“Awalnya keuangan kami (KWT) zero (nol), bahkan minus,” kata Vonny.
Kini, kelompok tersebut menjadi satu-satunya KWT yang masih aktif bertahan di Kelurahan Porisgaga Baru. Sebab menurut Vonny, banyak kelompok serupa yang akhirnya berhenti di tengah jalan karena sulit menjaga konsistensi.
“Untuk mendirikan suatu KWT itu tidak mudah ya,” katanya.
Menurut dia, mengelola hidroponik membutuhkan ketekunan tinggi karena kegagalan panen bisa datang kapan saja akibat cuaca maupun serangan hama.
“Sudah capek semai ada serangan hama, ada serangan macam-macam, rasa kekecewaan itu pasti ada,” ujarnya.
Meski begitu, Vonny bersama Yuliana dan anggota KWT Mawar 8 lainnya memilih tetap bertahan. Mereka memandang kebun kecil di tengah permukiman itu sebagai ajang untuk berbagi dengan sesama sekaligus menjaga semangat kebersamaan warga.
"Belum sempurna tapi paling tidak menuju kesempurnaan. Pasti bisa dong ya, apalagi kalau banyak yang dukung ya," tutur Vonny.