Sementara itu, secara year on year, terjadi inflasi di Jawa Barat pada Juli 2026 sebesar 2,72 persen. Komoditas dengan andil inflasi tertinggi Juli 2026 secara year on year adalah emas perhiasan (0,62 persen), bensin (0,31 persen), minyak goreng (0,16 persen), beras (0,13 persen), cigaret kretek mesin (0,09 persen).
Dalam kesempatan yang sama, BPS Jawa Barat juga menyampaikan perkembangan ekspor impor Jawa Barat. Dikatakan Margaretha, neraca perdagangan Jawa Barat mengalami surplus 13,79 miliar dolar AS selama Januari - Juni 2026.
Hal itu terjadi karena Jabar berhasil mencetak ekspor hingga 19,60 miliar dolar AS, lebih besar dibandingkan impor 5,81 miliar dolar AS. Nilai ekspor Jabar pada periode tersebut naik 5,11 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pangsa pasar terbesar ekspor nonmigas Januari-Juni 2026 adalah ke Amerika Serikat, sebesar 3,26 miliar dolar AS, disusul Filipina 1,74 miliar dolar AS dan Jepang sebesar 1,40 miliar dolar AS dengan kontribusi ketiganya terhadap ekspor mencapai 32,95 persen.
Sementara, negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Juni 2026 ditempati oleh Tiongkok senilai 2,30 miliar dolar AS (41,85 persen), disusul Korea sebesar 654,64 juta dolar AS (11,90 persen), dan dari Jepang sebesar 651,17 juta dolar AS (11,84 persen).