Terbang ke Chiang Rai Bersama Scoot, Kehangatan Perjalanan yang Membekas di Hati
JAKARTA, iNews.id - Ada perjalanan yang berkesan karena destinasi yang dikunjungi. Ada pula perjalanan yang justru meninggalkan kenangan sejak langkah pertama menuju pesawat. Pengalaman itulah yang penulis rasakan saat mengikuti Scoot FAM Trip menuju Chiang Rai, Thailand, pada 26–31 Oktober 2026.
Perjalanan menuju Thailand utara ini menjadi pengalaman tersendiri. Bukan hanya karena Chiang Rai menyimpan banyak tempat menarik untuk dijelajahi, tetapi juga karena perjalanan bersama Scoot menghadirkan sejumlah pengalaman kecil yang membuat setiap penerbangan terasa lebih personal.
Sebagai maskapai berbiaya rendah atau low-cost carrier, Scoot menawarkan pengalaman terbang yang cukup nyaman. Namun, ada satu hal yang terasa lebih membekas: perhatian sederhana dari para kru yang membuat penumpang merasa disambut sejak awal perjalanan.
Senin, 26 Oktober 2026, perjalanan dimulai dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Tujuan pertama adalah Bandara Changi, Singapura, sebelum melanjutkan penerbangan menuju Chiang Rai.
Salah satu pengalaman menarik sejak awal adalah layanan BoardMeFirst. Melalui layanan ini, penulis bersama rombongan mendapatkan kesempatan untuk naik ke pesawat lebih dahulu dibandingkan penumpang lainnya.

Kesempatan boarding lebih awal membuat proses masuk kabin terasa lebih leluasa. Penulis bisa menemukan tempat duduk dan menata barang bawaan tanpa perlu terburu-buru mengikuti antrean panjang.
Namun, bukan hanya layanan tersebut yang meninggalkan kesan. Sebelum duduk, para pramugari Scoot menyapa dengan ramah.
"Welcome to Scoot," ujar dua pramugari yang menyambut iNews.id.
Sapaan singkat itu terdengar sederhana, tetapi terasa hangat. Ada kesan bahwa perjalanan bukan sekadar proses memindahkan penumpang dari satu bandara ke bandara lain. Interaksi kecil seperti ini justru membuat suasana penerbangan terasa lebih bersahabat.

Setelah duduk, penulis mulai menikmati suasana kabin. Penerbangan Jakarta–Singapura kali ini menggunakan Embraer E190-E2, salah satu pesawat dalam armada Scoot yang dikenal memiliki mesin lebih senyap dan efisien dalam penggunaan bahan bakar.
Konfigurasi kabinnya terasa modern. Kursi cukup nyaman untuk perjalanan singkat, sementara ruang kaki masih memberikan keleluasaan untuk duduk tanpa merasa terlalu berhimpitan. Sandaran kepala juga dapat disesuaikan dengan posisi yang diinginkan, sehingga penumpang bisa mencari posisi istirahat yang lebih nyaman.
Suhu kabin terasa sejuk. Pendingin udara bekerja dengan baik, begitu pula fasilitas dasar seperti toilet yang menunjang kenyamanan selama penerbangan.
Sebelum pesawat lepas landas, penulis sudah memesan menu sarapan berupa curry chicken biryani rice. Hidangan ini menjadi teman perjalanan menuju Singapura.
Menikmati makanan di dalam pesawat memang memiliki sensasi tersendiri. Di tengah suasana kabin dan suara mesin yang mulai terdengar, hidangan yang telah dipesan sebelumnya menjadi bekal untuk mengisi tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.
Selain makanan, ada kejutan kecil lain yang membuat penerbangan kali ini terasa berbeda. Penulis mendapatkan merchandise spesial berupa chain hasil kolaborasi Scoot dengan Marvel Studios Spider-Man.

Suvenir tersebut menjadi detail menarik dalam perjalanan. Tidak selalu harus berupa fasilitas besar, terkadang benda kecil yang tidak terduga justru menjadi pengingat menyenangkan dari sebuah perjalanan.
Penerbangan menuju Singapura berlangsung relatif singkat, sekitar satu jam. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk beristirahat, sesekali mengalihkan pandangan ke luar jendela dan menikmati pemandangan dari ketinggian.
Ada momen ketika perjalanan terasa begitu cepat. Baru saja menikmati suasana kabin, pesawat sudah bersiap mendekati Changi.

Setibanya di Bandara Changi, penulis bersama rombongan memiliki waktu transit sebelum melanjutkan penerbangan ke Chiang Rai.
Di bandara ini, tim Indonesia kemudian bertemu dengan tiga jurnalis dari Singapura. Kami juga berkenalan dengan Debbie, perwakilan Scoot yang turut menemani perjalanan rombongan menuju Chiang Rai.
Waktu transit sekitar tiga jam menjadi kesempatan untuk beristirahat sekaligus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Changi menyediakan banyak area yang nyaman untuk menunggu penerbangan berikutnya. Penulis bahkan sempat membuka laptop dan menyelesaikan pekerjaan di sela waktu tersebut.
Karena penerbangan lanjutan masih menggunakan terminal yang sama, rombongan tidak perlu berpindah terminal. Hal ini membuat proses menunggu terasa lebih praktis.
Menjelang pukul 16.00 waktu Singapura, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi, BoardMeFirst memberikan kesempatan kepada rombongan untuk masuk ke kabin lebih awal.
Penerbangan dari Singapura menuju Chiang Rai menggunakan pesawat dengan konfigurasi kursi 2-2. Susunan ini membuat kabin terasa lebih intim, dengan dua kursi di setiap sisi lorong.
Setelah pesawat mengudara, waktunya kembali menikmati hidangan. Setiap paket makanan juga dilengkapi biskuit, bolu, serta satu pilihan minuman berupa air mineral atau minuman bersoda.
Sekitar tiga jam perjalanan dari Singapura akhirnya membawa kami mendekati Chiang Rai. Dari balik jendela pesawat, pemandangan kawasan Thailand utara mulai terlihat menjelang pendaratan.
Pesawat mendarat di Bandara Internasional Mae Fah Luang Chiang Rai ketika matahari sudah tenggelam, sekitar pukul 18.00 hingga mendekati 19.00 waktu setempat.
Suasana bandara ini terasa berbeda dari Changi yang begitu luas dan sibuk. Bangunannya relatif tidak terlalu besar, sehingga proses menuju pintu keluar terasa lebih singkat dan tidak melelahkan.
Di luar bandara, tim Kahavadi Chiang Rai, Curio Collection by Hilton, telah menunggu untuk menjemput rombongan.
Perjalanan menuju resor tidak memakan waktu terlalu lama. Sekitar pukul 19.30, penulis akhirnya tiba di tempat menginap yang akan menjadi rumah sementara selama beberapa hari ke depan.
Tak lama setelah tiba, rombongan diajak menikmati makan malam di resor. Perjalanan panjang dari Jakarta, transit di Singapura, hingga akhirnya tiba di Chiang Rai terasa terbayar dengan suasana istirahat yang nyaman.
Lima hari di Chiang Rai terasa berlalu begitu cepat. Sejak 26 Oktober, penulis menikmati berbagai pengalaman, mulai dari mengunjungi kuil-kuil ikonik, melihat kerajinan lokal, mencoba Muay Thai, hingga mencicipi hidangan khas Thailand.
Namun, setiap perjalanan tentu memiliki akhir.
Pada 31 Oktober 2026, tiba waktunya meninggalkan Kahavadi Chiang Rai. Ada perasaan berat ketika harus melangkahkan kaki keluar dari resor yang selama beberapa hari telah terasa seperti rumah sendiri.

Rasanya baru kemarin tiba dengan sambutan hangat, kini sudah harus kembali mengemas barang dan bersiap menuju bandara. Tetapi, Jakarta telah menunggu dengan rutinitas yang kembali memanggil.
Perjalanan pulang menggunakan Scoot dengan tujuan Singapura. Sebelum memasuki area boarding di Bandara Mae Fah Luang, penumpang menjalani pemeriksaan keamanan terhadap barang bawaan dan tubuh. Ada satu pengalaman yang cukup baru bagi penulis, melepas sepatu dalam proses pemeriksaan.
Pesawat lepas landas sekitar pukul 19.00 dan tiba di Bandara Changi sekitar pukul 23.00 waktu Singapura.
Meski perjalanan pulang terasa berbeda karena membawa banyak kenangan dari Chiang Rai, pelayanan kru Scoot tetap terasa konsisten. Sambutan ramah, suasana kabin yang sejuk, serta kursi yang nyaman membuat penerbangan kembali ke Singapura terasa menyenangkan.
Ruang kaki di kursi yang ditempati juga masih cukup leluasa. Sandaran kepala yang dapat diatur membantu menemukan posisi duduk yang lebih nyaman, terutama ketika tubuh mulai lelah setelah beberapa hari beraktivitas.
Tiba di Changi menjelang tengah malam, penulis tidak langsung melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Ada jeda istirahat yang perlu dimanfaatkan sebelum penerbangan pagi.
Kali ini, penulis berkesempatan menginap di YOTELAIR, hotel transit yang berada di dalam kawasan Jewel Changi Airport.

Sekilas, hotel ini mengingatkan pada konsep hotel kapsul. Namun, fasilitas tempat tidurnya terasa cukup nyaman, dengan kasur yang empuk untuk beristirahat setelah perjalanan panjang.
Memang, waktu menginap hanya beberapa jam. Namun, kesempatan untuk merebahkan tubuh dengan nyaman ternyata cukup membantu memulihkan tenaga. Pagi harinya, tubuh terasa lebih segar untuk melanjutkan perjalanan.
Salah satu hal menarik dari lokasi YOTELAIR adalah posisinya yang berada di seberang Rain Vortex, air terjun dalam ruangan ikonik di Jewel Changi Airport.
Jika memiliki waktu, pemandangan ini sayang untuk dilewatkan. Aliran air yang jatuh dari ketinggian, dikelilingi taman hijau dan area komersial Jewel, menghadirkan suasana yang berbeda dari bandara pada umumnya.

Pemandangan tersebut menjadi semacam penutup kecil sebelum kembali ke Jakarta. Ada waktu untuk menikmati suasana Changi sekali lagi, sebelum perjalanan benar-benar berakhir.
Penerbangan menuju Jakarta dijadwalkan pada pagi hari. Proses check-in dimulai sekitar pukul 05.55, dilanjutkan boarding pada pukul 06.55. Pesawat kemudian lepas landas sekitar pukul 07.55 dan mendarat di Jakarta sekitar pukul 09.00 WIB.
Perjalanan pulang ini menjadi bagian terakhir dari rangkaian Scoot FAM Trip ke Chiang Rai, Thailand.
Jika perjalanan berangkat diwarnai rasa penasaran terhadap destinasi yang akan dikunjungi, perjalanan pulang justru dipenuhi kenangan tentang tempat-tempat yang telah disinggahi. Ada kuil-kuil dengan arsitektur unik, keramahan orang-orang yang ditemui, makanan yang sempat dicicipi, hingga suasana resor yang kini terasa akrab.
Bagi penulis, pengalaman terbang bersama Scoot bukan hanya tentang fasilitas dan layanan yang tersedia di dalam pesawat. BoardMeFirst memang memberikan kemudahan untuk masuk kabin lebih awal. Kursi yang nyaman, ruang kaki yang cukup leluasa, suhu kabin yang sejuk, serta pilihan makanan juga menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

Namun, ada hal lain yang terasa lebih membekas, perhatian kecil dari para kru. Sapaan hangat ketika memasuki pesawat, pelayanan yang ramah selama penerbangan, dan suasana yang membuat perjalanan terasa nyaman.
Pada akhirnya, sebuah perjalanan tidak hanya dikenang dari seberapa jauh kita terbang atau berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi. Terkadang, justru hal-hal sederhana di sepanjang perjalanan yang tinggal lebih lama dalam ingatan.
Chiang Rai kini telah menjadi bagian dari cerita perjalanan yang akan selalu dikenang. Dan bersama Scoot, perjalanan menuju Thailand utara itu bukan sekadar pengalaman berpindah kota, melainkan rangkaian momen kecil yang membuat penulis merasa disambut, nyaman, dan enggan untuk segera pulang.
Editor: Muhammad Sukardi