Karenanya, Indonesia ingin terus bekerja sama dengan Prancis untuk memastikan upaya ini tetap efektif dan memberikan hasil yang bermanfaat. Minggu lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan skema perdagangan kredit karbon pertama di Indonesia, sebagai bagian dari Net Zero Emission tahun 2060.
Pertukaran karbon ini memiliki potensi hingga 200 miliar dolar AS. Izin untuk satu ton CO2 saat ini dijual dengan harga sekitar 4,50 dolar AS di Indonesia, sementara di Uni Eropa harga yang berlaku saat ini adalah sekitar 92 dolar AS
Skema ini dirancang untuk menjadi peluang ekonomi baru yang berkelanjutan. Hal ini juga sesuai dengan arah gerak dunia menuju ekonomi ramah lingkungan.
“Sekali lagi, saya berharap Prancis dapat menjadi bagian dari perubahan kami menuju masa depan yang lebih berkelanjutan,” ujar Agus.
Sementara itu, terkait dengan kebijakan hilirisasi industri di Indonesia, Agus menyampaikan bahwa hal ini penting untuk membawa Indonesia menjadi negara dengan perekonomian tinggi pada tahun 2045. Menurutnya, kebijakan ini juga bernilai tambah tinggi, dan kunci bagi Indonesia menjadi bagian dari rantai pasokan global.
Untuk itu, Agus mengundang Prancis untuk berinvestasi dan menjadi bagian dari perjalanan ini, yang dapat memberikan hasil yang tinggi sebagai pendatang awal di berbagai industri.
Dalam pertemuan tersebut juga Agus menyampaikan, rencana pertemuan-pertemuan lainnya dengan para pelaku bisnis di Prancis dalam rangka menjalin kerja sama joint venture maupun capacity building yang akan memberikan manfaat bagi kedua pihak.
“Kami juga akan bertemu dengan perusahaan otomotif asal Prancis untuk bekerja sama dalam mengembangkan industri electric vehicle (EV),” ucapnya.
Sebagai informasi, Prancis merupakan salah satu mitra strategis Indonesia di Eropa, dengan perdagangan antarkedua negara pada paruh pertama tahun 2023 mencapai sekitar 1,5 miliar dolar AS.