Menjelajah Budaya Thailand di Jakarta Lewat Kuliner, dari Hidangan Autentik hingga Ritual Minum Teh
JAKARTA, iNews.id – Apa yang terlintas ketika mendengar kulinerThailand? Tom yum dengan rasa asam dan pedas, pad thai, atau mango sticky rice yang manis?
Hidangan-hidangan tersebut memang telah akrab di lidah masyarakat Indonesia. Namun, kuliner Thailand sebenarnya menyimpan cerita budaya yang jauh lebih luas dari sekadar rasa.
Makanan, teh, hingga cara menikmati waktu bersama menjadi bagian dari tradisi yang ikut membentuk pengalaman kuliner di Thailand.
Nuansa tersebut dapat ditemui di Jakarta, salah satunya melalui Saa Waan Thai Bistro & Tea Room yang mulai beroperasi pada akhir Agustus 2026. Alih-alih hanya mengandalkan menu Thailand, tempat ini memadukan hidangan autentik dengan tradisi menikmati teh dari Thailand bagian utara.
Pendekatan tersebut menarik karena makanan menjadi pintu masuk untuk mengenal budaya. Dari suatu hidangan, pengunjung dapat melihat bagaimana cita rasa dibangun, bahan dipilih, hingga bagaimana makanan kemudian dinikmati bersama.
Salah satu ciri yang membuat masakan Thailand mudah dikenali adalah keberanian memainkan banyak rasa dalam satu hidangan.
Manis, asam, asin, dan pedas dapat hadir secara bersamaan, tetapi tetap dibuat seimbang. Karakter tersebut bukan hanya persoalan teknik memasak, melainkan bagian dari identitas kuliner Thailand yang kemudian berkembang dan dikenal di berbagai negara.
Di Jakarta, pendekatan terhadap masakan Thailand itu tetap dipertahankan dalam hidangan. Resep dan cita rasa autentik menjadi acuan, sementara penyajiannya dibuat lebih modern.
Operational Director & Business Development Jittlada Group, Patrick Soebyantoro, mengatakan perhatian terhadap keseimbangan rasa menjadi salah satu hal yang dijaga dalam setiap hidangan.
"Di Saa Waan, beragam hidangan terinspirasi dari resep dan cita rasa autentik Thailand. Setiap hidangan dipersiapkan dengan perhatian terhadap kualitas bahan, keseimbangan rasa, serta penyajian yang refined namun tetap mempertahankan karakter asli masakan Thailand," ujar Patrick dalam keterangan resminya, Kamis (3/9/2026).
Namun, cerita mengenai Thailand tidak berhenti setelah makanan tersaji di meja.
Di Thailand, teh juga memiliki kisahnya sendiri. Salah satunya datang dari Chiang Rai di wilayah Thailand utara, yang dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil teh.
Dari wilayah tersebut, pilihan premium organic tea turut menjadi bagian dari pengalaman bersantap di sini.
Kehadiran tea room memberikan suasana berbeda dari restoran pada umumnya. Teh tidak sekadar ditempatkan sebagai minuman pendamping makanan, tetapi dinikmati secara lebih perlahan.
Ada jeda untuk menyeruput teh, berbincang, atau sekadar menikmati waktu. Kebiasaan sederhana tersebut memperlihatkan bagaimana makanan dan minuman dapat memiliki fungsi sosial dalam sebuah kebudayaan.
"Tea room menjadi salah satu elemen penting dalam konsep kami, menghadirkan sisi lain dari budaya Thailand melalui ritual menikmati teh dalam suasana yang lebih santai dan personal," kata Patrick.
Dengan demikian, kuliner menjadi semacam jembatan budaya. Jika hidangan memperkenalkan karakter rasa Thailand, teh memperlihatkan sisi lain yang lebih tenang dari tradisi tersebut.
Gambaran mengenai budaya Thailand juga terlihat ketika tempat kuliner tersebut resmi dibuka pada 29 Agustus 2026.
Pembukaan diawali dengan 'Blessing Ceremony' yang melibatkan sembilan biksu. Prosesi pemberkatan tersebut menjadi bagian dari tradisi sekaligus simbol doa dan harapan untuk perjalanan yang baik.

Ada pula pemberian 'Sacred Blessing Mark' pada logo sebagai bagian dari prosesi tersebut.
Setelah itu, nuansa Thailand diperkuat melalui penampilan Traditional Thai Dance. Seni tari tersebut hadir berdampingan dengan sajian makanan dan minuman, memperlihatkan bahwa pengalaman kuliner tidak bisa dilepaskan dari unsur budaya yang melingkupinya.
Rangkaian tersebut menjadi gambaran kecil bagaimana budaya Thailand dapat dinikmati di Jakarta melalui berbagai elemen sekaligus. Tidak hanya lewat makanan, tetapi juga melalui teh, seni pertunjukan, dan tradisi yang menyertainya.
Bagi masyarakat yang selama ini mengenal Thailand terutama melalui kulinernya, pendekatan semacam ini memberikan perspektif berbeda. Sepiring makanan tidak lagi sekadar soal rasa, sementara secangkir teh dapat menjadi alasan untuk berhenti sejenak dan mengenal kebiasaan dari budaya lain.
Pada akhirnya, perjalanan mengenal Thailand bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana, duduk di meja makan, mencicipi hidangan, kemudian menikmati secangkir teh dengan lebih perlahan.
Editor: Muhammad Sukardi