Rahasia Biskuit Klasik Tetap Digemari di Tengah Camilan Kekinian, Ini Jawabannya!
JAKARTA, iNews.id - Tren camilan terus berkembang. Beragam makanan ringan dengan rasa, bentuk, dan kemasan kekinian bermunculan untuk menarik perhatian konsumen. Namun, di tengah perubahan tersebut, beberapa biskuit klasik masih mampu mempertahankan tempatnya di hati masyarakat.
Biskuit yang sudah dikenal sejak lama tidak selalu harus menawarkan sesuatu yang rumit untuk tetap diminati. Rasa yang familiar, harga terjangkau, serta mudah ditemukan menjadi sejumlah faktor yang membuat camilan sederhana ini tetap relevan bagi konsumen dari berbagai generasi.
Kebiasaan mengonsumsi biskuit juga sering kali terbentuk sejak usia anak-anak. Bagi sebagian masyarakat, biskuit menjadi teman minum teh atau susu, camilan di sela aktivitas, hingga stok makanan ringan di rumah.

Karakter yang sederhana tersebut justru menjadi salah satu kekuatan biskuit klasik. Konsumen tidak perlu beradaptasi dengan rasa yang terlalu berbeda karena produk yang dikonsumsi hari ini dapat mengingatkan mereka pada pengalaman saat masih kecil.
Namun, mempertahankan produk klasik bukan berarti berhenti berinovasi. Produsen tetap perlu mengikuti perkembangan selera konsumen tanpa menghilangkan karakter utama yang sudah dikenal.
Hal tersebut terlihat dari langkah PT Asia Sakti Wahid Foods Manufacture (ASW Foods) yang mengembangkan produk ATB Marie Biskuit dengan dua pilihan rasa, yakni original dengan cita rasa susu dan varian kelapa.
Produk tersebut juga berhasil meraih penghargaan Superbrands Indonesia. Pencapaian ini menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap upaya perusahaan dalam mempertahankan kualitas dan kepercayaan konsumen.
"Kami sangat bersyukur dan bangga atas kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat Indonesia," UJAR ujar Head Div Corporate Marketing ASW Foods Raymond C Widodo dalam keterangan resminya, Kamis (8/10/2026).
"Penghargaan Superbrands untuk ATB Marie Biskuit ini bukan hanya sebuah apresiasi, tetapi juga tanggung jawab bagi kami untuk terus berinovasi dan menghadirkan produk berkualitas tinggi yang menemani momen hangat keluarga Indonesia," tambahnya.
Menurutnya, kepercayaan konsumen menjadi bagian penting dalam perjalanan produk yang telah hadir di tengah masyarakat.
Di sisi lain, persaingan industri makanan ringan membuat produsen tidak cukup hanya mengandalkan popularitas produk lama. Kemudahan konsumen mendapatkan produk serta kemampuan membaca perubahan selera juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan pasar.
Biskuit klasik pun harus mampu menemukan titik tengah antara mempertahankan rasa yang sudah dikenal dan menghadirkan sesuatu yang baru.
Inilah yang membuat kategori biskuit klasik tetap bertahan. Konsumen mendapatkan rasa yang familiar, sementara produsen tetap memiliki ruang untuk melakukan inovasi.
Pada akhirnya, kekuatan biskuit klasik bukan semata-mata karena produknya sudah lama dikenal. Faktor harga, kemudahan mendapatkan produk, rasa yang dekat dengan selera masyarakat, serta pengalaman yang melekat pada konsumen ikut membuatnya tetap bertahan di tengah persaingan camilan kekinian.
Dengan kombinasi tersebut, biskuit klasik masih memiliki peluang untuk terus menjadi bagian dari kebiasaan ngemil masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Editor: Muhammad Sukardi