Mencicipi Khao Taen, Camilan Tradisional Thailand Utara yang Mirip Rengginang!
CHIANG RAI, iNews.id - Pengalaman mencicipi kuliner khas suatu daerah tak selalu harus dimulai dari restoran atau pasar tradisional. Terkadang, kejutan justru datang dari camilan yang tersaji di kamar hotel.
Inilah yang dialami penulis saat menginap di Kahavadi Chiang Rai, Curio Collection by Hilton, dalam perjalanan iNews.id bersama Scoot ke Thailand. Seperti apa rasa dari camilan ini?
Di kamar tempat penulis menginap, tersaji welcome snack berupa Khao Taen, camilan tradisional masyarakat Thailand Utara. Sekilas, bentuknya mengingatkan pada rengginang, camilan berbahan dasar beras ketan yang cukup akrab di lidah masyarakat Indonesia.

Namun, ada hal menarik dari cara penyajian Khao Taen di penginapan tersebut. Tamu tidak sekadar menikmati camilan yang sudah jadi, tetapi juga diberi kesempatan untuk meracik sendiri topping sesuai selera.
Tiga pilihan topping tersedia, yakni phu lae atau selai nanas, *coconut caramel*, dan granola. Ketiganya menawarkan karakter rasa yang berbeda sehingga memberikan pengalaman tersendiri saat menikmati camilan tradisional ini.
Penulis pun mencoba meracik Khao Taen dengan menambahkan topping yang tersedia. Perpaduan rasa yang muncul ternyata cukup unik. Ada sensasi manis dari karamel kelapa, rasa asam-manis dari selai nanas, serta tekstur renyah dari granola yang melengkapi kerenyahan Khao Taen.
Saat disantap bersama topping, rasa yang muncul terasa campur aduk, mulai dari manis, gurih, hingga sedikit asam. Perpaduan ini membuat Khao Taen terasa berbeda dari camilan beras pada umumnya.
Pengalaman tersebut menjadi semakin menarik ketika Khao Taen dicicipi tanpa tambahan topping. Rasa gurih dari camilan ini langsung terasa, mengingatkan penulis pada rengginang yang biasa dijumpai di Indonesia.
Kemiripan itu bukan tanpa alasan. Khao Taen dan rengginang sama-sama dikenal sebagai camilan berbahan dasar beras ketan yang diolah hingga menghasilkan tekstur renyah. Meski demikian, keduanya memiliki karakter penyajian dan variasi rasa yang berbeda.
Khao Taen sendiri dikenal sebagai camilan tradisional Thailand Utara. Dalam penyajian yang ditemui penulis di Kahavadi Chiang Rai, camilan ini tampil dengan pendekatan yang lebih personal karena tamu bisa menentukan sendiri kombinasi topping yang ingin dicoba.
Cara penyajian tersebut juga memberikan kesempatan kepada tamu untuk bereksperimen dengan rasa. Khao Taen yang awalnya sederhana bisa menghadirkan sensasi berbeda hanya dengan menambahkan topping sesuai selera.

Selain cocok dinikmati sebagai camilan, Khao Taen juga bisa menjadi teman minum teh atau kopi. Teksturnya yang renyah berpadu dengan rasa gurih membuatnya menarik disantap saat bersantai di sela-sela aktivitas perjalanan.
Bagi penulis, mencicipi Khao Taen menjadi pengalaman kecil yang berkesan selama berada di Chiang Rai. Camilan ini bukan hanya memperkenalkan kekayaan kuliner Thailand Utara, tetapi juga menghadirkan rasa yang terasa akrab bagi lidah orang Indonesia.
Sekilas menyerupai rengginang, Khao Taen menawarkan pengalaman berbeda ketika dipadukan dengan beragam topping. Dari rasa gurih saat disantap polos hingga perpaduan manis dan asam setelah diberi topping, camilan tradisional ini membuktikan bahwa pengalaman kuliner menarik bisa ditemukan bahkan dari sajian sederhana di kamar hotel.
Editor: Muhammad Sukardi