Sementara, Ekonom senior di ING Bank, Nicholas Mapa mengatakan, pembukaan kembali ekonomi Filipina mendorong permintaan, sementara cuaca buruk telah mempengaruhi produksi makanan, termasuk bawang.
"Kembali pada bulan Agustus, Departemen Pertanian memperkirakan potensi kekurangan tanaman akar. Beberapa bulan kemudian, Filipina dilanda dua badai dahsyat yang menyebabkan kerusakan tanaman yang cukup besar," ucapnya.
"Kami juga telah melihat permintaan yang meningkat tajam karena ekonomi pulih dengan tajam," sambungnya.
Kenaikan harga di negara Asia Tenggara itu juga melanda kedai makanan jalanan di Cebu, yang populer di kalangan penduduk lokal dan turis. Sayuran goreng, daging, dan makanan laut, biasanya disajikan dengan saus bawang dan saus cuka.
"Bawang adalah bagian besar dari hidangan kami. Ini menambah kerenyahan rasa (dan) rasa manis untuk membedakan rasa asin dari makanan kami," ujar salah satu pemilik kedai, Alex Chua.