Kopi dan Pastry Makin Tak Terpisahkan, Begini Budaya Ngopi Zaman Now!
JAKARTA, iNews.id - Budaya minum kopi di Indonesia terus berubah. Jika dulu secangkir kopi identik dengan minuman untuk menemani waktu santai, kini coffee shop berkembang menjadi ruang untuk bekerja, bertemu, bersosialisasi, hingga menikmati makanan.
Perubahan tersebut ikut membuat kopi tidak lagi berdiri sendiri. Beragam makanan, terutama bakery dan pastry, semakin sering hadir sebagai teman menikmati kopi.
Kombinasi kopi dan pastry bahkan mulai dikembangkan dalam konsep coffee pairing. Karakter kopi yang memiliki rasa pahit, asam, fruity, atau aroma tertentu dapat dipadukan dengan makanan yang memiliki rasa dan tekstur berbeda.

Co-Founder & Head Roaster .TEMU, Angeline Lauwrence, mengatakan perubahan fungsi coffee shop membuat kebutuhan konsumen ikut berkembang.
"Coffee shop saat ini bukan lagi hanya tempat menikmati kopi. Kebutuhan konsumen semakin beragam, sehingga bisnis juga perlu terus berkembang untuk memberikan pengalaman yang lebih lengkap," ujar Angeline dalam keterangannya, Rabu (30/9/2026).
Menurut Angeline, bakery dan pastry dapat menjadi kategori yang melengkapi pengalaman konsumen ketika berada di coffee shop. Konsumen tidak hanya mencari secangkir kopi, tetapi juga pilihan makanan yang dapat menemani aktivitas mereka.
Perubahan tersebut membuat konsep pairing menjadi semakin menarik. Kopi dan pastry dapat dipilih berdasarkan karakter rasa masing-masing sehingga pengalaman menikmati keduanya menjadi lebih beragam.
Salah satu bentuk inovasi yang berkembang adalah bite-sized pastry atau pastry berukuran kecil. Ukuran mungil membuat konsumen memiliki kesempatan untuk mencoba beberapa jenis sajian sekaligus.
Chef Louis Tanuhadi, President Indonesia Pastry and Bakery Society, mengatakan nilai sebuah pastry tidak selalu bergantung pada penggunaan bahan yang mahal.
"Nilai sebuah menu tidak hanya ditentukan oleh bahan yang digunakan, tetapi bagaimana kita memahami karakter bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, dan menyajikannya dengan cara yang memberikan value lebih bagi konsumen," ujar Chef Louis.
Menurutnya, karakter bahan, teknik pengolahan, rasa, tekstur, ukuran, dan penyajian menjadi sejumlah elemen yang menentukan pengalaman konsumen terhadap sebuah menu.
Dalam format bite-sized, elemen tersebut dapat dieksplorasi dalam ukuran yang lebih kecil. Konsumen pun bisa menikmati beberapa rasa tanpa harus memilih satu porsi besar.
Konsep ini juga membuat pastry tidak selalu harus hadir dalam bentuk makanan manis. Sajian gurih dapat menjadi alternatif ketika dipadukan dengan kopi.
Dalam eksplorasi menu pada gelaran Indomilk Bakepreneur Roadshow: The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffee Pairing di Jakarta, misalnya, Chef Louis menghadirkan Lemon Raspberry Madeleine, Tiramichoux, dan Quiche Soto Ayam.
Ketiga kreasi tersebut menunjukkan bagaimana pastry dapat dikembangkan dengan karakter rasa, tekstur, dan ukuran yang berbeda untuk memberikan pengalaman baru ketika dinikmati bersama kopi.
Meski inovasi makanan terus berkembang, pelaku bisnis bakery dan dessert tetap harus memperhitungkan aspek operasional. Menu yang menarik bagi konsumen perlu tetap bisa diproduksi secara konsisten dan memiliki perhitungan biaya yang masuk akal.
Founder Bittersweet by Najla, Najla Farid Bisyir, mengatakan efisiensi tidak seharusnya dilakukan dengan mengorbankan kualitas.
"Efisiensi bukan berarti menurunkan standar. Tantangannya adalah menemukan keseimbangan antara kualitas, cost, konsistensi, dan inovasi agar bisnis tetap kompetitif dan terus berkembang," ujar Najla.
Menurut Najla, biaya produksi juga tidak cukup dihitung dari harga bahan baku. Pelaku usaha perlu melihat performa bahan, konsistensi, ketersediaan, yield, hingga potensi waste.
Hal tersebut menjadi penting ketika sebuah tren kuliner mulai dikembangkan menjadi menu yang ditawarkan kepada konsumen. Kreativitas tetap dibutuhkan, tetapi harus berjalan beriringan dengan kemampuan operasional.
Coffee pairing dan bundling juga dapat memberikan pilihan baru bagi konsumen. Namun, konsep tersebut tetap perlu disesuaikan dengan karakter pelanggan dan pola konsumsi masing-masing coffee shop.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa budaya ngopi saat ini semakin luas. Coffee shop bukan hanya tempat untuk membeli kopi, melainkan bagian dari keseharian masyarakat.
Ada konsumen yang datang untuk bekerja, melakukan pertemuan, bertemu teman, atau sekadar menghabiskan waktu. Dalam situasi tersebut, makanan menjadi bagian yang semakin penting dari pengalaman di coffee shop.
General Manager Cold Chain PT Indolakto, Adryan Widodo, mengatakan pelaku F&B tidak cukup hanya mengikuti tren yang sedang berkembang.
"Bagi pelaku F&B, mengikuti tren saja tidak cukup. Tantangannya adalah bagaimana tren dapat diterjemahkan menjadi menu yang relevan bagi konsumen, konsisten saat diproduksi, dan tetap memberikan nilai bagi bisnis," kata Adryan.
Dia melanjutkan, "Di tengah tekanan biaya dan persaingan yang semakin ketat, pelaku usaha perlu semakin cermat dalam menjaga kualitas, mengelola cost, dan terus menciptakan value."
Menurutnya, perubahan kebiasaan konsumen perlu diterjemahkan menjadi inovasi yang tetap mempertimbangkan kualitas dan keberlangsungan bisnis.
Perkembangan coffee culture akhirnya membuat batas antara kedai kopi dan tempat makan semakin cair. Kopi dapat hadir bersama pastry, bakery, maupun makanan lain yang sesuai dengan karakter konsumen.
Dengan begitu, menikmati kopi pada zaman sekarang bukan lagi sekadar soal minuman. Ada pilihan makanan, suasana, aktivitas, hingga pengalaman rasa yang membuat kebiasaan ngopi terus berkembang mengikuti gaya hidup masyarakat.
Meta deskripsi: Budaya ngopi di Indonesia terus berubah. Kopi dan pastry kini makin sering dipadukan di coffee shop, menghadirkan pengalaman rasa yang lebih beragam bagi konsumen.
Editor: Muhammad Sukardi