Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : HUT ke-48 TK Bhayangkara, Para Siswa Gelar Seni Budaya
Advertisement . Scroll to see content

Makna Mendalam di Balik Langendriyan pada Resepsi Pernikahan Gusti Sura-Kanjeng Dimas

Minggu, 08 November 2026 - 11:34:00 WIB
Makna Mendalam di Balik Langendriyan pada Resepsi Pernikahan Gusti Sura-Kanjeng Dimas
Langendriyan di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Resepsi pernikahan G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas di Pura Mangkunegaran tidak hanya menjadi perayaan penyatuan dua insan. Malam bahagia tersebut juga menghadirkan kesenian klasik yang menyimpan sejarah panjang sekaligus pesan mendalam tentang perjalanan cinta.

Salah satu pertunjukan yang menarik perhatian adalah Langendriyan dengan lakon Damarwulan Jumeneng Nata. Kesenian khas Mangkunegaran ini dipilih secara khusus untuk menggambarkan nilai perjuangan, keteguhan, dan pengorbanan dalam mendapatkan cinta sejati.

Pengageng Kawedanan Langen Praja Pura Mangkunegaran, Nyi Ng. Retno Wulan Sulanjari, menjelaskan bahwa kisah Damarwulan memiliki kedekatan dengan perjalanan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas.

Langendriyan di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)
Langendriyan di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

"Lebih kepada penggambaran bahwa untuk mendapatkan cinta sejati diperlukan pengorbanan. Cerita itu kami angkat karena memiliki kedekatan dengan perjalanan kedua mempelai," ujar Retno Wulan dalam keterangan resminya yang diterima iNews.id, Minggu (8/11/2026).

Dalam lakon tersebut, Damarwulan digambarkan harus melewati perjalanan panjang dan berbagai ujian sebelum akhirnya dipersatukan dengan Ratu Ayu Kencanawungu.

Pesan inilah yang kemudian dihadirkan dalam resepsi pernikahan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. Terlebih, kedua mempelai memiliki perjalanan cinta yang tidak singkat.

Mereka pertama kali bertemu pada 2015. Setelah sempat terpisah selama bertahun-tahun dan menjalani kehidupan masing-masing, keduanya kembali dipertemukan pada awal 2025 hingga akhirnya melangkah ke jenjang pernikahan.

Namun, Langendriyan bukan sekadar kesenian yang dipilih karena cerita di dalamnya. Pertunjukan ini juga merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki sejarah panjang di lingkungan Pura Mangkunegaran.

Mengutip laman resmi Mangkunegaran, Langendriyan berasal dari kata langen yang berarti hiburan dan driya yang berarti hati. Secara harfiah, Langendriyan dapat dimaknai sebagai hiburan hati atau tarian hati.

Langendriyan di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)
Langendriyan di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

Bentuk keseniannya berupa drama tari yang memadukan gerak, tembang, dan iringan gamelan. Keunikan utamanya terletak pada dialog para tokoh yang tidak disampaikan melalui percakapan biasa, melainkan dinyanyikan menggunakan tembang macapat.

Dengan demikian, cerita dalam Langendriyan dibangun melalui perpaduan suara, gerakan tubuh, ekspresi, dan irama musik. Para penari tidak hanya dituntut menguasai gerak tari, tetapi juga kemampuan melantunkan tembang sambil memerankan tokoh dalam cerita.

Sejarah Langendriyan Mangkunegaran juga memiliki perjalanan tersendiri. Kesenian ini awalnya berkembang di Yogyakarta, sebelum kemudian tumbuh menjadi salah satu identitas seni pertunjukan di Pura Mangkunegaran.

Dalam perkembangannya, Langendriyan Mangkunegaran lahir pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara IV (1853-1881). Berdasarkan catatan sejarah Mangkunegaran, kemunculannya berkaitan dengan permintaan seorang Belanda bernama Godlieb Kilian kepada Raden Mas Hario Tondrokusuma untuk menyusun pertunjukan tari dengan cerita Damarwulan, khususnya bagian ketika Ratu Ayu dilamar Adipati Minakjinggo.

Kesenian tersebut kemudian berkembang dengan ciri khas tersendiri di lingkungan Mangkunegaran.

Perjalanan Langendriyan tidak selalu berjalan mulus. Penelitian sejarah dari Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat bahwa kesenian ini mengalami berbagai perubahan dari masa ke masa.

Pada era Mangkunegara V, Langendriyan mengalami pembaruan komposisi tari dan busana. Sementara pada masa Mangkunegara VI, perkembangannya sempat meredup akibat kondisi internal dan eksternal kadipaten yang tidak stabil.

Kesenian ini kemudian kembali berkembang pada masa Mangkunegara VII melalui sejumlah pembaruan, termasuk dalam komposisi tari, gerakan, unsur suara, serta aksesibilitas pertunjukan bagi masyarakat di luar lingkungan kadipaten.

Keistimewaan Langendriyan juga terlihat dari teknik gerak para penarinya. Pertunjukan ini tidak hanya mengandalkan gerakan berdiri, tetapi juga posisi jongkok hingga berlutut. Perubahan gerak yang lembut menjadi atraktif membutuhkan stamina dan kemampuan fisik yang kuat.

Dalam Dhaup Ageng Gusti Sura dan Kanjeng Dimas, Langendriyan mendapatkan ruang istimewa karena menjadi cara untuk menyampaikan pesan melalui kesenian yang telah diwariskan lintas generasi.

Langendriyan di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)
Langendriyan di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

Lakon Damarwulan Jumeneng Nata pun tidak hanya menghidupkan kembali cerita klasik Jawa, tetapi juga memberikan makna tersendiri bagi perjalanan kedua mempelai.

Melalui pertunjukan tersebut, resepsi pernikahan Mangkunegaran menghadirkan pertemuan antara kisah cinta masa kini dan warisan seni masa lampau. Langendriyan menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tidak hanya menyimpan cerita sejarah, tetapi juga tetap relevan untuk menyampaikan nilai kehidupan kepada generasi sekarang.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut