Ternyata Ini Candi Terakhir Peninggalan Majapahit di Pulau Jawa, Relief Bercerita Seksualitas
JAKARTA, iNews.id - Ada banyak bangunan candi di Indonesia yang memiliki sejarah menakjubkan. Masing-masing memiliki daya pikat tersendiri. Salah satunya seperti candi yang ada di Desa Berjo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Di sini terdapat situs purbakala peninggalan salah satu kerajaan terbesar Indonesia, Majapahit. Dinamakan Candi Sukuh, candi ini diperkirakan dibangun pada tahun 1359 Masehi.
Candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian 1.186 meter di atas permukaan laut. Dari pusat Kota Karanganyar, candi ini berjarak kurang lebih 20 km.
Mengutip dari YouTube Asisi Channel, Jumat (25/6/2021), Candi Sukuh didirikan pada abad ke 15 masehi pada masa pemerintahan Ratu Majapahit bernama Suhita.
'The Last Temple’, begitulah julukan yang melekat. Candi Megah terakhir peninggalan umat Hindu di Pulau Jawa pada masa Majapahit. Candi ini terkenal karena bentuknya yang unik mirip Piramid.
Wisatawan bisa mendatangi candi ini untuk melihat-lihat dan belajar sejarah dari jam 7 pagi hingga 5 sore, dan cukup membayar tiket masuk seharga Rp7.000 per orang. Perlu diperhatikan, sebelum memasuki kawasan candi, wisatawan diharuskan memakai kain poleng untuk menghormati sejarah daerah tersebut.
Begitu masuk, para wisatawan akan melihat bangunan candi yang tersusun dari batuan andesit untuk mencegah tumbuhnya jamur. Di dalam candi terdapat beberapa relief yang menceritakan kepercayaan masyarakat sekitar di zaman Majapahit, salah satunya relief Garudeya. Relief ini menggambarkan seekor ular yang dimakan garuda, melambangkan kejahatan yang dikalahkan kebaikan.
Selain itu, ada banyak relief yang menunjukkan sisi seksual masyarakat zaman Majapahit. Beberapa di antaranya adalah relief kamasutra yang digunakan untuk mengetes keperawanan pemuda-pemudi dan relief berbentuk rahim menurut pandangan Jawa kuno yang menunjukkan proses bercinta dan konsepsi manusia berdasarkan kepercayaan masyarakat pada zaman itu.
Bukan bermaksud porno, relief ini diukir di candi sebagai pedoman untuk pasangan muda yang baru menikah karena, pada zaman Majapahit, seks dianggap ritual sakral yang tak berbeda dengan ibadah.
Keunikan candi ini terletak dibentuk bangunan dan relief yang dianggap menyerupai patung-patung dan lukisan dari Amerika Selatan milik Suku Aztec. Piramida berundak yang menjadi fokus utama candi ini dan patung-patung Garuda yang bergaya mirip patung Aztec sering memicu perdebatan di antara ahli sejarah dan pegiat teori konspirasi.
Sayangnya, candi ini dikotori vandalisme tangan-tangan jahil orang tak bertanggung jawab. Tapi, meskipun sudah banyak bagian candi yang hilang, entah ditelan waktu atau dicuri pihak tak bertanggungjawab, kawasan candi masih menyisakan tanah luas dan tembok-tembok batu yang menunjukkan kemegahan candi ini pada masa jayanya.
Editor: Vien Dimyati