Rempah Indonesia Paling Dicari Industri Makanan dan Minuman Eropa
JAKARTA, iNews.id - Alasan mengapa bangsa Eropa datang ke Benua Asia, khususnya Indonesia adalah karena kekayaan alamnya. Bangsa Eropa datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah, sebelum pada akhirnya menjajah.
Rempah-rempah, diperlukan di Eropa yang memiliki cuaca bersuhu dingin. Maka itu, diperlukan bahan penyedap untuk berbagai bumbu dapur, serta bahan makanan untuk menghangatkan badan.
Begitu pula tren yang terjadi pada industri makanan dan minuman di dunia. Rempah-rempah atau ekstrak sedang tren digunakan sebagai bahan baku makanan atau minuman. Baik untuk pewarna alami atau rasa.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman mengatakan, saat ini tren industri ekstrak atau rempah-rempah sedang berkembang. Meski tidak banyak, ada sekitar tujuh perusahaan yang mengembangkan industri ekstrak di Indonesia. Ekstrak ini biasanya digunakan untuk pewarna atau rasa dalam bahan makanan.
"Sekarang industri ekstrak sedang tumbuh, meski sedikit. Mulai dari pertanian, limbah kulit manggis, kulit kunyit, dan lainnya banyak dicari," kata Adhi Lukman dalam acara pameran Food Ingredient Asia 2018, di JI-Expo Kemayoran Jakarta, Rabu (3/10/2018).
Meski sedang bertumbuh, tetap saja Indonesia masih mengimpor 70 persen Food Ingredient ke luar negeri atau bergantung pada impor.
Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Kementerian Perindustrian Enny Ratnaningtyas mengatakan, food ingredient atau rempah-rempah khas Indonesia banyak dicari oleh industri di Eropa seperti Belanda dan Jerman.
"Food ingredient sangat dibutuhkan untuk industri makanan dan minuman. Rempah Indonesia seperti gula semut, cengkeh, dan lainnya banyak peminatnya terutama dari Eropa," kata dia.
Melalui pameran Food Ingredient Asia 2018 ini menjadi momen bagi Indonesia untuk mengenalkan keunggulan produk bahan baku makanan dan minuman. Food Ingredient Asia 2018 memasuki tahun kelima dan diselenggarakan dari 3-5 Oktober 2018 di JI-Expo Kemayoran Jakarta. Ada sekitar 750 peserta pameran dan 20 ribu pembeli dari 60 negara.
Pengunjung juga dapat mengikuti lebih dari 60 seminar dan diskusi teknis yang membahas topik seputar industri makanan, sertifikasi halal di Indonesia, dan kabar terbaru terkait pasar makanan dan minuman.
Editor: Tuty Ocktaviany