Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Raffi Ahmad Salut Sport Tourism Jadi Tren Baru di Kalangan Anak Muda
Advertisement . Scroll to see content

Tersembunyi di Sawangan Depok, Unik Ada Rumah Betawi Ora Masih Berdiri Kokoh

Senin, 19 Juli 2021 - 12:30:00 WIB
Tersembunyi di Sawangan Depok, Unik Ada Rumah Betawi Ora Masih Berdiri Kokoh
Mengenal rumah Betawi Ora (Foto: Ilo Hermanto)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Mengenal budaya dan sejarah peninggalan masa lalu memiliki daya tarik tersendiri. Ada banyak peninggalan nenek moyang yang bisa dijelajahi. 

Apalagi jika singgah ke Sawangan Depok. Di sini terdapat satu rumah tua yang masih berdiri kokoh bernama Rumah Betawi Ora. Penasaran seperti apa rumah Betawi Ora?

Rumah tempo dulu ini dikenal dengan nama Rumah Blandongan atau Rumah Betawi Ora. Betawi Ora merupakan sebutan untuk etnis Betawi di selatan Jakarta yang konon banyak dipengaruhi oleh budaya Jawa, Sunda, China dan Melayu. Kata 'ora' ini disematkan karena orang Betawi di wilayah ini masih banyak menggunakan kata asal bahasa Jawa ini dalam dialog sehari-hari yang artinya 'tidak'. Bahkan kata ini lebih khas dibanding penggunaan kata 'ngak' atau 'nggak' pada etnis Betawi di Jakarta.

Rumah Blandongan ini terdiri dari tiga bagian. Pertama, bangunan utama berbentuk panggung setinggi setengah meter dengan panjang dan lebar masing-masing 10 meter dan 8 meter. Bangunan utama ini dibagi menjadi beberapa bagian yaitu bale terbuka di bagian depan, kamar tidur di bagian tengah, serta dapur dan pangkeng (gudang) di bagian belakang. Dapur yang masih menggunakan tungku dari tanah liat dengan bahan bakar masih menggunakan kayu bakar serta pangkeng berada di atas tanah. 

Semua bagian bangunan utama tersusun dari tiang kayu pohon seperti nangka, kelapa atau jenis pohon tropis lainnya. Dinding disusun dari pagar anyaman bambu dihiasi beberapa jendela kayu, kecuali dinding bagian depan sudah mengalami renovasi dari kayu dicat coklat. 

Sementara, lantai panggung disusun dari bambu yang dibelah-belah membentuk bale. Semua material penyusun bangunan tidak ada yang menggunakan paku atau bahan logam karena memang zaman itu belum ada. 

Untuk memperkuat hubungan antar tiang digunakan paku juga dari kayu sebagai pengikat. Secara teori struktur bangunan tempo dulu ini tahan akan goncangan gempa bumi karena elastisitas bangunan. Sementara, itu bagian kolong rumah dapat difungsikan sebagai tempat tinggal hewan peliharaan seperti ayam, bebek atau manila.

Lantas kamar mandi di mana? Dalam tradisi leluhur, kamar mandi rumah tempo dulu ditempatkan pada bagian belakang dan terpisah dari rumah. Kenapa? Cerita dari orang tua dahulu, selain karena lahan sekitar rumah masih cukup luas juga untuk memisahkan area basah dan MCK tempat sumber penyakit. 

Bahkan untuk menentukan jarak kamar mandi dari rumah dilakukan dengan cara menggelindingkan tampah (sejenis nampan besar terbuat dari anyaman bambu) hingga jatuh di satu titik dan di sanalah sumur dan kamar mandi dibuat.

Kedua, blandongan atau dikenal pendopo dalam arsitektur Jawa. Blandongan merupakan bangunan terbuka tanpa dinding yang ditopang dengan beberapa tiang dari kayu dengan atap berbentuk limas yang memanjang dan beberapa kolom kayu yang menopang atap. Bahan penutup atap terbuat dari genteng tanah liat. Pada bagian lisplang (lis atap) dihiasi ornamen kayu model gigi belalang, sebagai ciri khas kebetawian.

Posisi blandongan berada di bagian depan rumah dengan posisi atap bertemu dengan atap bangunan utama di bagian bawah tempat pertemuan air hujan sebelum jatuh ke tanah. 

Dalam tradisi masyarakat tempo dulu blandongan difungsikan sebagai teras rumah untuk menerima tamu. Selain itu dilengkapi bale atau balai panggung untuk tempat santai penghuni dan bercengkerama dengan tetangga.

Jika pemilik rumah memiliki bayi, blandongan bisa difungsikan tempat ayunan sambil orang tua melakukan aktivitas lain. Bisa juga kalau tempat membuat dodol menjelang hari raya atau tempat hajatan kala menikahkan anak.

Dengan kata lain, blandongan merupakan area publik dan serbaguna bagi sang pemilik rumah. Blandongan ini menjadi ciri khas rumah warga Betawi Ora yang tidak dimiliki rumah warga Betawi Kota maupun etnis Sunda

Editor: Vien Dimyati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut