Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Makna Mendalam di Balik Langendriyan pada Resepsi Pernikahan Gusti Sura-Kanjeng Dimas
Advertisement . Scroll to see content

Sejarah Tari Gambyong Pareanom di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas

Minggu, 08 November 2026 - 14:14:00 WIB
Sejarah Tari Gambyong Pareanom di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas
Tari Gambyong Pareanom Dhauap Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Ada yang istimewa dari pertunjukan seni budaya dalam resepsi pernikahan G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas di Pura Mangkunegaran, Sabtu (7/11/2026) malam.

Ya, di antara berbagai kesenian yang ditampilkan, Tari Gambyong Pareanom memiliki cerita sejarah yang panjang dan berkaitan erat dengan tradisi pernikahan keluarga Mangkunegaran.

Tarian tersebut bukan sekadar pertunjukan untuk menyambut tamu undangan. Gambyong Pareanom menyimpan jejak sejarah sejak 1950 dan pertama kali dipentaskan dalam pernikahan Gusti Nurul pada 1951.

Tari Gambyong Pareanom Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)
Tari Gambyong Pareanom Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

Kehadirannya dalam Dhaup Ageng Gusti Sura dan Kanjeng Dimas setelah 75 tahun pun terasa istimewa. Tarian yang pernah menghiasi pernikahan generasi terdahulu itu kembali hadir dalam perayaan pernikahan keluarga Mangkunegaran.

Namun, sejarah Gambyong Pareanom sebenarnya jauh lebih panjang daripada usianya sebagai tarian yang memiliki susunan gerak baku.

Mengutip Pusat Unggulan Iptek Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Tari Gambyong berakar dari tari rakyat yang dikenal sebagai tari tayub atau taledhek. Pada awal perkembangannya, tarian ini menjadi bagian dari hiburan masyarakat.

Seiring waktu, Gambyong mengalami proses penghalusan ketika mulai diperkenalkan ke lingkungan bangsawan. Salah satu tokoh yang berperan dalam proses tersebut adalah K.R.M.T. Wreksadiningrat, penata tari pada masa pemerintahan Pakubuwana IX (1861-1893).

Gerakan tari rakyat tersebut kemudian digarap agar sesuai dengan kaidah dan estetika tari kalangan bangsawan. Gambyong pun semakin dikenal dan kerap ditampilkan untuk menjamu tamu di lingkungan Istana Mangkunegaran.

Tari Gambyong Pareanom Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)
Tari Gambyong Pareanom Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

Perubahan penting terjadi pada 1950. Nyi Bei Mintoraras, seorang pelatih tari di lingkungan Mangkunegaran pada masa pemerintahan Mangkunegara VIII, menyusun koreografi Gambyong Pareanom yang lebih baku.

Setahun kemudian, tarian tersebut untuk pertama kalinya dipentaskan dalam upacara pernikahan Gusti Nurul, saudara perempuan Mangkunegara VIII, pada 1951.

Sejak saat itu, Gambyong Pareanom menjadi salah satu identitas kesenian Mangkunegaran. Tarian ini juga menjadi bagian dari perkembangan Tari Gambyong yang kemudian memiliki berbagai variasi koreografi.

Nama Pareanom sendiri merujuk pada warna hijau muda kekuningan yang menjadi bagian dari identitas Mangkunegaran. Sementara itu, nama Gambyong Pareanom juga berkaitan dengan gending atau iringan musik yang digunakan dalam tarian tersebut.

Dalam perkembangannya, Gambyong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi tarian penyambutan. Gerakannya yang luwes, lembut, dan dinamis menghadirkan kesan ramah sekaligus anggun ketika dipentaskan di hadapan tamu.

Keistimewaan Gambyong Pareanom dalam Dhaup Ageng kali ini juga berkaitan dengan upaya menjaga kesinambungan tradisi. Tarian yang dahulu hadir dalam pernikahan Gusti Nurul kini kembali ditampilkan dalam pernikahan Gusti Sura.

Dengan demikian, pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan resepsi, tetapi juga membawa ingatan tentang perjalanan budaya Mangkunegaran selama puluhan tahun.

Tari Gambyong Pareanom Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)
Tari Gambyong Pareanom Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

Dari tari rakyat yang berkembang menjadi kesenian istana hingga menjadi bagian dari tradisi penyambutan, Gambyong Pareanom memperlihatkan bagaimana sebuah warisan budaya dapat terus hidup melalui berbagai generasi.

Kehadirannya dalam Dhaup Ageng Gusti Sura dan Kanjeng Dimas sekaligus menghubungkan perayaan pernikahan masa kini dengan sejarah yang pernah terukir 75 tahun silam.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut