Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bali Dinobatkan Destinasi Wisata Terbaik Dunia 2026, Kalahkan Paris dan Roma
Advertisement . Scroll to see content

Mengintip Keunikan Cahaya Gua Batu Cermin di Labuan Bajo

Rabu, 10 April 2019 - 23:31:00 WIB
Mengintip Keunikan Cahaya Gua Batu Cermin di Labuan Bajo
Gua Batu Cermin di Labuan Bajo jadi destinasi wisatawan. (Foto: Kemenpar)
Advertisement . Scroll to see content

LABUAN BAJO, iNews.id - Travelling ke Nusa Tenggara Timur (NTT), belum lengkap tanpa mengunjungi Labuan Bajo. Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat ini memiliki pesona keindahan alam yang dapat memikat wisatawan. Salah satunya, Pulau Komodo yang sangat populer.

Namun, Labuan Bajo tidak hanya memiliki Pulau Komodo. Jika Anda ingin mendapatkan suasana wisata menarik lain, cobalah untuk mengunjungi Gua Batu Cermin. Gua terowongan ini tidak hanya menyajikan keunikan dari bentuk gua dan bebatuannya saja.

Ternyata, ada fenomena langka yang terjadi di gua ini. Traveler wajib mengetahuinya. Para pencinta misteri alam barangkali akan takjub sebelum akhirnya jatuh hati pada sebuah fenomena langka yang terjadi di Gua Batu Cermin.

Gua Batu Cermin, oleh warga sekitar disebut-sebut sebagai Watu Sermeng. Gua ini mampu memantulkan cahayanya di dinding batu, sehingga merefleksikan cahaya kecil ke area lain dalam gua dan terlihat seperti cermin.

Tak seperti gua lain yang ada di Indonesia, Gua Batu Cermin mampu meredam bunyi sehingga kedap suara tak ada gema dan gaung dari bunyi apa pun yang ditimbulkan di dalamnya.

Bagi mereka yang penasaran, gua ini bisa ditempuh dari pusat kota Labuan Bajo hanya sekitar 15 menit. Pengunjung dapat menyambangi gua dengan kendaraan bermotor. Aksesnya juga relatif mulus. Jalanan beraspal, dan deretan bukit hijau serta pepohonan berada di sepanjang jalan.

Setibanya di pintu masuk kawasan wisata Gua Batu Cermin, pengunjung akan menemukan warung makan dan area parkir yang cukup luas.

Udara terik ternyata menjadi sebuah berkah karena kondisi yang paling tepat untuk mengunjungi gua adalah ketika cuaca cerah. 

“Kalau hujan, gua jadi terlalu lembap dan licin. Untung hari ini cerah,” kata Mario, pemandu wisata sekitar.

Setelah membeli tiket, para pengunjung harus berjalan sekitar 300 meter untuk mencapai gua. Jangan khawatir kebosanan, karena terdapat deretan pohon bambu yang rimbun dan memanjakan mata. Sesekali pengunjung juga bisa melihat beberapa monyet bergelantungan atau sekadar duduk-duduk di kanan-kiri.

Tak lama kemudian, terlihat pagar berwarna hijau sekaligus bongkahan batu-batu besar. Mario berhenti sejenak, dia menceritakan sejarah penemuan gua ini yang pertama kali mendapat perhatian dunia pada 1951 berkat penelitian arkeolog sekaligus misionaris asal Belanda, Theodore Verhoven.

“Jutaan tahun lalu, posisi gua ini ada di bawah laut. Dulu, sempat ada pergeseran atau patahan lempeng bumi, lalu terjadi gempa, sehingga ada beberapa wilayah di Pulau Flores yang tenggelam. Ada beberapa juga yang bahkan naik ke permukaan, salah satunya adalah gua ini,” kata Mario.

Untuk memasuki gua utama, pengunjung harus menaiki tangga yang sudah disemen. Terdapat gua pembuka dengan jalur yang relatif luas dan mudah untuk dilalui. Beberapa pohon terlihat merambat dengan akar yang cukup besar menempel di dinding gua pembuka.

Tepat di bibir masuk gua utama, para pengunjung diminta untuk memakai helm dan menyalakan penerangan di seluler masing-masing. Dari 10 pengunjung, hanya dua yang diberikan senter oleh Mario. “Tidak boleh terlalu banyak penerangan di dalam gua, karena bisa mengubah temperatur udara,” katanya.

Mario juga menerangkan kondisi dalam gua dan mengimbau para pengunjung untuk berhati-hati ketika berjalan, karena di beberapa titik terdapat lorong yang hanya bisa dilalui oleh satu orang saja.

"Panjang gua kurang lebih 15-20 meter, tapi ada beberapa titik di mana kita harus berjalan merunduk karena posisi stalaktit dan stalagmit cukup rendah. Nanti di dalam ada ruangan besar yang tidak ada cahaya, tapi di bagian yang disebut ‘cermin’ ada cahaya,” kata Mario.

Begitu masuk, pengunjung harus berjalan perlahan dan merunduk. Udara dalam gua cukup lembap meski cuaca cerah karena masih ada beberapa genangan air.

Tak lama kemudian, para pengunjung tiba di ruang tengah yang bisa dipenuhi oleh sekitar 15 orang. Mario mengarahkan cahaya senter ke langit gua, dia menyoroti fosil penyu dengan posisi terbalik. Ada segenggam bongkahan yang hilang pada tempurung fosil, yang ternyata sengaja diambil oleh Verhoven untuk diteliti. Dia kemudian menyimpulkan bahwa 'batuan' tersebut memang fosil penyu yang sudah tercampur dengan berbagai jenis mineral lainnya.

Mario bertanya apakah ada di antara pengunjung yang mendengar suara gema yang biasanya muncul di dalam gua. “Oh iya, kok enggak ada suara gema ya?” ucap spontan salah satu pengunjung bertanya balik.

Mario lalu menyoroti sederet bongkahan batu berkilauan yang memiliki 'pori-pori'. Menurut Verhoven, suara di gua ini tidak bergema lantaran bentuk batu yang berpori-pori dapat meredam suara. “Gua ini tidak bagus untuk memantulkan suara, tapi bagus untuk memantulkan cahaya,” kata Mario.

Dia juga menjelaskan tentang mengapa gua ini diberi nama Gua Batu Cermin. Ada satu titik di mana terdapat lorong buntu, dan di atasnya terdapat celah tempat sebongkah cahaya masuk. Jika momennya tepat, cahaya yang masuk akan terefleksi pada dinding gua dan membentuk cermin alami. Inilah asal-muasal nama Gua Batu Cermin.

“Pantulan sinar matahari di bagian lorong ini bisa menerangi sekitar 60 persen isi gua. Cuma, momen seperti itu memang tidak terjadi setiap hari, tergantung pergerakan bumi dan posisi matahari,” tutur Mario.

Kegiatan berwisata di dalam gua yang menghabiskan waktu sekitar 20-30 menit ini sukses membawa pengunjung mengarungi cerita Pulau Flores masa lalu dan menyaksikan bukti-bukti peninggalan sejarah berharga berbentuk sejumlah fosil hewan dan terumbu karang. Keunikan inilah yang menjadikan objek wisata ini tak pernah sepi pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri.

Editor: Tuty Ocktaviany

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut