General Atomics telah menjual ratusan drone MQ-9 Reaper kepada militer AS dan negara-negara lain di seluruh dunia. Setiap tahunnya, perusahaan meraih pendapatan 2,1 miliar dolar AS.
Blue Bersaudara -Neal dan Linden- lahir dari keluarga kaya di Denver, AS. Bisnis keluarga yang sudah turun temurun itu bergerak di bidang properti. Saat perang dunia II, ayahnya James bergabung dalam militer sementara ibunya, Virginia ikut Palang Merah.
Neal dan Linden Blue dikenal gemar berpetualang ke berbagai negara terutama Amerika Latin dan Eropa. Cerita perjalanan dunia mereka menarik perhatian New York Times untuk ditulis.
Neal dan Linden Blue kuliah di Yale University. Saat lulus, mereka masuk dalam Angkatan Laut AS. Neal berkipirah di bagian senjata nuklir sementara Linden bekerja di kepolisian AL. Lepas dari militer, keduanya melanjutkan bisnis keluarga dan memperluasnya hingga ke bisnis pertanian dan migas.
Namun, Neal dan Linden lebih tertarik berbisnis penerbangan. Pada 1980-an, Neal sangat bersemangat saat membahas soal drone dan teknologi baru. Tak lama, General Atomics lahir.
GA, sebutan perusahaan itu, menciptakan pesawat unik dan efisien yang tak butuh kendali manusia didalamnya karena telah dilengkapi sistem GPS. Pesawat itu diberi nama Birdie.
Blue Bersaudara kesulitan untuk menemukan pelanggan pertama meski harga produknya murah. Tak disangka, CIA berminat membeli drone GA untuk dipakai dalam Perang Balkan 1993.
Performa drone GA memuaskan. Angkatan Laut AS mengganjar GA dengan kontrak senilai 31,7 juta dolar AS untuk drone yang lebih canggih. Disinilah MQ-9 Reaper lahir.
Sejak saat itu, tawaran demi tawaran menghampiri GA dan Blue Bersaudara. Selama dua dekade, GA nyaris tanpa pesaing meski dalam beberapa tahun terakhir, kompetitor mulai bermunculan.
Namun pada 2018, GA masih meraih pendapatan 4,9 miliar dolar AS. GA tetap menjadi penguasa pangsa pasar drone terbesar kedua di dunia setelah Northrop Grumman.