Bisnis Klaster Petani Salak Ini Melejit lewat Pemberdayaan BRI

Anindita Trinoviana
Klaster Petani Salak di Bazaar UMKM BRILiaN. (Foto: dok BRI)

Dengan harga jual Rp15.000-Rp18.000 per kilogram, produk salak pondoh dari Desa Kutambaru kini semakin dikenal dan diminati di pasar lokal maupun luar daerah.

Peminat yang paling banyak yakni konsumen dalam negeri, misalnya Aceh. Tetapi salak dari kelompok ini juga diekspor ke Malaysia dan Thailand. Adapun panen dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan hasil mencapai 1-1,5 ton sehingga omzet yang dihasilkan mencapai Rp30 juta per bulan.

Wulan bercerita, awal mula klaster tersebut mengenal BRI yakni pada 2010 saat meminjam Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan terus berangsur meningkat hingga saat ini. Pinjaman tersebut menjadi modal awal yang membuat usahanya semakin berkembang. 

Dia juga menuturkan, selama ini BRI hadir dalam rangka pendampingan, atau memantau perkembangan klaster dibarengi dengan penyuluhan informasi produk-produk BRI dan berharap pendampingan dan pemberdayaan dari BRI terus berlanjut.

“Semoga ke depan peminjaman modal semakin mudah karena kami para petani salak masih membutuhkan modal,” ucapnya.

Editor : Anindita Trinoviana
Artikel Terkait
1 hari lalu

Pemprov Jabar Himpun Gagasan Tokoh Sunda, Wujudkan Jabar Istimewa

1 hari lalu

IPM Jabar 2025 Capai 75,90 Poin, Seluruh Komponen Pembentuk Alami Perbaikan

1 hari lalu

Sejahterakan Rakyat, Pemprov Jabar Kawal Pelaksanaan Program 3 Juta Rumah

2 hari lalu

KDM dan Kapolda Jabar Musnahkan Barang Bukti Kejahatan, Ada Knalpot Brong hingga Tramadol

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal