Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Menkes Pastikan Super Flu Tak Mematikan seperti Covid-19: Gak Usah Khawatir
Advertisement . Scroll to see content

Pelukis Kayu Tetap Buat Lukisan di Tengah Wabah Covid-19

Sabtu, 11 April 2020 - 19:20:00 WIB
Pelukis Kayu Tetap Buat Lukisan di Tengah Wabah Covid-19
Pelukis Kayu tetap berkarya (Foto : Antara)
Advertisement . Scroll to see content

SENTANI, JAYAPURA, iNews.id- Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif memang sangat terdampak karena adanya wabah Covid-19. Namun berbeda dengan yang dialami seorang pelukis asal Sentani, Jayapura.

Dia tetap berkarya meski wabah Covid-19 mematikan hampir semua industri kreatif.
Pelukis Kulit Kayu di pulau Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua tetap membuat lukisan kayu di tengah pandemi Covid-19.

"Kami para pelukis kulit kayu di pulau asei tetap membuat lukisan, walaupun ada pandemi Covid-19. Kami mengerjakan lukisan di rumah masing-masing," kata Corry Ohee, salah satu pelukis kulit kayu pulau Asei, Kampung Asei di Sentani, Sabtu.

Menurut dia, walaupun pembeli berkurang, dan kunjungan wisatawan ke pantai wisata khalkote dan Pulau Asei berkurang, mereka tetap melukis.

"Ini adalah budaya dan identitas  masyarakat Pulau Asei yang diwariskan oleh nenek moyang. Kami juga masih menjual lukisan ini di pantai wisata Kalkhote, atau di stand di pinggir jalan arah Bandara Sentani," ujarnya.

Selain itu, kata dia, para pelukis juga masih menerima pesanan lukisan dari pembeli, walaupun tentu saja saat ini jumlah pesanan sangat sedikit.

"Untuk kulit kayu sebagai kanvas lukisan, kami masih memiliki stok yang cukup. Bahan lukisan berupa kulit kayu, kami datangkan dan beli dari Yogyakarta, dengan harga per lembarnya Rp37.000 untuk ukuran 1 x 1 meter," katanya.

Untuk membeli kulit kayu dari Yogyakarta ini, tambah dia, para pelukis kulit kayu Asei patungan uang. Kemudian, uang yang terkumpul untuk membayar kulit kayu dan ongkos kirimnya dari Yogyakarta.

Sementara itu, Peneliti dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto mengatakan, dalam budaya Sentani, lukisan kulit kayu Asei berbahan kulit kayu pohon khombouw.

Lanjut dia, jenis pohon ini dulu banyak tumbuh alami di hutan sekitar Danau Sentani dan pegunungan Cyclops, namun saat ini pohon khombouw sulit untuk dijumpai karena penebangan liar dan tidak ada penanaman kembali pohon khombouw.

Hari mengatakan, kulit kayu yang didatangkan dari Yogyakarta merupakan kulit kayu pohon deluang, ampuro, kapuo yang banyak tumbuh alami di Kalimantan. Selain itu juga kulit kayu pohon lantung yang banyak tumbuh alami di Sumatera.

"Penjual kulit kayu di Yogyakarta, mendatangkan kulit kayu dari Kalimantan dan Sumatera, kemudian dijual ke Papua," katanya.

Untuk itu, menurutnya, perlu penanaman kembali pohon khombouw di sekitar Danau Sentani, hutan sekitar danau Sentani maupun di pegunungan Cycloops.

"Kalau perlu pohon khombouw dijadikan sebagai maskot flora dari Kabupaten Jayapura," kata Hari Suroto.

Editor: Vien Dimyati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut