Saat ini, kata Dony, perseroan masih menghitung kebutuhan investasi pembangunan. "Itu karena harus ada perlakukan khusus mengingat jenis tanahnya dan iklim di kita yang curah hujannya tinggi. Tetapi perkiraan kami sekitar Rp1,6 triliun,” ucapnya.
Dia mengakui investasi di sektor gula sangat berisiko. Selain faktor curah hujan tinggi dan musim kering yang tidak konstan, industri tersebut membutuhkan teknologi tertentu.
"Kami akan memakai konsultan dari Inggris di bidang ini. Mereka sudah berpengalaman 55 tahun dan bekerja di lebih 100 negara. Nanti kita lihat apa yang mereka temukan dan solusinya," katanya.
Kendati demikian, kata dia, industri gula sangat potensial. Setiap tahun, Indonesia harus mengimpor gula karena produksi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.