Menjelajahi Tempat Pembuatan Minyak Gamat yang Legendaris, Obat Tradisional Paling Diburu Turis
LANGKAWI, iNews.id - Pesona keindahan Pulau Langkawi Malaysia selalu menarik untuk dijelajahi. Para wisatawan yang mengunjungi Pulau Langkawi, Malaysia, ternyata tak hanya mencari wisata alamnya, tetapi juga oleh-oleh berupa obat tradisionalnya yang legendaris, yaitu minyak gamat.
Gamat merupakan sea cucumber atau timun laut dalam bahasa Malaysia. Sesuai dengan namanya, minyak tradisional ini dibuat dari bahan dasar timun laut, yang memiliki berbagai khasiat antara lain adalah mempercantik kulit dan menyembuhkan luka.
Tim MNC Portal berkesempatan mengunjungi toko sekaligus tempat pembuatan minyak gamat, yakni Warisan Sireh Lagenda yang berlokasi di Taman Cendrawasih, Jalan Mata Ayer Mukim.
Menurut Haliza Abdul Hamid sang pemilik toko, dia merupakan generasi ke-4 yang meneruskan bisnis minyak gamat ini. Tetapi dia tak tahu sejak kapan pertama kali bisnis tersebut mulai dirintis oleh moyangnya.
"Kami keturunan ke 4. Semua ini diwariskan dari moyang, sampai di kami ini sekitar tahun 1988 lah kira-kira," kata Haliza Abdul Hamid, pemilik Warisan Sireh Lagenda.
Menurut Haliza, minyak gamat di masa pendahulunya tak sepopuler sekarang. Namun, seiring berjalannya waktu, obat tradisional ini menjadi khasnya Pulau Langkawi dan menjadi buruan para wisatawan.
Di sebelah toko, terdapat tempat khusus yang merupakan tempat pembuatan minyak gamat. Terdapat kuali besar yang berisi bahan minyak dan dimasak menggunakan tungku.
Uniknya, pemasakan minyak gamat ini berlangsung cukup lama. Setiap hari, kuali harus dipanaskan selama 8 jam dan proses pemasakan itu dilakukan selama seminggu.
Setelah matang, minyak diambil dan dimasukkan dalam kemasan. Biasanya dalam satu kuali besar, bisa digunakan untuk membuat lebih dari 3.600 botol kemasan.
Satu botol minyak gamat dijual dengan harga RM15 atau sekira Rp51.000 per satu lusin. Selain memproduksi minyak gamat, berbagai produk kesehatan lain seperti sabun untuk kecantikan kulit hingga kewanitaan.
Editor: Vien Dimyati