Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Miss World 2026 Joheirry Mola Suka Banget Kuliner Indonesia, Cicipi Klepon hingga Sate
Advertisement . Scroll to see content

Bukan Cuma Kebab, Turki Punya Tradisi Sarapan dengan Beragam Hidangan di Meja

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:51:00 WIB
Bukan Cuma Kebab, Turki Punya Tradisi Sarapan dengan Beragam Hidangan di Meja
Kuliner Turki yang menarik. (Foto: Mei Sada Sirait)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Sarapan di Turki bukan sekadar menyantap roti atau telur sebelum memulai aktivitas. Di negara tersebut, waktu makan pagi justru menjadi momen untuk menikmati beragam hidangan sekaligus berkumpul bersama keluarga, terutama saat akhir pekan.

Tradisi ini dikenal dengan istilah kahvalti keyfi, yang secara harfiah merujuk pada kenikmatan saat sarapan. Berbeda dari kebiasaan makan pagi yang dilakukan secara singkat sebelum bekerja, tradisi tersebut mengajak orang meluangkan waktu untuk menikmati makanan tanpa terburu-buru.

Chef Sezai Zorlu, pemilik restoran Turkuaz, mengatakan sarapan memiliki posisi penting dalam keseharian masyarakat Turki. Menurut dia, pengalaman menikmati sarapan tidak hanya ditentukan oleh makanan yang tersaji, tetapi juga suasana kebersamaan di meja makan.

"Kalau sarapan Turki, itu bagian paling penting dari hari. Kami ingin masyarakat bisa menikmati sarapan ala Turki, terutama pada Sabtu dan Minggu, setelah bekerja selama satu minggu," ujar Sezai saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, belum lama ini.

Salah satu hal yang menarik dari tradisi sarapan Turki adalah banyaknya pilihan makanan yang disajikan dalam satu meja. Hidangannya tidak terbatas pada roti, tetapi juga mencakup sayuran, zaitun, keju, selai, madu, telur, hingga aneka olahan daging.

Berbagai jenis roti juga menjadi bagian dari sajian tersebut. Ada roti bertabur wijen, roti pipih, hingga donat goreng. Ragam hidangan ini memberikan pilihan rasa dan tekstur yang berbeda dalam satu kesempatan makan.

Cara penyajiannya pun memiliki karakter tersendiri. Menurut Sezai, hidangan dingin seperti sayuran, zaitun, dan makanan berbahan minyak zaitun biasanya disajikan lebih dahulu. Setelah itu, sarapan berlanjut dengan hidangan yang lebih berat, seperti telur dan daging.

Pola tersebut membuat kegiatan sarapan berlangsung secara bertahap. Orang tidak hanya mengambil satu makanan untuk segera disantap, tetapi menikmati berbagai sajian yang tersedia sambil menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.

Mirip Kebiasaan Kumpul Keluarga di Indonesia

Meski memiliki pilihan makanan yang berbeda, tradisi sarapan Turki mempunyai kesamaan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia. Di Tanah Air, sarapan bersama keluarga juga kerap menjadi kesempatan untuk berkumpul, khususnya pada akhir pekan ketika anggota keluarga memiliki lebih banyak waktu luang.

Menu yang tersaji bisa berbeda-beda, mulai dari nasi goreng, bubur ayam, nasi uduk, hingga aneka gorengan dan lauk. Namun, pengalaman makan bersama tidak selalu berhenti pada urusan makanan. Ada percakapan, cerita sehari-hari, dan waktu untuk menikmati kebersamaan.

Sezai menggambarkan kebiasaan tersebut sebagai bagian dari budaya yang tumbuh di tengah masyarakat. Dia membandingkannya dengan kebiasaan masyarakat Indonesia menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan.

"Di Indonesia ada budaya mal, sedangkan di Turki ada budaya sarapan," katanya.

Perbandingan itu menggambarkan bagaimana aktivitas sederhana dapat berkembang menjadi kebiasaan sosial. Jika pusat perbelanjaan menjadi salah satu tempat masyarakat Indonesia menghabiskan waktu luang, sarapan bersama juga menjadi pilihan bagi masyarakat Turki untuk menikmati akhir pekan.

Sarapan Bukan Sekadar Mengisi Perut

Tradisi kahvalti keyfi memperlihatkan bahwa pengalaman kuliner tidak selalu berkaitan dengan makanan mewah atau sajian yang rumit. Cara menikmati makanan dan waktu yang diluangkan bersama orang lain juga menjadi bagian penting dari tradisi tersebut.

Di tengah kehidupan perkotaan yang serba cepat, sarapan sering kali dilakukan sambil bersiap menjalani aktivitas. Tidak sedikit orang yang memilih makanan praktis agar bisa segera berangkat bekerja atau bersekolah.

Kebiasaan menikmati sarapan lebih lama saat akhir pekan menawarkan sudut pandang berbeda. Waktu makan bisa menjadi kesempatan untuk beristirahat sejenak dari rutinitas, berbincang dengan keluarga, dan menikmati hidangan tanpa terus-menerus melihat jam.

Kesamaan antara kebiasaan sarapan di Indonesia dan Turki pada akhirnya bukan semata-mata terletak pada jenis makanan yang disajikan. Lebih dari itu, keduanya memperlihatkan bagaimana meja makan dapat menjadi ruang untuk membangun kedekatan.

Dari roti, keju, zaitun, hingga hidangan telur dan daging, sarapan tradisional Turki menawarkan pengalaman kuliner yang beragam. Namun, di balik aneka makanan tersebut, ada nilai sederhana yang juga akrab bagi masyarakat Indonesia: menikmati makanan terasa lebih bermakna ketika dilakukan bersama orang-orang terdekat.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut