Tinggalkan Gaya Lama, seperti Ini Karakter Milenial Dunia Berwisata
JAKARTA, iNews.id - Untuk urusan travelling, generasi milenial menganggap berwisata sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan kebutuhan. Tidak heran jika pariwisata dunia dipenuhi dengan traveler milenial.
Wisatawan milenial akan mendominasi pasar wisata dunia dan kelompok wisatawan yang rata-rata berusia muda 18-34 tahun. Generasi Y ini mulai meninggalkan cara berwisata lama. Demikian salah satu hasil kesimpulan focus group discusstion (FGD) millennial tourism yang berlangsung di Jakarta, belum lama ini.
FGD yang digelar oleh Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar yang menghadirkan nara sumber Prof. Rhenald Kasali,Ph.D dari Founder Rumah Perubahan membahas tema seputar perubahan bisnis pariwisata dan tantangannya di era digital dan atau milennial tourism yang ditandai dengan terjadinya disrupsi (disruption) ekonomi pariwisata.
“Milenial yang membuat disrupsi di pariwisata. Disrupsi mempersingkat dan menekan harga dengan teknologi, sehingga membuat cara-cara lama tidak dipakai lagi. Milenial dan teknologinya bisa menyebabkan harga tidak naik meskipun rupiah turun,” kata Rhenald Kasali.
Rhenald Kasali menjelaskan, ciri milenial tiap negara berbeda-beda dan mereka memiliki kekhasan yang dilatarbelakangai oleh budaya dan lingkungan. Misalnya, milenial Amerika Serikat yang memiliki moto, work hard play hard mereka lebih suka mengumpulkan uang demi liburan yang berkualitas, sedangkan milenial Eropa dikenal memiliki budget conscious mempunyai kebiasaan travelling hingga tiga kali dalam setahun dan lebih menyukai personal guide.
Berbeda dengan milenial dari Asia dalam setahun melalukan travelling maksimal dua kali dengan jarak kurang dari empat jam dan menggunakan paket tour standar. “Untuk wisatawan milenial China mempunyai pengeluaran yang besar dalam melakukan travelling menggunakan paket tour dan lebih suka mencari destinasi yang populer. Selera wisatawan milenial China terjadi peningkatan khususnya dalam menggunakan hotel berbintang dari bintang tiga ke bintang empat,” kata Rhenald Kasali.
Dia juga mengatakan, kondisi tersebut berbeda dengan wisatawan milenial India lebih banyak dengan bujet paket tour dan family trip. “Wisatawan India agak pelit terutama dalam bayaran dan ngasih tip wisata,” katanya.
Bagaimana dengan wisatawan milenial Indonesia? Wisatawan milenial Indonesia dominan memilih travelling di dalam negeri atau domestik ataupun destinasi di kawasan Asia Tenggara atau region. "Destinasi di dalam region yang anti-mainstream sangat disukai wisatawan milenial Indonesia,” papar Rhenald Kasali.
Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Rizki Handayani mengatakan, pada 2019 lebih dari 50 persen dari tiap pasar pariwisata Indonesia sudah merupakan milenial. “Wisatawan milenial akan terus tumbuh dan menjadi pasar utama,” kata Rizki Handayani, melalui keterangan resmi yang diterima, Sabtu (20/10/2018).
Untuk pasar pariwisata Asia, didominasi wisatawan milenial berusia 15-34 tahun mencapai hingga 57 persen. Di China, generasi milenial akan mencapai 333 juta, Filipina 42 juta, Vietnam 26 juta, Thailand 19 juta, sedangkan Indonesia 82 juta.
Rizki Handayani mengatakan, banyak negara mulai menyasar pasar milenial Indonesia, seperti Korea dan Jepang, dengan gaya promosi dan iklan visual, promosi kebudayaan, kuliner, dan lainnya sangat menyasar wisatawan milenial. "Saya berharap pada 2019, Indonesia tidak kecolongan dalam mengantisipasi potensi wisatawan milenial," kata Rizki.
Kegiatan FGD milenial tourism melibatkan semua unsur Pentahelix pariwisata, yaitu akademisi, industri, komunitas, pemerintah dan media, di antaranya pimpinan perguruan tinggi pariwisata, Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), pejabat Kemenpar, dan media.
Editor: Vien Dimyati