Libur Tahun Baru, Serunya Lihat Pertunjukan Sirkus 'The Great 50 Show'
JAKARTA, iNews.id - Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghabiskan liburan Tahun Baru. Mulai dari travelling, shopping, hingga menonton pertunjukkan seru. Salah satu kegiatan seru yang dapat dilakukan adalah menonton pertunjukan sirkus kelas dunia yang bertajuk ‘The Great 50 Show’. Tentunya ini adalah pertama kalinya di Indonesia.
The Great 50 show menyuguhkan tontonan sirkus yang menarik dengan hiasan lampu yang menarik dan aksi para talent yang memukau. Anda bisa menyaksikan acara ini di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta Pusat.
Jangan khawatir, acara ini akan berlangsung mulai dari 14 Desember 2018 hingga 27 Januari 2019. Setelah itu pertunjukan sirkus ini akan melakukan tur ke beberapa wilayah Indonesia yang diproyeksikan hingga satu tahun ke depan.
Tentunya acara ini bisa menjadi hiburan yang menarik untuk mengisi liburan panjang Anda. Perlu diingat, circus ini tidak menggunakan hewan hidup dalam atraksinya. Mereka hanya menggunakan berbagai macam boneka hewan sebagai gantinya.
Dalam acara ini penonton dapat menyaksikan atraksi sepeda diikuti dengan gaya akrobat, aneka tarian dengan efek suara, juggling, dan masih banyak lainnya. Sirkus ini juga menggunakan berbagai macam peralatan canggih seperti drone, laser, multimedia projection, video mapping dan lain sebagainya.
“Beda konsepnya, pertunjukan ini lebih modern lebih fast, lebih kekinian, jadi memakai cerita yang ditampilkan dengan lagu, lightning sehingga menjadi cerita yang powerfull. Totalnya ada 30 pemain,” tutur Hans Manansang selaku Executive Producer, The Great 50 Show, belum lama ini di Jakarta.
Bagi masyarakat yang tertarik, Anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp150.000 - Rp450.000 ribu tergantung kelasnya. Harga tersebut sudah termasuk makan dan lain-lain. Acara ini akan berlangsung satu kali pada weekday yakni pada pukul 19.00 WIB, dan akan ada tiga kali show pada weekend.
“Circus ini menceritakan kisah berdirinya event ini yang pertama kali berdiri pada 1967. Di mana sang founder dulunya harus mengungsi karena kondisi perang dan lain-lain sampai akhirnya ke Indonesia dan membangun sirkus di Indonesia,” tutur Hans.
Editor: Vien Dimyati