Kisah sukses Eugenie Patricia Agus berawal dari membangun bisnis dengan nama Puyo Dessert bersama sang kakak Adrian Christopher Agus. (foto: Instagram @eugeniepatricia)
Aditya Pratama

JAKARTA, iNews.id - Kisah sukses Eugenie Patricia Agus berawal dari membangun bisnis dengan nama Puyo Dessert. Dia membangun bisnis makanan penutup tersebut bersama sang kakak Adrian Christopher Agus hingga memiliki banyak cabang sampai saat ini.

Eugenie Patricia bersama Adrian membangun Puyo Dessert di tahun 2013, di mana saat itu dia berusia 19 tahun dan sang kakak Adrian 21 tahun. Terbentuknya Puyo berawal dari keinginan mereka yang ingin memasarkan produk buatan sang ayah yang sangat enak menurut mereka.

Eugenie menyebut, ide tersebut muncul dari Adrian yang menyebut jika puding buatan sang ayah bakal laku di pasaran. Alasannya, puding bukan hidangan yang asing bagi masyarakat Indonesia, dan pada saat itu belum ada satu brand yang fokus menjual makanan yang identik sebagai hidangan penutup tersebut.

"Ini kita membuat sebuah brand yang bisa jadi top of mind brand puding di Indonesia, kita melihat peluangnya disitu," ujar Eugenie dikutip dari YouTube Purwadhika Digital Technology School.

Eugenie Patricia dan Adrian akhirnya mulai menjual puding pada 2013 secara online melalui Instagram. Kemudian, dua bersaudara ini juga memanfaatkan bazar yang saat itu sedang hit dibeberapa mal seperti Grand Indonesia dan Lippo Mal Puri.

Melalui bazar tersebut, tak disangka penjualan puding laku keras, di mana menurut Eugenie Patricia saat itu Puyo Dessert habis dalam waktu 15 menit, dan perlu waktu 3 jam untuk proses pembuatan dan pengiriman di BSD, Tangerang.

Berawal dari bazar dan penjualan online, Eugenie Patricia dan Adrian memutuskan berjualan di mal atau pusat perbelanjaan. Mal pertama yang menjadi pilihan untuk membuka outlet Puyo Dessert di Living Mal Alam Sutera. 

Kemudian, sampai tahun 2019 jumlah outlet Puyo Dessert mencapai 56 yang tersebar di Jabodetabek, Karawang, Bandung sebanyak 53 outlet, dan 3 outlet di Surabaya. Puyo didirikan dengan modal sebesar Rp5 juta, dan sampai sekarang seluruh outlet masih dikendalikan oleh Eugenie dan Adrian dan belum ada franchise.

Sejak Puyo Dessert didirikan, Eugenie memegang posisi Brand Director, di mana salah satu tugasnya mengatur marketing perusahaan. Bahkan, dirinya di awal munculnya Puyo juga terjun langsung masak puding, menerima dan mengantar pesanan, hingga mengatur Instagram untuk berjualan.

"Sekarang mungkin udah ada sekitar 30 orang dari team kita yang di headquarter, aku sekarang lebih fokus ke marketing atau creative, jadi aku Brand and Culture Director, jadi fokus aku di kantor lebih ke campaign, ide-ide kreatif apa yang bisa kita ulik lagi," kata dia.

Tidak selalu mulus, Eugenie menyebut banyak tantangan yang dihadapi perusahaan selama menjalankan usahanya. Contohnya saat ada produk yang puding yang muncul di salah satu mal di Jakarta yang membuat Puyo terus melakukan inovasi.

Menurutnya, dengan munculnya kompetitor Puyo, secara tidak langsung memvalidasi bahwa bisnis puding menarik. Dia mengaku tidak ambil pusing ketika mengetahui ada kompetitor dengan produk yang sama dengan Puyo.

"Yang aku ambil, punya kompetitor itu gapapa takut, tapi ga boleh menghambat kita dalam bisnis atau fokus cuma ke kompetitor. Kalau misal kita bikin bisnis ga ada kompetitor berarti pasarnya sedikit," tuturnya.

Adapun penghargaan yang telah diraih Eugenie bersama Adrian salah satunya Forbes 30 under 30 se Asia pada 2018 lalu.

Eugenie Patricia berpesan kepada seluruh entrepreneur yang sedang membangun bisnis untuk mengendalikan bisnisnya sendiri. Sebab, menurutnya saat ini banyak pengusaha yang ingin langsung melepas kendali di awal-awal pembentukan dan tidak ingin lama-lama merintis dari bawah.

Nah, itu dia kisah sukses Eugenie Patricia, Pendiri Puyo Dessert yang mengawali bisnis bersama kakaknya dimulai dari hidangan yang sering disajikan sang ayah. Semoga kisah Eugenie menjadi inspirasi bagi yang ingin memulai bisnis.


Editor : Aditya Pratama

BERITA TERKAIT