Mengintip Keunikan Air Sumur Mendidih dan Fosil Laut Berbentuk Aneh di Hutan Gunung Citro
JAKARTA, iNews.id - Menjelajahi keunikan berbagai daerah di Indonesia akan membuat siapa saja penasaran. Terutama jika Anda singgah ke Lamongan. Di sini terdapat sumur kuno yang mendidih, tersembunyi di tengah hutan.
Pemilik akun Youtube Channel Kuno Brono, menemukan sumur di tengah Hutan Gunung Citro yang terletak di wilayah desa Wonokoyo, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Jawa Timur. Sumur yang berada di tengah hutan itu disebut memiliki air mendidih dan berbau seperti belerang.
Pemilik akun terlihat menyorot sekeliling sumur dengan air mendidih yang didekatnya terdapat pos. Bahkan di sekeliling sumur tersebut terdapat cukup banyak batu karang.
"Saya akan melihat sumur blukutuk (mendidih) yang keluar dari tanah, yang seperti digodok gitu. Ini ada di tengah hutan yang jarang dijangkau warga," ujarnya.
"Airnya itu mendidih dan baunya seperti belerang. Ini berada di tengah hutan. Di situ juga banyak uget-ugetnya (jentik) nyamuk," lanjutnya.
Bukan hanya itu, akun Kuno Brono juga menduga, tempat yang dia datangi tersebut dahulu merupakan lautan. Sebab, ada cukup banyak batu karang yang terdapat di sana.
"Kemungkinan di sini dulu adalah lautan," katanya.
"Di sini banyak fosil atau batu karang, ini banyak sekali ya. Kalau digosok batunya bisa menjadi akik. Di sini juga banyak karang lautan, dan banyak batu yang seperti wafer," ujarnya.
Pemilik akun Youtube tersebut mengatakan, jika musim penghujan tiba, daerah sekitar sumur tersebut tidak bisa dilewati oleh masyarakat. Bukan hanya lantaran berada di tengah hutan, tetapi memang jalan menuju ke lokasi tersebut sangat sulit untuk dijangkau.
"Tempat ini kalau musim penghujan tidak bisa dilewati. Soalnya jalannya juga sulit dijangkau karena berada di tengah hutan," tuturnya.
Kendati demikian, suasana di sekitaran air sumur mendidih itu terlihat cukup asri dan masih ada banyak hewan liar yang hidup, seperti burung dan juga monyet. Terbukti dengan suara-suara yang terekam dalam video tersebut.
Editor: Vien Dimyati