Kesaksian Panji tentang Makhluk Halus Penjaga Rimba
JAKARTA, iNews.id - Bagi Panji, hutan bukan sekadar ruang petualangan, melainkan wilayah hidup yang memiliki kesadaran dan aturan sendiri. Sejak kecil, dia terbiasa menyusuri rimba dan merasakan ada energi lain yang turut mengawasi setiap langkah manusia.
Dalam Bisik Gaib, Panji mengungkap semakin lama seseorang berada di hutan, semakin tipis batas antara yang kasat mata dan yang tersembunyi. Tidak semua orang bisa melihatnya, namun ada saat-saat tertentu ketika alam “membuka diri”.
Salah satu fenomena yang paling sering ia alami adalah pertemuan dengan makhluk menyerupai manusia, namun jelas bukan manusia. Di beberapa wilayah Sumatera, Panji kerap berpapasan dengan sosok yang hidup layaknya warga desa, mencari kayu, menggembala ternak, hingga beraktivitas seperti manusia biasa.
Namun saat diperhatikan lebih dekat, ada sesuatu yang janggal yaitu, wajah yang tidak simetris dan bibir tanpa lekukan alami. Itulah yang kemudian dikenal sebagai bunian, penghuni alam lain yang kerap menyamar dalam keseharian.
Selain kampung gaib, Panji juga menyaksikan bentuk-bentuk makhluk yang jauh dari logika. Dia pernah melihat pohon besar yang bergeser dan berjalan perlahan di tengah hutan, tanpa suara, tanpa angin.
Bagi Panji, ini bukan halusinasi, melainkan pertanda bahwa hutan memiliki penjaga yang tak selalu berwujud manusia atau hewan. Bahkan makhluk yang sering ditakuti seperti genderuwo, menurutnya, masih kalah “seram” dibanding fenomena semacam ini.
Cerita tentang ular menjadi bagian yang paling banyak menyita perhatian. Panji menegaskan ular yang mengedipkan mata bukanlah ular biasa. Dalam beberapa kasus, ular seperti ini merupakan manifestasi energi halus yang masuk ke dalam tubuh hewan.
Ciri lainnya adalah bau amis yang menyengat dan perilaku yang tidak biasa. Dia mengingatkan tidak semua ular yang masuk ke rumah adalah kiriman gaib, namun mengenali cirinya menjadi penting agar manusia tidak salah melangkah.
Di akhir kisahnya, Panji menekankan satu pesan penting bahwa alam tidak pernah kejam, yang sering bermasalah justru niat manusia. Siapa pun yang masuk ke hutan dengan kesombongan atau niat buruk, cepat atau lambat akan mendapatkan peringatan.
Sebaliknya, mereka yang datang dengan rasa hormat akan dilindungi, bahkan oleh sesuatu yang tidak terlihat. Bagi Panji, hutan bukan tempat untuk ditakuti, melainkan ruang untuk belajar rendah hati di hadapan semesta.
Editor: Dani M Dahwilani