Menjelajahi Morotai, dari Laut Biru hingga Jejak Perang Dunia II
MOROTAI, iNews.id - Morotai menyambut pagi dengan cara yang sederhana, tetapi sulit dilupakan. Saat matahari perlahan muncul dari ufuk timur, cahaya keemasannya menyapu hamparan pasir putih Pantai Daloha.
Ombak datang silih berganti menghapus jejak kaki di bibir pantai, sementara angin laut yang sejuk membuat siapa pun ingin memperlambat langkah.
Di sinilah perjalanan menjelajahi Morotai dimulai. Bukan sekadar mengejar daftar destinasi yang harus dikunjungi, melainkan menikmati setiap momen yang hadir di pulau yang berada di utara Maluku ini.

Pantai Daloha menjadi salah satu sudut Morotai yang menawarkan ketenangan. Berlokasi di kawasan Daloha Beach & Dive Resort, Tanjung Dehegila, Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan, pantai dengan garis sepanjang sekitar 4,5 kilometer ini menyuguhkan hamparan pasir putih halus dan air laut sebening kristal.
Pada pagi hari, wisatawan dapat berjalan tanpa alas kaki di sepanjang pantai, menikmati semilir angin, atau sekadar duduk menyaksikan matahari perlahan naik. Saat air laut tenang, ikan-ikan kecil tampak berenang di perairan dangkal yang begitu jernih hingga dasar laut terlihat jelas.
"Lokasi kami di sini memang cocok untuk mereka yang ingin sejenak menjauh dari kesibukan dan menikmati suasana yang tenang di tengah keindahan alam Morotai," ujar Direktur Utama PT Jababeka Morotai, Alan Wijaya, dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).
Menariknya, lokasi resort ini juga mudah dijangkau. Dari Bandara Pitu Morotai, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Bagi tamu yang menginap, tersedia pula layanan antar-jemput dari dan menuju bandara.
Suasana tenang Morotai juga terasa di setiap sudut Daloha Beach & Dive Resort. Resort ini mengusung konsep bangunan yang terinspirasi dari rumah tradisional Tomohon dengan struktur semi panggung dan dominasi material kayu.
Cahaya alami masuk melalui bukaan-bukaan lebar, sementara angin laut bebas mengalir ke dalam ruangan, menghadirkan kesejukan alami sepanjang hari.
"Inspirasi kami ambil dari rumah tradisional Tomohon," kata Alan.
Nuansa kayu juga mendominasi interior kamar, mulai dari tempat tidur, meja, kursi, hingga lemari. Meski tampil sederhana dan menyatu dengan alam, resort ini tetap menyediakan berbagai pilihan akomodasi, mulai dari cottage studio hingga premium dengan dua kamar tidur.

Menginap di Morotai rasanya belum lengkap tanpa menjelajahi pulau-pulau kecil yang mengelilinginya.
Perjalanan dapat dimulai menuju Pulau Kokoya, Kolorai, Zum-zum, Pasir Timbul, hingga Pulau Dodola yang kerap dijuluki sebagai Maldives-nya Indonesia.
Pulau Dodola menjadi destinasi yang paling ikonik. Saat air laut surut, muncul hamparan pasir putih yang menghubungkan Dodola Besar dan Dodola Kecil. Fenomena alam tersebut menciptakan jalur alami yang menjadi favorit wisatawan untuk berjalan kaki sambil menikmati gradasi warna laut biru toska di kedua sisinya.
Tak hanya menikmati panorama, wisatawan juga dapat berenang maupun snorkeling di perairan yang terkenal jernih.
Lalu, bagi pencinta dunia bawah laut, Morotai menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar snorkeling.
Ya, resort telah menyediakan perlengkapan diving lengkap beserta pemandu berpengalaman yang siap menemani wisatawan menjelajahi berbagai titik penyelaman terbaik.
"Kalau sudah datang ke Morotai tapi tidak mencoba diving, rasanya sayang sekali," ujar Alan.
Setiap lokasi penyelaman menghadirkan pengalaman berbeda. Di Pulau Mitita, penyelam berkesempatan berenang bersama hiu sirip hitam.
Di sekitar Pulau Wawama, Jeep Willys peninggalan Perang Dunia II kini beristirahat di dasar laut dan menjadi bagian dari ekosistem bawah laut. Sementara perairan Pulau Dodola memanjakan mata dengan hamparan terumbu karang yang masih terjaga.
Di balik pesona lautnya, Morotai menyimpan sejarah yang tak kalah menarik.
Pulau Zum-zum menjadi salah satu saksi bisu Perang Dunia II karena pernah menjadi tempat tinggal Jenderal Douglas MacArthur saat memimpin operasi militer di kawasan Pasifik. Kini, sebuah patung MacArthur berdiri sebagai penanda pentingnya pulau tersebut dalam sejarah.
Perjalanan sejarah berlanjut di Museum Swadaya Perang Dunia II milik Muhlis Eso di Desa Joubela. Museum yang dibangun secara mandiri itu menyimpan ribuan koleksi peninggalan perang, mulai dari peluru, perlengkapan militer, lencana, botol minum tentara, hingga berbagai artefak yang ditemukan di hutan, pesisir, dan pulau-pulau sekitar Morotai.
"Banyak orang datang ke Morotai karena pantai dan lautnya. Tapi setelah berada di sini, mereka biasanya baru menyadari bahwa Morotai juga menyimpan cerita sejarah yang sangat kuat," tutur Alan.
Pesona Morotai tak berhenti di laut. Wisatawan juga dapat trekking menuju Air Terjun Raja yang memiliki tujuh jenjang alami, mengamati berbagai burung endemik, hingga mengenal kehidupan masyarakat lokal.
Beragam pengalaman tersebut menjadi bagian dari paket aktivitas yang ditawarkan Daloha Beach & Dive Resort bagi para tamunya.
"Sebagai resort, kami tidak hanya menjual tempat menginap. Kami merepresentasikan sebuah destinasi. Karena itu, kami menawarkan paket aktivitas yang memadukan pengalaman budaya, sejarah, dan alam," kata Alan.
Menjelang senja, perjalanan kembali berakhir di Pantai Daloha. Langit perlahan berubah jingga sebelum akhirnya dipenuhi bintang, sementara ombak sekali lagi datang menghapus jejak kaki di pasir.
Editor: Muhammad Sukardi