"Itu tetap tinggi di -7,9 persen selama kuartal pertama tahun ini," bunyi laporan Bank Dunia.
Pada sisi positifnya, penjualan ritel meningkat sebesar 11 persen antara Maret dan April sementara aktivitas manufaktur terus berkembang, didorong oleh permintaan eksternal dan harga komoditas yang lebih optimis.
Bank Dunia menilai, respons fiskal Indonesia terhadap Covid-19 kuat, tetapi penyesuaian pengeluaran telah dilakukan pada tahun 2021 berpotensi karena kendala pendapatan dan pembiayaan.
Paket respons fiskal Covid-19 ditingkatkan dari 3,8 persen menjadi 4,5 persen dari PDB antara 2020 dan 2021, termasuk untuk menyediakan dana untuk kampanye vaksinasi gratis.
Tapi itu termasuk pemotongan belanja bantuan sosial sekitar 0,3 poin persentase dari PDB. Meskipun utang publik relatif rendah, ruang fiskal dibatasi oleh kombinasi basis pendapatan yang sempit dan pasar utang yang dangkal yang menyebabkan pembiayaan moneter defisit fiskal yang tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain.
"Namun, ketidakpastian tetap sangat tinggi dan risiko kerugian cenderung ke bawah," tulis Bank Dunia.