Hal ini dilakukan untuk mengisi kekurangan produksi yang diperkirakan mencapai 5,8 juta barel per hari sejak pandemi Covid-19.
"Peningkatan dari OPEC dan sekutunya jauh di bawah ekspektasi pasar mengingat krisis energi di seluruh dunia. Tidak mengherankan, ada spekulasi bahwa OPEC akan dipaksa untuk bergerak jika permintaan terus melonjak sebelum pertemuan selanjutnyam," lanjut catatan itu.
Pada akhir bulan lalu, Joint Technical Committee OPEC+ mengatakan pihaknya memperkirakan defisit pasokan 1,1 juta bph pada tahun ini dapat berubah menjadi surplus 1,4 juta bph pada tahun depan.
Seperti diketahui, harga minyak mentah telah melonjak lebih dari 50% tahun ini, yang membuat tekanan inflasi semakin dikhawatirkan oleh negara-negara konsumen terbesar seperti Amerika Serikat dan India.
Kendati sudah ada kesepakatan peningkatan produksi, OPEC+ masih menyimpan kekhawatiran bahwa gelombang Covid-19 keempat dapat menekan pemulihan permintaan.
Menilik pasokan AS baru-baru ini, American Petroleum Institute melaporkan peningkatan stok minyak menjadi 951.000 barel dalam sepekan terakhir hingga 1 Oktober 2021.
Laporan yang diumumkan Selasa (5/10) lalu tersebut juga mencatat bahwa persediaan bensin dan sejumlah bahan bakar lainnya juga ikut meningkat.