Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Di Balik Sunyi Puhsarang, Destinasi Religi Menyimpan Jejak Sejarah
Advertisement . Scroll to see content

Terpikat Keindahan Banana Island di Lampung, Spot Eksotis Melihat Lumba-Lumba

Senin, 22 Juli 2019 - 10:07:00 WIB
Terpikat Keindahan Banana Island di Lampung, Spot Eksotis Melihat Lumba-Lumba
Keindahan Banana Island di Lampung (Foto : Instagram)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Pulau bernama Banana Island (Pulau Pisang) yang ada di Lampung ini terlihat cantik dan bersih. Pemandangan bawah lautnya juga menawan.

Di sepanjang pantai, Anda akan melihat deretan pohon kelapa yang melambai, dikelilingi pegunungan serta pulau-pulau indah. Pulau dengan laut yang cantik ini menawarkan kehidupan lumba-lumba di perairan lepas.

"Jika beruntung, Anda dapat melihat kawanan lumba-lumba yang sedang berenang di sekitar pantai. Hal ini membuktikan bahwa Pulau Pisang masih sangat alami dengan ekosistem darat dan lautnya yang masih terjaga. Bagi Anda yang butuh vitamin sea, mungkin Pulau Pisang bisa dijadikan list kunjungan ke depannya. Referensi foto: @kumoykusam, @fransnatanaell, @putri.lailawati, @tonggihsdngn_ dan @samsu.humas," tulis Instagram @indoflashlight, dikutip Senin (22/7/2019).

Pulau yang terletak di Kecamatan Pulau Pisang, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung ini dihuni kurang lebih 915 jiwa dari enam pekon (sebutan desa). Bagian barat dan selatan pulau ini berbatasan langsung sengan Samudera Hindia, sedangkan bagian utara dan timur berbatasan dengan Pulau Sumatera.

Selain bisa melihat kawanan lumba-lumba, Pulau Pisang menyuguhkan keindahan pantai yang menakjubkan. Pasir pantainya putih dan bersih. Selain keindahannya yang memesona, pulau ini juga memiliki beberapa spot wisata lain. Spot yang sering dikunjungi adalah Pantai Dermaga. Pantai ini terletak di Pekon Pasar. Spot ini memiliki ciri khas yang tidak akan ditemukan di tempat lain, yaitu adanya tiang-tiang beton sisa bangunan dermaga yang rusak tergerus ombak.

Dari sisa-sisa bangunan dermaga yang menjorok ke laut tersebut, Anda bisa loncat dan menyelami keindahan laut, menikmati airnya yang segar. Menjelang senja, keindahan pantai ini semakin lengkap dengan hadirnya matahari jingga yang turun perlahan seolah ditelan lautan di ufuk barat.

Spot lainnya, Batu Inton. Spot ini masih masuk ke dalam wilayah Pekon Pasar. Di sini, Anda dapat menyaksikan kerlap kerlip batu pantai yang diterpa sinar matahari, seperti melihat kilauan intan yang eksotis. Tak jauh dari Batu Inton, ada Gua Liang. Spot ini masuk dalam wilayah Pekon Bandar Dalam. Anda dapat melihat pemandangan laut lepas yang memesona, termasuk memandangi keindahan Batu Inton.

Di sepanjang perjalanan menuju Gua Liang, Anda akan menemukan banyak sekali kera ekor panjang bergantungan dan berlompatan dari satu pohon ke pohon lain. Sensasi perjalanan yang sulit untuk dilupakan. Spot lain yang juga harus dikunjungi adalah Batu Tiga. Letaknya di Pekon Sukamarga. Spot ini masih satu jalur dengan Gua Liang. Spot terakhir yang paling sering dikunjungi wisatawan adalah Batu Bughi (Ghuri). Spot ini masuk ke dalam Pekon Labuhan. Salah satu spot yang paling banyak dijadikan lokasi selfie.

Untuk mencapai Pulau Pisang Anda harus melakukan perjalanan darat dari Bandar Lampung menuju Krui (Bandar Lampung menuju Pringsewu, lanjut ke Kota Agungm Sedayu Bengkunet hingga Krui). Perjalanan ini biasanya memakan waktu 6-7 jam. Setibanya di Krui, ada dua alternatif jalur yang bisa dipilih untuk menuju tempat wisata ini.

Jalur Pertama, melanjutkan perjalanan darat selama 20 menit dari Krui hingga Pekon Tebakak menggunakan ojek. Dari Pelabuhan Tebakak perjalanan dilanjutkan menggunakan jukung (perahu) menuju Pulau Pisang. Perjalanan laut ini memakan waktu sekitar 15-20 menit, tergantung ombak. Harga tiket untuk sekali penyeberangan Rp15.000 per orang.

Pilihan kedua, perjalanan laut langsung dari Dermaga Kuala Krui. Dari Dermaga Krui hingga lokasi membutuhkan waktu sekitar satu jam. Perjalanan yang harus ditempuh memang lebih lama, namun ombak di jalur ini lebih bersahabat. Jika beruntung, Anda dapat melihat gerombolan lumba-lumba berenang di samping kapal.

Anda tidak akan mendapati aliran listrik di pulau ini. Warga sekitar hanya mengandalkan genset untuk menerangi rumah mereka pada saat malam. Itupun sampai pukul 23.00. Bagi Anda yang ingin menginap, penduduk menyediakan homestay yang bisa disewa dengan tarif sekitar Rp200.000 per malam.

Editor: Vien Dimyati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut