhan manis sebagai pendampingnya.
Pengalaman berikutnya berlanjut di Larderley. Di restoran ini, penulis mencicipi beberapa hidangan, termasuk Tom Yum Kung, Pad Thai, mango sticky rice with coconut ice cream, dan kanom wong.
Tom Yum Kung hadir dengan karakter rasa asam, pedas, dan gurih yang menjadi ciri khas sup Thailand. Sementara Pad Thai menawarkan mi tumis dengan perpaduan rasa gurih dan sedikit manis.
Untuk pencuci mulut, mango sticky rice with coconut ice cream menjadi salah satu sajian yang menarik. Ketan pulen, mangga, dan es krim kelapa berpadu menghadirkan kombinasi tekstur serta rasa yang menyenangkan. Ada pula kanom wong, kudapan tradisional Thailand berbentuk menyerupai cincin.
Saat ingin menikmati suasana yang lebih santai, penulis mencoba dua racikan minuman di The Ledger Bar, yakni The Crimson Cocktail dan The Invisible Cargo. Keduanya menjadi bagian dari pengalaman bersantai di bar resor setelah menjelajahi berbagai destinasi di Chiang Rai.
Sementara itu, pengalaman bersantap yang berbeda hadir di Tasabiang melalui sesi fine dining. Seluruh hidangan disiapkan oleh Chef Kritphan Jitmanowan, Chef de Cuisine Kahavadi Chiang Rai.
Setiap sajian ditampilkan dengan penataan yang begitu cermat. Komposisi makanan di atas piring terlihat indah, memperlihatkan perhatian terhadap detail yang menjadi bagian dari pengalaman fine dining. Tak hanya memanjakan mata, hidangan yang disajikan juga terasa nikmat ketika dicicipi.
Rangkaian pengalaman kuliner ini memperlihatkan bahwa perjalanan mengenal Chiang Rai juga bisa dilakukan melalui meja makan. Dari minuman herbal, hidangan khas Thailand, hingga sajian fine dining, setiap pengalaman menghadirkan cerita rasa yang berbeda.

Di tengah perjalanan menjelajahi berbagai destinasi, Kahavadi Chiang Rai menjadi tempat untuk kembali beristirahat dan menikmati suasana yang lebih tenang.
Resor yang menjadi tempat penulis menginap ini menghadirkan pengalaman berbeda dari hiruk-pikuk kota.
Area hijau dan suasana yang sejuk menjadi bagian dari keseharian selama berada di sana. Beberapa aktivitas pun bisa dinikmati tanpa harus pergi jauh, mulai dari mencicipi kuliner, mencoba Muay Thai, hingga bersantai di bar.
Bagi penulis, pengalaman menginap di Kahavadi bukan hanya tentang memiliki tempat untuk melepas lelah setelah berwisata. Resor ini juga menjadi titik awal untuk mengenal berbagai sisi Chiang Rai melalui aktivitas dan sajian yang tersedia.
Chiang Rai mungkin belum selalu menjadi pilihan pertama ketika orang merencanakan perjalanan ke Thailand. Namun, kota di bagian utara negara tersebut menyimpan banyak alasan untuk dikunjungi.
Ada kuil dengan arsitektur yang memikat, studio keramik yang memperlihatkan kreativitas seniman lokal, pasar suvenir yang menawarkan beragam kerajinan, hingga kesempatan mencoba Muay Thai yang menjadi bagian dari budaya Thailand.
Belum lagi pengalaman kulinernya, yang memungkinkan wisatawan mengenal karakter daerah melalui rasa dan tradisi makanan.

Dari satu tempat ke tempat lain, Chiang Rai memperlihatkan bahwa kekayaan sebuah destinasi tidak selalu diukur dari seberapa ramai atau terkenalnya tempat tersebut. Terkadang, justru pengalaman yang lebih tenang, perjumpaan dengan budaya lokal, dan kesempatan mencoba sesuatu yang baru membuat perjalanan terasa lebih bermakna.
Chiang Rai adalah harta karun Thailand utara yang layak dijelajahi perlahan. Sebab, di balik setiap kuil, karya seni, aktivitas, dan sajian di meja makan, selalu ada cerita yang menunggu untuk ditemukan.
Jika Anda tertarik untuk mengunjungi kota ini, salah satu maskapai yang menyediakan rute perjalanan adalah Scoot. Keberangkatan dari Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, lalu transit di Singapura, baru kemudian mendarat di Chiang Rai.
Jika Anda mendapat jam keberangkatan pagi hari dari Singapura, maka Yotelair Singapore Changi bisa menjadi hotel transit untuk Anda pilih. Berada di Changi Airport, memungkinkan Anda membutuhkan waktu lebih singkat untuk bersiap dan tiba di pintu keberangkatan.
So, perjalanan ke Chiang Rai, Thailand, terasa spesial karena bukan hanya mengunjungi destinasi wisata mainstream, tapi bisa mengenal budaya dan kebiasana lokal yang begitu tenang. Happy traveling!
Editor: Muhammad Sukardi