Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bukan Sekadar Destinasi, Pariwisata RI Harus Ciptakan Pengalaman Bernilai bagi Wisatawan
Advertisement . Scroll to see content

Menjelajahi Wisata Wellness di Jogja, dari Jamu hingga Perawatan Tradisional

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:08:00 WIB
Menjelajahi Wisata Wellness di Jogja, dari Jamu hingga Perawatan Tradisional
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY Gusti Kanjeng Ratu Bendara. (Foto: Niko Prayoga)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Yogyakarta selama ini dikenal sebagai destinasi wisata yang menawarkan kekayaan budaya, sejarah, hingga kuliner. Namun, ada pengalaman lain yang kini mulai dikembangkan untuk menarik wisatawan. 

Ya, Yogyakarta kini menawarkan wellness tourism atau wisata kebugaran yang memadukan relaksasi, kesehatan, dan tradisi lokal.

Melalui konsep cultural wellness, wisatawan diajak menikmati perjalanan yang bukan sekadar mengunjungi tempat-tempat menarik, tetapi juga memberi kesempatan untuk memulihkan energi, menenangkan pikiran, serta mengenal lebih dekat warisan budaya Nusantara.

Pengalaman tersebut bisa ditemukan melalui berbagai praktik kebugaran tradisional, mulai dari menikmati jamu dan rempah-rempah hingga perawatan tradisional yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Potensi inilah yang ingin diperkenalkan lebih luas melalui Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026. Festival yang digelar Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut akan berlangsung pada 6–8 November 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyambut positif penyelenggaraan festival tersebut. Menurutnya, JCWF menjadi salah satu upaya memperkenalkan tradisi kebugaran Nusantara sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi wisata kebugaran berbasis budaya.

"Kami menyambut baik kontribusi festival ini dalam memperkenalkan tradisi kebugaran Nusantara, sekaligus memperkuat daya tarik Yogyakarta sebagai destinasi wisata kebugaran berbasis budaya, atau cultural wellness," kata Widiyanti dalam konferensi pers di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jumat (30/10/2026).

Menurut Widiyanti, wisata kebugaran juga semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat di tengah situasi dunia yang penuh tekanan dan ketidakpastian. Melalui wellness tourism, wisatawan bisa mendapatkan pengalaman yang membantu menghadirkan ketenangan sekaligus menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran.

"Jadi, event seperti ini sangat dibutuhkan di tengah situasi sekarang yang sangat kompetitif dan geopolitik yang sedang bergejolak sehingga membuat suasana tense di mana-mana. Jadi kita membutuhkan ketenangan, wellness mind, body, and spirit untuk kembali menemukan harmoni," ujarnya.

Tren wisata kebugaran tersebut juga terlihat dari besarnya pergerakan ekonomi di sektor ini. Berdasarkan data Global Wellness Institute, pengeluaran global untuk wellness tourism mencapai USD893,9 miliar pada 2024. Angka tersebut meningkat 13,8 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara itu, kawasan Asia Pasifik mencatatkan 562,7 juta perjalanan wellness tourism dengan total pengeluaran mencapai 215 miliar dolar AS.

Widiyanti menyebut data terbaru untuk 2025 belum dirilis ketika konferensi pers berlangsung. Global Wellness Institute dijadwalkan mengeluarkan pembaruan data tersebut pada akhir November 2026.

Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi peluang untuk memperkenalkan kekayaan tradisi lokal kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Jamu, rempah-rempah, dan berbagai bentuk perawatan tradisional memiliki karakter tersendiri yang dapat menjadi pembeda Indonesia di pasar wisata kebugaran internasional.

Kementerian Pariwisata pun telah memasukkan wellness tourism sebagai bagian dari pengembangan wisata minat khusus dalam program prioritas pariwisata berkualitas.

Sementara itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY Gusti Kanjeng Ratu Bendara menjelaskan, JCWF 2026 akan menghadirkan berbagai pengalaman wellness yang dapat dinikmati masyarakat. Festival ini tidak hanya menjadi ruang untuk mengenal praktik kebugaran, tetapi juga mempertemukan komunitas dengan pelaku industri.

Rangkaian kegiatan akan dimulai pada 6 November melalui business matching antara komunitas dan industri. Selanjutnya, berbagai program festival akan berlangsung pada 7 dan 8 November.

Tahun ini, JCWF menghadirkan 97 komunitas, 32 artisan market, serta 67 wellness practitioner. Seluruh peserta tersebut telah melalui proses kurasi, mulai dari pendaftaran berdasarkan tema dan program, penilaian deskripsi kegiatan dan video, hingga kunjungan langsung untuk melihat keunikan masing-masing komunitas maupun praktisi wellness.

Dari proses tersebut, tersusun 89 program yang akan berlangsung selama tiga hari. Sebanyak 16 program di antaranya dapat diikuti secara gratis.

GKR Bendara mengatakan, seluruh kegiatan dibagi ke dalam enam tema besar yang memberikan pilihan pengalaman berbeda bagi pengunjung.

"89 program itu kami bagi menjadi 6 tema besar yang masing-masing punya program sendiri-sendiri," kata GKR Bendara. 

Enam tema itu ada Breathwork Mindful Movement itu ada 9 kegiatan lalu ada Meditation and Sound Healing dengan 16 kegiatan, Spiritual and Energy Healing ada 21 kegiatan, Mental Health and Emotional Well-being ada 16 kegiatan, Art Therapy ada 11, dan Healthy Food and Herbal ada 12. 

Beragam tema tersebut memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal pendekatan kebugaran dari berbagai sisi. Mulai dari latihan pernapasan dan gerakan sadar, meditasi, terapi suara, hingga aktivitas yang berkaitan dengan kesehatan mental, seni, serta makanan dan herbal.

Selain mengikuti program wellness, pengunjung juga dapat menjelajahi artisan market yang menghadirkan produk-produk dari para artisan. Kehadiran pasar kreatif ini turut mempertemukan tradisi, produk lokal, dan pengalaman wisata dalam satu rangkaian festival.

Menariknya, JCWF 2026 juga membuka akses gratis untuk umum khusus area artisan market. Namun, pengunjung perlu membawa botol plastik bekas yang sudah bersih sebagai tiket masuk.

Botol plastik tersebut nantinya akan dikumpulkan untuk didaur ulang sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah sekaligus menghadirkan konsep festival yang lebih ramah lingkungan.

"Nah, botol plastik bekas yang sudah bersih ini nanti kami akan kumpulkan untuk kami daur ulang," pungkas GKR Bendara.

Melalui JCWF 2026, Yogyakarta berupaya memperkenalkan sisi lain pariwisatanya. Tidak hanya menawarkan keindahan destinasi dan kekayaan budaya, kota ini juga ingin menghadirkan pengalaman perjalanan yang memungkinkan wisatawan mengenal tradisi kebugaran sekaligus menemukan kembali keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut