"Di sana provitas mencapai 7,5 ton per ha. Untuk di Kabupaten Blora yang merupakan sentra jagung terbesar kedua Jawa Tengah setelah Kabupaten Grobogan, luas panen pada bulan Januari-Maret 2019 mencapai 26.977 ha dengan produksi jagung kurang lebih 157 ribu ton," ujarnya.
Sri menambahkan, masa panen raya ini mampu menurunkan harga jagung kadar air 15-17 persen yang semula Rp5.500 per kg menjadi Rp4.200-Rp4.600 per kg. Di Semarang, harganya juga turun menjadi Rp4.400 dari harga semula Rp5.600 per kg.
"Jadi kondisi panen raya jagung di mana-mana ini telah direspons dengan baik oleh perusahaan pakan ternak (feedmill) yang sebagian besar melaporkan adanya penurunan harga pakan, baik pakan broiler maupun layer," ucap Sri.
Berdasarkan laporan dari perwakilan masing-masing feedmill, kata dia, telah terjadi penurunan harga pakan broiler antara Rp100-Rp300 per kg, sedangkan pakan layer turun antara Rp150-Rp300 per kg.
Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto berharap adanya kontinuitas pasokan jagung, terutama saat musim kemarau. Hal itu perlu dilakukan untuk menjamin tidak ada penurunan pasokan jagung yang berpengaruh pada harga pakan.
"Stabilitas harga jagung ini diharapkan akan menciptakan stabilitas harga produk komoditas peternakan, yaitu daging dan telur, sehingga daya beli konsumen terjaga, dan pada akhirnya mampu menekan angka inflasi," ujar dia.