TOKYO, iNews.id - Dampak pandemi virus corona (Covid-19 terhadap perekonomian masih terus berlangsung. Akibatnya sebanyak 35.816 perusahaan di Jepang terpaksa menghentikan usahanya sepanjang tahun ini.
Hal itu karena masyarakat setempat yang terpaksa tetap tinggal di rumah, serta jumlah wisatawan asing yang berkunjung turun drastis. Jumlah tersebut berdasarkan hasil studi dari Tokyo Shoko Research pada periode Januari-Agustus 2020, naik 23,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari jumlah total, 31 persennya didominasi oleh perusahaan di sektor jasa, diikuti oleh perusahaan konstruksi sebesar 18 persen dan pengecer sebesar 13 persen.
"Dengan dampak pandemi Covid-19 yang diperkirakan berkepanjangan, peningkatan perusahaan yang menghentikan bisnis tidak dapat dihindari. Bukan hanya karena krisis uang tetapi juga prospek penurunan permintaan yang semakin berkurang, tetapi tak sedikit yang sedang berjuang untuk tetap hidup,” ujar juru bicara Tokyo Shoko Research dalam sebuah laporan, dikutip dari Reuters pada Kamis (24/9/2020).
Jumlah total perusahaan yang menutup bisnis, tanpa melalui prosedur pengajuan pailit, bisa mencapai 53.000 pada akhir tahun ini. Lembaga think tank itu mengatakan, jumlah tersebut akan menjadi yang paling banyak sejak data relevan tersedia pada 2000.
Sementara itu, pemerintah dan bank sentral Jepang telah mengerahkan berbagai langkah sejak Maret lalu untuk meredakan ketegangan krisis yang dialami perusahaan. Meski harus diakui, peran tersebut tidak sepenuhnya membantu menjaga angka kebangkrutan yang sebagian besar tidak berubah dari level tahun sebelumnya.
Jepang mengalami kemerosotan ekonomi terbesar dalam catatan karena dampak Covid-19. Pada kuartal II tahun ini, ekonomi Negeri Sakura itu minus 9,9 persen dari periode sama tahun sebelumnya. Menyusul kemerosotan pada kuartal I minus 1,8 persen. Resesi telah dialami Jepang sejak awal tahun ini, karena penurunan pada Produk Domestik Bruto (PDB) di kuartal IV 2019 minus 0,7 persen.