Menemukan Bugis di Belanda, Menengok Teosofi Nusantara
MAGELANG, iNews.id - Jauh di negeri seberang, Belanda, sastrawan muda Faisal Oddang, justru menemukan naskah tua Bugis, I La Galilo. Novelis dan penyair Bugis 24 tahun ini menemukannya di Universitas Leiden, serta beberapa tempat lain di Negeri Kincir Angin tersebut.
"Saya baru menyadari banyak versi epos Bugis itu malah di Belanda, justru ketika berjarak sebagai orang Bugis," tutur Oddang di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (24/11/2018).
Dalam Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) hari ketiga, Faisal menceritakan riset terdahulunya di Sulawesi Selatan yang menemukan naskah I La Galigo hanya di kalangan elite bangsawan. Sedangkan orang Belanda sudah merisetnya sejak 1802. Dia kini sedang menerjemahkan jilid keempat naskah tersebut, karena baru tiga jilid yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Studi Faisal Oddang di Belanda merupakan awal program Residensi Penulis Indonesia yang disponsori Komite Buku Nasional dan Beasiswa Unggulan Kemendikbud. Empat dari 58 penulis yang mengikuti program tersebut sejak 2016 sampai 2018, tampil dalam BWCF hari terakhir ini.
Selain Faisal, berbagi cerita pula Cok Sawitri yang ke Amerika Serikat untuk menulis diaspora orang-orang Bali di negeri Paman Sam, Agustinus Wibowo yang menulis seperatis Republik Maluku Selatan di Belanda dan identitas orang-orang keturunan Jawa di Suriname, serta Martin Aleida yang menulis orang-orang Indonesia yang menjadi eksil di Eropa setelah Gerakan 30 September 1965.
Sementara itu, di arena simposium, Iskandar Nugraha membeberkan tesisnya yang menarik di University of New South Wales, Sydney, Australia. Tesis itu telah diterjemahkan dan dibukukan menjadi Teosofi, Nasionalisme, dan Elite Modern Indonesia.
Gerakan teosofi didirikan seorang perempuan Ukraina-Rusia, Helena Petrovna Blavatsky. Dia dipengaruhi ajaran kebijakan Timur, terutama India dan Jawa.
"Radjiman Wedyoningrat, Ketua Budi Utomo pertama dan Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, serta ayah Presiden Soekarno adalah pengikut teosofi," ungkap Iskandar.
Mendirikan sekolah-sekolah antara lain di Bandung dan menjadikan Blavatsky Park yang kini gedung Kementerian Pariwisata di Jakarta sebagai pusat diskusi aktivis-aktivis muda Indonesia sebelum Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, merupakan sumbangan gerakan kebatinan internasional yang berpusat di Madras, India ini. Cabang pertamanya di Indonesia berada di Pekalongan, Jawa Tengah pada 1811.
Editor: Tuty Ocktaviany