Setelah itu, Heriyanto mulai menggeluti tanaman porang. Pada tahun ketiga, dia mulai menanam porang besar-besaran sampai sekarang.
Sekarang dia sudah merambah pasar internasional, dengan mengekspor porang ke luar negeri, seperti Jepang, Korea, China hingga Eropa. Pasalnya, di negara itu, porang sudah menjadi konsumebel.
"Di Jepang, porang sudah menjadi makanan pokok, diolah menjadi bahan mi shirataki," ujarnya.
Menurutnya, porang menggandung tinggi glukoma, dan di Indonesia belum banyak yang mengetahuinya. Bahkan, belum ada pabrik pengolahanya.
Porang sendiri, baginya, sudah menjadi emas hitam. Sebab, selain kataknya, umbinya juga bisa dijual.
Satu pohon porang rata-rata menghasilkan katak 10 buah. Dalam satu kilo sekitar 5-6 katak. Kini, katak segar dibanderol Rp190.000 per kilo.
"Nanti kalau sudah dikarantina sebulan itu bisa mencapai Rp250.000 rupiah. Pas musim tanam bisa tembus di angka Rp500.000 sekilo. Belum lagi umbinya yang saat ini mencapai Rp15.000 per kilo, dengan asumsi satu pohon umbinya mencapai 1,5-5 kilo," tuturnya.