Chef Karen Carlotta Pamer Kreasi Kuliner Fusion, Perpaduan Rasa Jadi Daya Tariknya!
JAKARTA, iNews.id - Kreativitas dalam mengolah bahan dan memadukan cita rasa menjadi salah satu daya tarik dunia kuliner. Tren ini membuka ruang bagi para chef untuk bereksperimen menghadirkan hidangan dengan karakter berbeda, salah satunya melalui konsep fusion yang menggabungkan inspirasi dari berbagai tradisi masakan.
Eksplorasi tersebut terlihat dalam kreasi kuliner yang dihadirkan Chef Karen Carlotta bersama Chef Norman Ismail dan Chef Risa Andithia di Krista Interfood 2026, NICE PIK 2, Jakarta. Ketiganya memperkenalkan beragam kreasi menu dengan sentuhan fusion yang memperlihatkan bagaimana perpaduan bahan, tekstur, dan teknik memasak dapat menghasilkan pengalaman rasa berbeda.
Dalam dunia kuliner, konsep fusion memberikan keleluasaan bagi chef untuk mengembangkan ide tanpa terpaku pada satu tradisi masakan. Perpaduan bahan lokal dengan teknik memasak internasional, misalnya, dapat menghasilkan hidangan yang memiliki karakter baru.
Namun, menggabungkan berbagai unsur kuliner bukan sekadar mencampurkan bahan. Keseimbangan rasa, aroma, dan tekstur tetap menjadi hal penting agar setiap elemen dapat saling melengkapi. Di sinilah kreativitas dan pemahaman chef terhadap karakter bahan memainkan peran besar.
Eksplorasi menu tersebut juga berlangsung di tengah pertumbuhan industri makanan dan minuman (F&B), termasuk sektor bakery. Pasar bakery Indonesia diproyeksikan mencatat pertumbuhan tahunan majemuk atau compound annual growth rate (CAGR) sebesar 8 persen hingga 2028, dengan nilai pasar diperkirakan melampaui Rp84,4 triliun.
Di tingkat Asia Tenggara, nilai pasar industri bakery juga diproyeksikan meningkat dari 10,89 miliar dolar AS pada 2023 menjadi 14,99 miliar dolar AS pada 2028. Pertumbuhan ini memperlihatkan besarnya peluang industri bakery sekaligus persaingan yang mendorong pelaku usaha menghadirkan produk dan kreasi baru.
Dalam pengembangan produk bakery dan pastry, pemilihan bahan baku menjadi salah satu faktor yang menentukan kualitas hasil akhir. Aroma, kelembutan, tekstur, hingga konsistensi produk perlu diperhatikan agar kreasi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Head of Marketing PT Flora Food Indonesia, Ade Savitri, mengatakan perubahan kebutuhan industri F&B turut memengaruhi cara pelaku usaha mengembangkan produk dan menu. Menurutnya, inovasi perlu berangkat dari pemahaman terhadap kebutuhan konsumen dan pelaku usaha kuliner.
"Bagi kami, inovasi bukan tentang membuat sesuatu yang sekadar berbeda saja. Yang lebih penting adalah bagaimana inovasi dapat membantu pelaku F&B mengeksplorasi cita rasa, tekstur, dan kreasi menu yang sesuai dengan kebutuhan konsumen," kata Ade dalam perilisan BlueBand Butter Blend dan BlueBand Canola Oil, belum lama ini.
"Karena itu, kami melihat pengembangan produk harus selalu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap kebutuhan pelaku F&B," tambahnya.
Dia berharap kolaborasi antara industri, chef, dan penyedia bahan dapat membuka lebih banyak ruang eksplorasi bagi perkembangan dunia kuliner.
"Kami berharap kolaborasi dan inovasi yang kami hadirkan dapat terus membuka ruang bagi para pelaku F&B untuk berkembang dan menciptakan lebih banyak kreasi. Kami percaya, ketika industri, chef, dan penyedia bahan dapat saling berbagi pengetahuan dan inspirasi, akan semakin banyak peluang baru yang dapat lahir dari dapur profesional," katanya.
Editor: Muhammad Sukardi