Sam Bankman-Fried, anak profesor Stanford jadi miliarder kripto terkaya dunia berharta Rp380 triliun. Foto: Forbes
Suparjo Ramalan

NEW YORK, iNews.id - Sam Bankman-Fried menempati urutan ke-32 daftar orang terkaya di dunia versi Forbes. Kekayaannya berasal dari uang kripto (crypto).

Dia tercatat sebagai miliarder terkaya di bawah usia 30 tahun pada 2021. Pemuda 29 tahun ini memiliki kekayaan bersih sebesar 26,5 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp380 triliun.
 
Sam merupakan orang terkaya di dunia kripto, jauh melampaui Brian Armstrong dari Coinbase dengan kekayaan 10,2 miliar dolar AS, si kembar Winklevoss dari Gemini masing-masing 4,3 miliar dolar, dan pencipta Ethereum Vitalik Buterin. 

Dikutip dari inf.news, dia membangun kekayaannya melalui serangkaian investasi strategis dalam mata uang kripto atau cryptocurrency. Awalnya dia menjadi pengusaha, dan sekarang sebagai pendiri dan CEO FTX, sebuah pertukaran aset digital untuk pembelian dan penjualan bitcoin dan ethereum. 

Dia menjadi miliarder secara tidak disengaja. Melalui konsep make money for who, dia ingin mendapatkan uang sebanyak-banyaknya supaya bisa membantu orang lain seperti halnya Robin Hood. Awalnya, dia tidak percaya dengan kripto. Dia bahkan mengklaim jika dapat menghasilkan lebih banyak uang untuk melakukan hal lain seperti menjual jus jeruk, dia akan melepaskan kriptonya. 

Sam merupakan putra dari orang tua yang sangat akademisi. Ayah dan ibunya merupakan profesor hukum di Universitas Stanford. Dia lulus dari SMA swasta di California Bay Area. Kemudian pada 2014, mendapat gelar sarjana dalam bidang fisika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Saat kuliah, dia banyak menghabiskan waktunya untuk bermain video game dibanding belajar. Dia juga lebih tertarik pada moralitas dan etika dibanding sains. Setelah lulus dari MIT, Sam mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan pembiayaan dengan gaji enam digit, dan sebagian uang disumbangkan untuk amal.

Sam baru tertarik kripto pada 2017 ketika bitcoin naik tajam untuk pertama kalinya. Saat itu, bitcoin melonjak 2.500 per token menjadi hampir 20.000 dolar AS hanya dalam waktu enam bulan. Sam akhirnya membeli bitcoin di AS dan menjualnya di Jepang hingga 30 persen. 

Pada akhir tahun itu, dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Bersama keluarga dan temannya, dia mendirikan Alameda Research, sebuah perusahaan perdagangan kuantitatif yang didedikasikan merumuskan strategi berdasarkan perhitungan matematis untuk mengidentifikasikan peluang bisnis. 

Sam pun menetap di Berkeley, California, dan mulai bekerja. Pada Januari 2018, startup kecil tersebut akan bernilai 25 juta dolar AS dalam bitcoin per hari. Kemudian pada 2019, dia berbagi keuntungan dari Alameda Research Company dengan orang lain, dan mengumpulkan 8 juta dolar AS dengan beberapa perusahaan modal ventura untuk mendirikan bursa kripto miliknya sendiri, FTX.

Pada tahun-tahun awal, FTX menjalankan perusahaan di Hong Kong dengan hanya selusin karyawan. Perusahaannya berkembang begitu cepat hingga mencapai 18 juta dolar AS, dan sebagian dijual sekitar 70 juta dolar AS. Namun, pada Juli 2021, dia membeli kembali 15 persen saham Binance di FTX seharga 2,3 miliar dolar AS.

Pada September tahun lalu, Sam memindahkan markas besarnya ke Bahama. Alasannya, karena biaya perusahaan sangat rendah, dan margin keuntungannya sangat tinggi, mendekati 50 persen.

Pada tahun lalu, pendapatan FTX mendekati 750 juta dolar AS dan labanya 350 juta dolar AS. Pada saat yang sama, Alameda Research menghasilkan keuntungan sebesar 1 miliar pada 2020.
 
Sam awalnya memiliki niat mulia untuk mendonasikan sebagian uangnya, namun dia ternyata hanya menyumbangkan 25 juta dolar AS untuk tujuan seperti untuk mengurangi kemiskinan global dan keamanan kecerdasan buatan. Angka ini hanya 0,1 persen dari kekayaannya, menjadikannya miliarder paling pelit dalam Indeks Forbes 400 bersama dengan Elon Musk dan Jeff Bezos.

Sam beralasan ada banyak pekerjaan penting yang harus dilakukan, dan yang lebih penting, donasi bukanlah tujuan jangka pendek, tetapi jangka panjang. Sebagian besar kekayaannya pada akhirnya akan disumbangkan untuk amal. Dia juga mengatakan, dunia ini sangat luas sehingga tidak boleh berpikir cryptocurrency akan selalu menjadi lahan yang paling subur. 


Editor : Jujuk Ernawati

BERITA TERKAIT