Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Di Balik Sunyi Puhsarang, Destinasi Religi Menyimpan Jejak Sejarah
Advertisement . Scroll to see content

Mengenal Eksotisme Dusun Cepit yang Tersembunyi di Lereng Gunung Sumbing

Rabu, 11 Maret 2020 - 12:16:00 WIB
Mengenal Eksotisme Dusun Cepit yang Tersembunyi di Lereng Gunung Sumbing
Keindahan Dusun Cepit (Foto : Instagram@ayodolan)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Dusun Cepit terkenal memiliki pemandangan indah. Terletak di Lereng Gunung Sumbing atau 16 kilometer dari Temanggung. Desa ini masih kental dengan budaya dan tradisinya.

Dusun Cepit berada di Desa Pagergunung terletak di sebelah timur agak ke utara kaki Gunung Sumbing. Kawasan ini berada di Kabupatan Temanggung, Jawa Tengah.

Meski letaknya tersembunyi, Dusun Cepit memiliki tradisi unik dan sakral. Tradisi ini menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Tradisi tersebut bernama Nyadran. Nyadran dilakukan setahun sekali, tepatnya setiap Jumat Wage bulan Rejeb dalam penanggalan Jawa. Tradisi ini juga biasa disebut dengan Rejeb Plabengan.

 

"Selamat pagi Temanggung. Masih di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, desa sejuk dari kaki Gunung Sumbing. Desa Pagergunung, Temanggung, Jawa Tengah. Foto dolan dari @heriirfani," tulis Instagram @ayodolan, dikutip Rabu (11/3/2020).

Ritual di Dusun Cepit ini cukup menarik bagi wisatawan, karena ada keunikan di dalamnya, antara lain, dalam membawa makanan warga menggunakan tenong. Kegiatan ini sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Pagergunung kepada Tuhan YME.

Plabengan sendiri merupakan petilasan yang konon dulunya tempat berkumpul Ki Ageng Makukuhan, seorang tokoh penyebar agama Islam, bersama para muridnya.

Untuk memperingati dan meneruskan tradisi ini, penduduk Desa Pagergunung melakukan tradisi unik Nyadran. Prosesi mengunjungi Punden Plabengan dan makam leluhur.

Prosesi Rejeban Plabengan diawali dengan ritual doa malam Jumat di Punden Plabengan yang melibatkan para lelaki warga desa. Mereka akan membawa ratusan obor di sepanjang jalan menunju punden. Acara ini dipimpin oleh sesepuh atau pemangku adat desa yang memakai pakaian adat Jawa berupa beskap dan blangkon.

Paginya, seluruh warga harus berjalan sejauh hampir dua kilometer dari Dusun Cepit menuju puncak Gunung Sumbing. Mereka membawa bekal makanan berupa dua sisir pisang atau lebih, ketan dan jenang, ingkung ayam, serta aneka lauk pauk. Bekal ini dibawa dalam dua tenong yaitu wadah makanan berbentuk bundar yang terbuat dari anyaman bambu.

Sampai di lokasi Punden Plabengan, semua tenong ditata membentuk barisan memanjang dengan masyarakat duduk di sebelah kanan dan kiri. Mereka lalu bersama-sama melantunkan ayat suci Alquran.

Setelah beberapa prosesi, mereka akan melakukan acara makan bersama. Masyarakat dan wisatawan bisa menikmati pertujukan kesenian tradisional.

Tidak hanya memiliki kebudayaan sakral yang masih dilakukan turun temurun. Dusun Cepit juga memiliki pemandangan alam yang indah. Hamparan sawah hijau dan pegunungan megah terlihat jelas. Bagaimana, tertarik menikmati keindahan alam dan budaya di Dusun Cepit?

Editor: Vien Dimyati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut