JAKARTA, iNews.id - Serikat pekerja PT Garuda Indonesia Tbk yang terdiri atas Serikat Karyawan Garuda Indonesia dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) meradang dengan program efisiensi yang dilakukan oleh manajemen. Mereka menilai, langkah efisiensi itu mengganggu kegiatan operasional perusahaan.
Presiden APG Capt. Bintang Hardiono mengatakan, dari sudut penerbangan program efisiensi yang dibuat direksi Garuda terlalu membabi buta. Hal ini, kata dia, memuncak saat terjadi delay pada Desember 2017 lalu akibat meletusnya Gunung Agung di Bali.
"Itu buat kami seluruh penerbang merasa resah kenapa perusahaan begitu, sehingga kita coba layani penumpang baik, tapi ada complain penumpang service dikurangi akibatnya terjadi konflik di lapangan," katanya saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (23/1/2018).
Sementara itu, Ketua Umum Serikat Karyawan Garuda Indonesia Ahmad Irfan menambahkan, program efisiensi yang dijalankan manajemen kurang efisien karena banyak dilakukan pemotongan terhadap pelayanan kepada pengguna jasa Garuda. Dia mencontohkan pelayanan first bagagge yang sekarang dikurangi.
"Katanya maskapai bintang lima, tapi service diturunin, hak pengguna jasa jangan dikurangi dan faktor safety jangan dikurangin," ucapnya.
Irfan mengatakan, serikat pekerja dan pilot mengaku sangat mendukung tujuan untuk pembenahan besar-besaran yang dilakukan manajemen. Hanya saja, kata dia, semua harus dilakukan dengan benar. Jangan sampai citra perusahaan sebagai maskapai kelas dunia tercoreng karena pelayanan berkurang.
"Misalnya saja, yang tadinya kita dapat permen dikurangi, roti dikurangi. Air hangat juga. Ini maskapai bintang 5 kok begini," ucapnya.