Miliarder Ukraina berharta Rp56 triliun janji bangun Mariupol yang hancur digempur Rusia. Foto: Reuters
Dinar Fitra Maghiszha

KYIV, iNews.id - Orang terkaya Ukraina berjanji akan membantu membangun kembali kota Mariupol yang terkepung dan digempur tentara Rusia. Rinat Akhmetov memiliki dua pabrik baja besar di kota tersebut yang bisa bersaing secara global. 

Dia telah melihat bisnisnya hancur karena delapan tahun pertempuran di timur Ukraina tapi tetap bertahan. Namun saat ini, perusahaan Metinvest miliknya yang merupakan pembuat baja terbesar di Ukraina telah mengumumkan tidak bisa memberikan kontrak pasokan. Sementara SCM Group yang bergerak di bidang keuangan dan industri memenuhi kewajiban utangnya, listrik swastanya DTEK telah mengoptimalkan pembayaran utang dengan kreditur. 

"Mariupol adalah tragedi global dan contoh global kepahlawanan. Bagi saya, Mariupol telah dan akan selalu menjadi kota Ukraina," kata Akhmetov, dikutip dari CNN Business, Senin (18/4/2022). 

Pada Jumat (14/4/2022), Metinvest menyatakan tidak akan pernah beroperasi di bawah pendudukan Rusia dan pengepungan Mariupol telah melumpuhkan lebih dari sepertiga kapasitas produksi metalurgi Ukraina.

Akhmetov tidak mengatakan lokasi dia berada, tetapi dia berada di Mariupol pada 16 Februari, hari di mana beberapa badan intelijen barat memperkirakan invasi akan dimulai. 

"Saya berbicara dengan orang-orang di jalanan, saya bertemu dengan pekerja. Ambisi saya adalah kembali ke Mariupol Ukraina dan menerapkan rencana (produksi baru) kami sehingga baja yang diproduksi Mariupol dapat bersaing di pasar global seperti sebelumnya," ujarnya.

Akhmetov, orang terkaya Ukraina telah melihat kerajaan bisnisnya menyusut sejak 2014, ketika Rusia mencaplok semenanjung Laut Hitam Krimea dan dua wilayah timur Ukraina - Donetsk dan Luhansk - memproklamasikan kemerdekaan dari Kyiv.

Menurut Forbes, kekayaan bersih Akhmetov pada 2013 mencapai 15,4 miliar dolar AS. Saat ini tercatat sebesar 3,9 miliar dolar AS atau Rp56 triliun.

"Bagi kami, perang pecah pada tahun 2014. Kami kehilangan semua aset kami baik di Krimea dan di wilayah Donbas yang diduduki sementara. Kami kehilangan bisnis kami, tetapi itu membuat kami semakin tangguh dan kuat," tuturnya.

"Saya yakin bahwa sebagai bisnis swasta terbesar di negara ini, SCM akan memainkan peran kunci dalam rekonstruksi pasca-perang Ukraina," imbuh dia. 


Editor : Jujuk Ernawati

BERITA TERKAIT