Rahang Tuna Diburu Pencinta Kuliner, Ini Rahasia Kelezatannya!
JAKARTA, iNews.id — Rahang tuna belakangan semakin mencuri perhatian pencinta kuliner. Bagian ikan yang identik dengan tulang besar ini justru memiliki daging lembut dan rasa gurih yang membuatnya mulai banyak diburu sebagai salah satu sajian khas olahan Nusantara.
Popularitas rahang tuna bahkan semakin terlihat seiring menjamurnya restoran yang menyajikan hidangan bergaya Manado. Menurut Chef-Owner Antarasa, Chef Arcad Fadillah, rahang tuna sebenarnya bukan hidangan baru. Namun, belakangan semakin banyak restoran yang berani mengangkatnya sebagai menu utama.
“Kenapa lagi hype? Sebenarnya mungkin hype-nya ini belakangan karena Manado restaurant lagi banyak yang berani keluarin. Sebenarnya dari zaman dulu Manado restaurant sudah jual rahang tuna,” kata Chef Arcad saat ditemui di Antarasa One Satrio, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Lantas, apa yang membuat rahang tuna begitu menarik bagi pencinta kuliner? Simak ulasan selengkapnya hanya di artikel ini.
Rahasia kelezatan rahang tuna ternyata terletak pada bagian daging di sekitar pipi dan leher ikan. Area tersebut memiliki kandungan lemak alami yang memberikan tekstur lembut ketika dimasak.
“Kalau bagian rahang itu, si bagian cheek atau bagian lehernya itu yang banyak ada fat natural-nya. Makanya kalau dibakar dia ada lembutnya, tapi enggak ngerasa berlemak banget, lemaknya seimbang,” jelas Chef Arcad.
Karakter tersebut membuat rahang tuna berbeda dari bagian ikan lainnya. Ketika dibakar, dagingnya tetap terasa lembut dan juicy, sementara lemak alami memberikan rasa gurih tanpa membuatnya terasa terlalu berat.
Bagi pencinta ikan bakar, kombinasi tekstur tersebut menjadi salah satu daya tarik utama. Apalagi jika rahang tuna dipadukan dengan sambal yang memiliki rasa pedas dan segar.
Keistimewaan rahang tuna juga tidak hanya berasal dari rasa. Bagian ini memiliki ketersediaan yang terbatas karena satu ekor tuna hanya menghasilkan dua potong rahang.
“Ini salah satu hot orders sekarang, karena semua restoran Indonesia lagi pada jualan ini. Dan barangnya sedikit, satu tuna cuma bisa dapat kiri-kanan,” ujar Chef Arcad.
Ukuran potongannya pun tergolong besar. Satu rahang tuna dapat memiliki bobot sekitar 400 hingga 600 gram, bergantung pada ukuran dan jenis tuna.
Chef Arcad menjelaskan, tuna yang ditemukan di perairan Indonesia terdiri atas beragam jenis dengan bentuk tubuh yang berbeda. Meski demikian, karakter rasa dagingnya dinilai masih memiliki kemiripan.
“Rahangnya saja tuh bisa bisa 400 sampai 600 gram, untungnya tuna di Indonesia tuh jenisnya macam-macam. Kalau misalnya teman-teman lihat, ini ada yang bulat nanti kalau ketemu ada yang panjang. Karena apa? Tuna itu modelnya macam-macam. Cuman kebetulan di perairan kita tunanya walaupun dia beda-beda jenisnya tapi secara rasa masih mirip-mirip dan masih dekat-dekat,” bebernya.
Salah satu cara mengolah rahang tuna yang semakin populer adalah dengan membakarnya. Daging yang lembut kemudian dipadukan dengan sambal bercita rasa kuat untuk memberikan sensasi yang lebih kompleks.
Di Antarasa, rahang tuna disajikan dengan sambal dabu-dabu khas Manado. Chef Arcad menyebut versi tersebut sebagai pengembangan dari menu rahang tuna yang sebelumnya telah tersedia.
“Ini sudah ada dari awal, tapi ini kalau saya bilang Rahang Tuna 2.0, karena yang pertama modelannya nggak terlalu Manado, yang ini pakai sambal dabu-dabu khas Manado,” lanjutnya.
Sambal dabu-dabu yang segar dan pedas menjadi pasangan yang cocok untuk daging tuna bakar. Rasa gurih dari ikan berpadu dengan sensasi segar dan pedas dari sambal, membuat karakter rahang tuna semakin kuat.
Satu hal yang mungkin membuat sebagian orang ragu menyantap rahang tuna adalah ukuran tulangnya. Bagian tersebut memang memiliki tulang yang cukup besar sehingga cara menyantapnya sedikit berbeda dari potongan ikan biasa.
Namun, tulang tersebut dapat dilepas terlebih dahulu agar lebih mudah disantap.
“Tulangnya kan cukup gede kalau ini sebenarnya kalau rahang tuna. Tapi di sini sih sebenarnya kalau misalnya teman-teman pengen rahang tunanya dilepasin dari ini (tulang), kami juga bisa bantuin," ujarnya.
Dia menambahkan, "Jadi sebenarnya kalau di Antarasa banyak, apalagi kalau di sini itu paling banyak karena teman-teman pada kerja di sini sambil makan mereka ingin makan tuna juga tapi nggak mau berantakan kan."
Fenomena rahang tuna memperlihatkan bagaimana bagian ikan yang sebelumnya kurang mendapat sorotan kini bisa menjadi sajian yang menarik perhatian. Tekstur lembut pada bagian pipi dan leher, lemak alami yang seimbang, rasa gurih, serta ketersediaannya yang terbatas menjadi sejumlah faktor yang membuat rahang tuna semakin diburu pencinta kuliner.
Bagi penggemar olahan ikan, rahang tuna pun menawarkan pengalaman berbeda: bukan sekadar menikmati daging ikan, tetapi juga mencicipi bagian yang selama ini mungkin belum menjadi pilihan utama di meja makan.
Editor: Muhammad Sukardi