Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : SBY Gelar Pameran Lukisan, Tekankan Seni sebagai Jalan Perdamaian
Advertisement . Scroll to see content

Mengintip Sejarah Seniman Mural Indonesia melalui Buku Crossing The Wall

Kamis, 03 Agustus 2023 - 22:05:00 WIB
Mengintip Sejarah Seniman Mural Indonesia melalui Buku Crossing The Wall
Mengenal seniman mural Indonesia (Foto: Ist)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Belum banyak yang tahu, Indonesia memiliki seniman mural legendaris dengan karyanya yang luar biasa. Seniman mural menghasilkan karya seni di dinding atau permukaan besar lainnya dengan menggunakan cat semprot, kuas, atau alat lainnya. 

Mural bisa berupa gambar, tulisan, atau kombinasi keduanya. Seniman mural biasanya melukis pada permukaan publik seperti bangunan, jalan, taman, dan tempat-tempat umum lainnya. Tujuan utama dari seniman mural adalah untuk memperindah lingkungan sekitar dan memberikan pesan-pesan artistik atau sosial kepada masyarakat.

Saat ini, seniman mural semakin dihargai dalam dunia seni karena mereka dapat menghasilkan karya seni yang luar biasa dengan ukuran besar yang dapat dipamerkan secara publik. Banyak dari seniman mural terkenal yang telah mencapai popularitas internasional.

Di Indonesia, ada beberapa seniman mural yang legendaris. Bahkan, kisah perjalanan mereka dibukukan melalui "Crossing The Wall: The Stories of 20 Indonesian Muralists”. Buku ini mendokumentasikan 20 profil seniman dan komunitas mural di Indonesia. Launching buku ini berkolaborasi dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dibarengi juga dengan peluncuran Pablo Art Paints untuk kategori cat seni (lukis) dengan produk pertama yaitu Pablo Mural Paints.

Kurator dan Penulis buku Crossing The Wall, Hilmi Faiq mengatakan, Crossing The Wall: The Stories of 20 Indonesian Muralists menceritakan perjalanan panjang 20 seniman dan komunitas mural dalam berkesenian serta berproses hingga menemukan karakter yang mampu mewakili identitas sang seniman. 

Adapun para seniman tersebut adalah Anagard, Apotik Komik, Andy Rharharha, Bayu Widodo, Bujangan Urban, Darbotz, Eko Nugroho, Emus Larmawata, Farid Stevy, Farhan Siki, Geger Boyo, Komunitas Pojok, Media Legal, Marishka Sukarna, Popok Tri Wahyudi, Sinta Tantra, Stereoflow, The Popo, Taring Padi, dan Wild Drawing.

"Nama-nama tersebut kami kurasi dari ratusan seniman dengan pertimbangan antara lain kekaryaan, konsistensi, kebaruan, dan tema. Selain itu juga magnitude atau impak karya terhadap publik. Misalnya, beberapa karya mereka menjadi penanda tempat atau ikon seperti yang dilakukan Darbotz dan Stereo Flow," ujar Hilmi Faiq melalui keterangannya belum lama ini.

Hilmi Faiq menambahkan, proses penggalian data dan wawancara berlangsung secara online sepenuhnya karena penulis dan para seniman berada dalam bekapan pandemi Covid-19. Selain itu, kebetulan beberapa seniman di atas berdomisili di luar negeri. Selain riset dia juga melengkapi wawancara dengan berkorespondensi lewat email.

"Kami sangat menikmati proses wawancara ini karena begitu guyup dan santai. Kadang tak terasa tiba-tiba sudah tiga jam,” ujar Candra Gautama, KPG. 

Dari wawancara tersebut, selain menghasilkan buku ini, juga mengendap pemahaman, banyak sekali seniman atau muralis yang layak untuk dipublikasikan lebih jauh. Karya-karya mereka laik disandingkan dengan muralis-muralis dunia. Oleh karena itu, buku ini semestinya menjadi awal untuk menyusun direktori para muralis Nusantara. Dengan kata lain, sangat penting untuk menulis buku serupa dengan memanggungkan nama-nama muralis lain sehingga terpetakan dengan jelas perkembangan muralis berikut karyanya.

"Kami menemukan jejak cat Mowilex sudah digunakan semenjak tahun 1990-an oleh para seniman, yang mereka sering gunakan adalah cat Emulsion Mowilex. Dengan formula yang dapat diandalkan ketika membuat karya, cat Mowilex dengan cepat mendapatkan efek mouth to mouth marketing di antara komunitas seniman," ujar Niko Safavi, CEO PT Mowilex Indonesia.

Untuk itu, lanjut dia, sebagai penghargaan, Mowilex berkolaborasi dengan KPG membukukan perjalanan karier 20 seniman dan komunitas mural yang merupakan contoh kecil dari ribuan muralis lainnya. "Buku ini sepanjang yang saya tahu merupakan yang pertama di Indonesia dan kami persembahkan untuk teman-teman seniman mural," ujar Niko Safavi.

Berjumlah sebanyak 356 halaman, buku ini ditulis dalam Bahasa Indonesia oleh Seno Joko Suyono, Himli Faiq dan Samuel Indratma dan Bahasa Inggris diterjemahkan oleh Tjandra Kerto, Dwi Atmanta, and Anton Kurnia dan dicetak dalam jumlah terbatas. Ini bukan buku pertama yang dibuat oleh Mowilex, sebelumnya, telah membuat buku persembahan untuk para seniman ukir kayu di Bali dalam tajuk “Balinese Woodcarving - A Heritage to Treasure”. 

Menariknya, cat mowilex telah digunakan oleh para seniman mural sejak tahun 1980-an akhir hingga hari ini. Dalam beberapa survei dengan para seniman, mereka mengatakan, warna yang dihasilkan oleh tidak mengalami perubahan ketika diaplikasikan serta memiliki ketepatan warna sehingga sesuai dengan ekspektasi akhir dalam pembuatan karya. 

Namun dalam hal durabilitas ketika diaplikasikan pada luar ruangan, cat yang diformulasikan khusus untuk indoor sebetulnya tidak cocok dan bertahan lama jika digunakan pada luar ruangan. 

"Atas problem tersebut, kami terinspirasi untuk membuat cat khusus untuk para seniman mural, yang bisa digunakan untuk area indoor maupun outdoor. Produk ini lahir atas inspirasi para seniman mural yang terus giat berkarya," katanya.

Editor: Vien Dimyati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut