Tradisi Warga Tionghoa Makan Ikan saat Imlek, Mulai dari Bagian Tengah
JAKARTA, iNews.id - Bagi masyarakat Tionghoa, perayaan Tahun Baru Imlek menjadi momen paling ditunggu setiap tahun. Perayaan ini dimulai pada bulan pertama penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh.
Perayaan Imlek tidak hanya identik dengan berbagai macam tradisi, seperti bangrongsai, angpau, kemeriahan lampion, hingga makanan pembawa keberuntungan. Namun, satu hal yang wajib ada ketika Tahun Baru Imlek adalah menu ikan kukus. Ikan adalah suatu keharusan untuk menyambut Tahun Baru Imlek ini.
Mengapa ikan melambangkan rezeki dan keberuntungan? Mengutip dari Chinesenewyear.net, Senin (4/2/2019), dalam bahasa China, ikan memiliki pengucapan yang sama dengan (é±¼—yú), yang berarti 'surplus' atau 'ekstra'. Berharap Anda dapat memiliki surplus dari makanan dan rezeki setiap tahun.
Biasanya, masyarakat Tionghoa akan memakan setengah ikannya pada malam hari. Dan, setengah lainnya pada hari berikutnya. Ini untuk memperpanjang surplus dan membuat masa depan yang sejahtera. Seekor ikan utuh juga mewakili keluarga yang harmonis dan utuh.
Beberapa masyarakat Tionghoa akan memasak ikan mas bigheaded atau ikan bandeng. Tetapi hanya bagian tengahnya yang akan dimakan, sementara kepala dan ekornya dibiarkan utuh. Ungkapan bahasa Mandarin adalah 有头有尾 (yÇ’u tóu yÇ’u wÄ›i) untuk memiliki kepala dan ekor.
Ini adalah pengingat untuk menyelesaikan semua yang Anda mulai dan berharap untuk hasil positif. Saat makan malam, kepala ikan harus ditempatkan menghadap tamu. Di Hunan, China, ikan kukus lebih lezat disajikan dengan paprika merah. Paprika ditambahkan setelah memanggang ikan. Harus menggunakan warna merah karena identik dengan meriah dan beruntung. Rasa pedasnya mengungkapkan keinginan untuk bisnis yang positif di tahun baru.
Editor: Vien Dimyati