Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Operasi Modifikasi Cuaca Tahap Ketiga di Jakarta Rampung, 20 Ton Garam Telah Disemai
Advertisement . Scroll to see content

Tambahkan Garam pada Masakan Bisa Bikin Umur Pendek? Cek Faktanya

Senin, 16 Februari 2026 - 08:37:00 WIB
Tambahkan Garam pada Masakan Bisa Bikin Umur Pendek? Cek Faktanya
Menambah garam dalam masakan disebut-sebut bisa membuat umur lebih pendek. (Foto: AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Menambah garam dalam masakan disebut-sebut bisa membuat umur lebih pendek. Temuan ini mencuat setelah sebuah penelitian mengaitkan konsumsi garam tambahan dengan peningkatan risiko kematian dan gangguan kesehatan jangka panjang.

Garam tambahan yang ditaburkan saat memasak atau sebelum menyantap makanan ternyata tidak sekadar memengaruhi rasa. Para peneliti menemukan asupan natrium berlebih berdampak bukan hanya pada tekanan darah, tetapi juga terhadap kesehatan jantung dan organ vital lain dalam jangka panjang.

Ahli gizi menjelaskan tubuh membutuhkan sodium atau natrium dalam jumlah kecil. Zat ini berperan menjaga keseimbangan cairan, mendukung fungsi saraf, serta membantu kontraksi otot tetap optimal.

Namun, kelebihan natrium bisa menjadi bumerang bagi kesehatan. Konsumsi garam tambahan dalam jumlah tinggi dan berlangsung lama disebut berkaitan dengan meningkatnya angka kematian dibanding mereka yang mengonsumsi dalam kadar rendah.

Hubungan ini erat dengan efek natrium terhadap tekanan darah. Saat tubuh menahan terlalu banyak natrium, cairan dalam tubuh ikut meningkat sehingga volume darah bertambah dan tekanan pada dinding arteri menjadi lebih tinggi.

Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama berbagai penyakit kardiovaskular. Kondisi ini dapat memicu penyakit jantung koroner, stroke, hingga gagal jantung yang menjadi penyebab kematian terbanyak di banyak negara.

Selain itu, beban natrium berlebih juga berdampak pada ginjal. Organ ini memiliki peran penting dalam mengatur keseimbangan cairan dan tekanan darah, sehingga asupan natrium tinggi dapat memperberat kinerjanya.

Tak hanya berasal dari garam meja, natrium tambahan banyak tersembunyi dalam makanan olahan. Makanan cepat saji, produk kalengan, daging olahan, hingga makanan beku (frozen food) kerap mengandung kadar sodium tinggi tanpa disadari konsumen.

Akibatnya, seseorang bisa saja mengonsumsi garam melebihi batas harian yang dianjurkan tanpa merasa telah menambahkan banyak garam pada makanannya. Pola makan modern yang tinggi makanan olahan turut memperbesar risiko tersebut.

Untuk menekan dampak buruknya, para ahli menyarankan membatasi penggunaan garam meja saat memasak maupun saat makan. Sebagai alternatif, penggunaan bumbu non-natrium seperti rempah-rempah alami dapat membantu memperkaya rasa tanpa meningkatkan risiko kesehatan.

Masyarakat juga dianjurkan membaca label kemasan dan memilih produk dengan kadar sodium lebih rendah atau tanpa tambahan garam. Mengutamakan makanan segar seperti sayuran, buah, serta protein yang diolah sendiri di rumah menjadi langkah preventif yang lebih aman bagi kesehatan jangka panjang.

Dengan mengontrol asupan garam tambahan, risiko tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular dapat ditekan. Pola makan seimbang dan kesadaran membaca label menjadi kunci untuk menjaga kualitas hidup tetap optimal hingga usia lanjut.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut