Menpar Ungkap JCWF 2025 Raup Rp6,1 Miliar dan Datangkan Ribuan Pengunjung
JAKARTA, iNews.id – Yogyakarta punya cara baru untuk menarik wisatawan. Tak hanya mengandalkan wisata budaya, sejarah, dan kuliner, kota ini juga mulai memperkuat daya tariknya melalui wellness tourism atau wisata kebugaran berbasis budaya.
Salah satu upayanya terlihat dari penyelenggaraan Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF). Festival yang memperkenalkan berbagai praktik kebugaran tradisional dan modern ini berhasil mencatatkan 3.368 pengunjung pada penyelenggaraan tahun lalu. Tak hanya menarik wisatawan, kegiatan tersebut juga menghasilkan estimasi perputaran ekonomi mencapai Rp6,1 miliar.
Capaian itu berdasarkan hasil rapid assessment yang disampaikan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam konferensi pers di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jumat (30/10/2026).
Menurut Widiyanti, dampak penyelenggaraan festival tersebut turut melibatkan 73 mitra, 96 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta 1.335 tenaga kerja.
"Capaian ini memperlihatkan bagaimana penyelenggaraan festival dapat menggerakkan kegiatan ekonomi sekaligus menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat lokal," kata Widiyanti.
Melihat hasil tersebut, JCWF kembali digelar pada 6–8 November 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta. Festival ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Yogyakarta sebagai destinasi wisata kebugaran berbasis budaya atau cultural wellness.
Widiyanti mengatakan, JCWF memiliki peran penting dalam memperkenalkan tradisi kebugaran Nusantara kepada wisatawan. Kekayaan budaya Indonesia dinilai menjadi modal untuk menghadirkan pengalaman wellness yang berbeda dibandingkan destinasi lain di dunia.
"Kami menyambut baik kontribusi festival ini dalam memperkenalkan tradisi kebugaran Nusantara, sekaligus memperkuat daya tarik Yogyakarta sebagai destinasi wisata kebugaran berbasis budaya, atau cultural wellness," ujarnya.
Potensi wisata kebugaran ini juga didukung tren perjalanan global. Berdasarkan data Global Wellness Institute, pengeluaran global untuk wellness tourism mencapai USD893,9 miliar pada 2024 atau meningkat 13,8 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Sementara di kawasan Asia Pasifik, tercatat 562,7 juta perjalanan wellness tourism dengan total pengeluaran mencapai USD215 miliar.
Bagi Indonesia, tren tersebut membuka peluang untuk mengembangkan pengalaman wisata yang memanfaatkan kearifan lokal. Jamu, rempah-rempah, hingga perawatan tradisional merupakan sejumlah kekayaan budaya yang dapat diperkenalkan kepada wisatawan sebagai bagian dari perjalanan kebugaran.
Kementerian Pariwisata pun memasukkan wellness tourism sebagai bagian dari pengembangan wisata minat khusus dalam program prioritas pariwisata berkualitas.
Pada penyelenggaraan tahun ini, JCWF menghadirkan pengalaman yang lebih beragam. Sebanyak 97 komunitas, 32 artisan market, dan 67 wellness practitioner akan terlibat dalam rangkaian festival.
Terdapat 89 program yang dibagi ke dalam enam tema besar. Pengunjung bisa menemukan aktivitas Breathwork and Mindful Movement dengan sembilan kegiatan, Meditation and Sound Healing sebanyak 16 kegiatan, serta Spiritual and Energy Healing dengan 21 kegiatan.
Selain itu, ada Mental Health and Emotional Well-being dengan 16 kegiatan, Art Therapy sebanyak 11 kegiatan, serta Healthy Food and Herbal dengan 12 kegiatan.
Beragam aktivitas tersebut memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mengenal pengalaman kebugaran dari berbagai sisi. Mulai dari yoga, meditasi, lokakarya jamu, terapi seni, hingga kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan mental dan makanan herbal.
Widiyanti juga mengapresiasi konsep keberlanjutan yang dihadirkan dalam festival tersebut. Menurutnya, wellness tidak hanya berkaitan dengan kesehatan individu, tetapi juga perlu memperhatikan kelestarian lingkungan.
“Jadi kami senang sekali juga tadi mendengar mengenai kegiatan keberlanjutan selama acara JCWF ini. Event ini bukan hanya untuk wellness individual saja, tetapi juga untuk wellness alam kita. Jadi saya sangat mengapresiasi rangkaian kegiatan yang tadi Ibu telah sampaikan mencakup yoga, meditasi, lokakarya jamu, terapi seni, serta pentahelix forum untuk memperkuat kerja sama antar pelaku industri,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY Gusti Kanjeng Ratu Bendara mengatakan, JCWF 2026 menargetkan 1.500 kunjungan. Target tersebut sengaja dibuat lebih terukur agar pengunjung bisa menikmati setiap aktivitas dengan nyaman.
Pasalnya, sejumlah kegiatan wellness membutuhkan suasana yang tenang dan ruang terbatas. Aktivitas seperti meditasi, misalnya, akan lebih optimal jika tidak terganggu oleh keramaian maupun lalu lalang pengunjung.
"Kenapa 1.500? Karena kami membutuhkan ruangan yang juga, ruangannya kecil-kecil dengan pesertanya kecil-kecil sehingga tidak terlalu ramai kegaduhan. Kalau terlalu besar, itu juga nanti yang bermeditasi akan terasa terganggu dengan lalu lintas atau lalu lalang dari peserta-peserta yang lainnya," jelas GKR Bendara.
Dia menambahkan, target pengunjung tahun ini masih difokuskan pada wisatawan domestik. Hal tersebut mempertimbangkan mayoritas pelaku wellness yang terlibat dalam festival saat ini masih menggunakan bahasa Indonesia.
Menurut GKR Bendara, wisata wellness umumnya diminati wisatawan yang bepergian sendiri atau dalam kelompok kecil. Karena itu, JCWF ingin memberikan pengalaman yang lebih intim dan tidak sekadar menjadi festival yang dipadati pengunjung.
"Memang kami biasanya kalau di wellness itu adalah solo traveling atau small group. Domestiknya kami sangat berharap masih domestik market," tuturnya.
Meski demikian, penyelenggara juga berharap pelaku industri pariwisata dari berbagai daerah, termasuk perhotelan, biro perjalanan, dan pengelola destinasi, datang untuk mengenal lebih dekat komunitas wellness di Yogyakarta.
"Next, sasaran audiens kami adalah mayoritas dari general public. Tapi kami sangat berharap bahwa teman-teman industri pariwisata yang ber-background hotel, travel, destinasi wisata, dan apapun itu dari seluruh Indonesia bisa datang dan melihat seperti apa komunitas wellness yang ada di Jogja," pungkasnya.
Melalui JCWF 2026, Yogyakarta ingin menunjukkan bahwa pengalaman berwisata tidak selalu harus diisi dengan perjalanan ke banyak tempat. Mengenal tradisi jamu, mengikuti meditasi, menikmati terapi seni, hingga merasakan suasana kebugaran berbasis budaya bisa menjadi alternatif bagi wisatawan yang ingin menikmati liburan dengan cara berbeda.
Editor: Muhammad Sukardi